Rudal Iran yang digunakan untuk lakukan serangan ke lawan. Foto: Press TV
Ilegal Lintasi Selat Hormuz, Iran Lepaskan Tembakan Peringatan ke Dua Kapal
Fajar Nugraha • 16 July 2026 11:35
Teheran: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan telah melepaskan tembakan peringatan ke arah dua kapal dagang yang mencoba melintasi kawasan strategis Selat Hormuz tanpa izin resmi dalam 24 jam terakhir.
Berdasarkan data dari perusahaan intelijen maritim Kpler, sembilan dari sebelas kapal yang transit melewati Selat Hormuz pada Selasa, 14 Juli memilih untuk mengambil jalur pelayaran yang dekat dengan wilayah perairan Iran.
Armada kapal tersebut utamanya terlibat dalam aktivitas pengangkutan minyak mentah, produk minyak bumi, gas cair, metanol, serta bijih besi, yang seluruhnya terikat dengan jalur perdagangan maritim komoditas Iran. Pihak Kpler menjabarkan bahwa sebagian besar kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut kini mematuhi aturan dengan menggunakan rute yang telah ditetapkan oleh otoritas Teheran.
Tindakan tegas dari pasukan IRGC ini mencuat bersamaan dengan laporan Otoritas Selat Teluk Persia (PGSA) yang mencatat lebih dari 200 kapal non-Iran telah berkoordinasi dengan pihak otoritas untuk transit. Koordinasi tersebut terhitung dalam tiga minggu terakhir sejak penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad antara Teheran dan Washington.
Lembaga PGSA sendiri sengaja didirikan sebagai bagian dari upaya terpadu Iran untuk memperketat kontrol terhadap arus pelayaran di dalam dan sekitar selat, menyusul pecahnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran pada akhir Februari lalu.
Perkembangan situasi di lapangan ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang terus meruncing, yang dipicu oleh rentetan pelanggaran berulang oleh AS terhadap Nota Kesepahaman tertanggal 17 Juni tersebut.
Pada 7 Juli lalu, pihak Washington secara sepihak mencabut izin yang mengotorisasi penjualan minyak Iran serta meluncurkan serangan udara ke posisi militer Iran. Langkah ofensif itu diambil dengan dalih sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sejak saat itu, AS terpantau telah melancarkan beberapa gelombang serangan udara ke dalam wilayah teritorial Iran. Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka mendeklarasikan bahwa gencatan senjata telah berakhir saat menghadiri KTT NATO di Ankara pada 8 Juli.
Kendati telah mengeluarkan deklarasi tersebut, Trump menyatakan bahwa jajaran negosiator Amerika akan tetap melanjutkan proses dialog dengan pihak Iran demi mengupayakan tercapainya kesepakatan damai yang langgeng. Di sisi lain, jajaran pejabat Iran menuduh Washington telah melanggar kesepakatan MoU tersebut secara sistematis.
Perwakilan Tetap Iran untuk PBB mencatat sedikitnya telah terjadi 42 pelanggaran signifikan yang dilakukan oleh pihak AS terhadap poin-poin perjanjian.
Kementerian Luar Negeri Iran menggambarkan rentetan serangan militer AS sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap Pasal Satu Nota Kesepahaman, yang secara tegas mewajibkan penghentian total seluruh operasi militer kedua belah pihak.
Sebagai respons atas pelanggaran berulang dari AS, Teheran menyatakan bahwa mereka kini tidak lagi menganggap diri mereka terikat oleh ketentuan tertentu dalam MoU. Pihak Iran menilai Washington telah sepenuhnya merusak dan membongkar kesepakatan tersebut.
Saat ini, Parlemen Iran dilaporkan tengah meninjau rancangan undang-undang baru untuk meresmikan kontrol penuh Teheran atas jalur pelayaran Selat Hormuz.
Regulasi yang diusulkan tersebut nantinya akan menetapkan kerangka kerja resmi bagi pengelolaan dan tata kelola selat strategis tersebut, sekaligus merefleksikan tekad kuat Iran untuk mempertahankan otoritas penuh mereka atas Selat Hormuz di tengah tekanan militer AS.
(Kelvin Yurcel)