Ilustrasi. Foto: Dok MI
Ketidakpastian Global Tinggi, BI Perkuat Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter
Eko Nordiansyah • 22 July 2026 15:57
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memandang ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang kembali meningkat mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, ketidakpastian global kembali meningkat pasca reeskalasi intensitas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026.
“Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara, serta harga minyak dan berbagai komoditas dunia berbalik naik,” kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 22 Juli 2026.
Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan tetap lemah sebesar tiga persen dan inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen. Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat sebagai respons terhadap makin tingginya tekanan inflasi tersebut.
Suku bunga kebijakan moneter AS atau Fed Funds Rate diperkirakan naik lebih awal pada kuartal IV-2026.
Imbal hasil (yield) US Treasury juga naik tinggi ke level 4,56 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,18 persen untuk tenor dua tahun pada 20 Juli 2026, dan diperkirakan meningkat lagi didorong oleh melebarnya defisit fiskal AS.
Di pasar keuangan global, aliran modal keluar dari negara emerging market beralih ke pasar keuangan AS dan aset yang memberikan imbal hasil tinggi dan aman (safe haven assets), sehingga mendorong penguatan mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).
(1).jpeg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga baik, ditopang oleh permintaan domestik.Perkembangan pada kuartal II 2026 menunjukkan konsumsi pemerintah tumbuh tinggi, ditopang berlanjutnya realisasi program-program prioritas serta percepatan belanja pemerintah, terutama pemberian gaji ke-13 bagi ASN dan penyaluran bantuan sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Konsumsi rumah tangga terjaga, didorong berbagai stimulus pemerintah, seperti bantuan pangan, potongan tarif transportasi, serta program makan dan pelatihan vokasi nasional.
Investasi terutama didukung oleh investasi bangunan terkait realisasi Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), di tengah investasi swasta yang perlu terus ditingkatkan.
Penguatan ekspor
Dari eksternal, kinerja ekspor perlu terus diperkuat guna memanfaatkan tingginya harga komoditas dunia di tengah melambatnya prospek pertumbuhan ekonomi global.Secara sektoral, pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan, konstruksi, transportasi, dan pergudangan tetap baik, sejalan dengan realisasi program-program pemerintah.
Ke depan, implementasi berbagai program prioritas pemerintah untuk mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dari permintaan domestik dan memperkuat struktur pertumbuhan ekonomi akan terus dioptimalkan.
Sejalan dengan itu, BI juga terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 tetap baik, berada dalam kisaran 4,9 persen sampai dengan 5,7 persen,” kata Perry.