Presiden Amerika Serikat Donald Trump. The New York Times
Trump Masih Bela Agen ICE, Sebut Korban Penembakan Seharusnya Tidak Bawa Senjata
Fajar Nugraha • 28 January 2026 10:52
Des Moines: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Selasa, 27 Januari, bahwa Alex Pretti, pria yang tewas ditembak agen federal di Minneapolis, seharusnya tidak membawa senjata api maupun magasin berisi penuh. Pernyataan ini memicu keretakan antara Trump dengan kelompok pendukung hak kepemilikan senjata serta sejumlah politisi Partai Republik.
Saat berbicara kepada media di Iowa, Trump menekankan ketidaksukaannya terhadap fakta bahwa Pretti membawa senjata dalam insiden tersebut.
"Dia memiliki senjata. Saya tidak suka itu. Dia membawa dua magasin penuh. Itu hal yang buruk, dan menurut saya itu sangat disayangkan," ujar Trump, seperti dikutip Channel News Asia, Rabu, 28 Januari 2026.
Selain itu, rekaman video dari saksi mata yang tersebar luas menunjukkan bahwa Pretti sama sekali tidak menyentuh senjatanya sebelum ditembak oleh agen federal. Hal ini membantah klaim awal sejumlah pejabat pemerintah yang menyebut Pretti sebagai ancaman bagi aparat penegak hukum.
Juru bicara Gun Owners of America, Luis Valdes mengatakan, kekecewaannya terhadap sikap Trump. Ia menegaskan bahwa warga negara Amerika memiliki hak konstitusional untuk membawa senjata secara damai, termasuk saat melakukan protes.
"Kami tidak senang dengan komentar terbaru ini," kata Valdes, merujuk pada tradisi historis kepemilikan senjata di AS.
Sikap Trump ini dinilai berisiko secara politik mengingat kelompok pendukung hak senjata adalah salah satu blok pemilih paling loyal bagi Partai Republik, terutama menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Di tengah kontroversi tersebut, Trump menyampaikan bahwa penanggung jawab perbatasan (border czar), Tom Homan, telah bertemu dengan Gubernur Minnesota Tim Walz. Homan juga dijadwalkan bertemu dengan Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, pada Selasa malam untuk membahas situasi keamanan pasca-insiden penembakan tersebut.
Hingga saat ini, Gedung Putih telah melakukan perombakan kepemimpinan di tingkat operasional sebagai respons atas kecaman luas terhadap tindakan agen federal di lapangan.
(Kelvin Yurcel)