NIS 1, lokomotif pertama di Indonesia, mulai bertugas, Semarang, 22 Juni 1865. (tjahjonorailway.blogspot.com)
Sejarah NIS 1 dan NIS 2, Kereta Api Pertama di Indonesia
Riza Aslam Khaeron • 17 September 2026 15:42
Jakarta: Hari Kereta Api Nasional akan diperingati pada Senin, 28 September 2026, sekaligus menandai 81 tahun perjalanan PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Tanggal 28 September dipilih untuk mengenang pengambilalihan kekuasaan kereta api dari tangan Jepang oleh para pekerja kereta api Indonesia pada Jumat, 28 September 1945. Namun, lokomotif telah beroperasi di wilayah Nusantara delapan dekade sebelum peristiwa sejarah tersebut.Lokomotif pertama di Indonesia adalah NIS 1 dan NIS 2, dua lokomotif uap buatan pabrikan Borsig di Berlin, Jerman. Keduanya diproduksi pada 1864 untuk Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta pertama yang membangun jaringan rel di Hindia Belanda.
Berikut sejarah perjalanan kereta api pertama yang beroperasi di tanah air.
Sejarah NIS 1 dan NIS 2

Foto: X/@KAI121
Ketika pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa masih dalam tahap persiapan, NISM memesan dua unit lokomotif kepada Borsig pada 1863 yang kemudian diberi nomor operasional NIS 1 dan NIS 2. NISM sebelumnya telah memperoleh konsesi untuk membangun jaringan kereta api dari Semarang menuju wilayah Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta) pada 1861.
Pembangunan jalur tersebut selesai tujuh tahun kemudian pada 1873, sedangkan lintasan kereta api pertama di Indonesia yang menghubungkan Semarang dan Tanggung diresmikan pada 10 Agustus 1867.
Borsig sendiri merupakan perusahaan industri yang didirikan oleh August Borsig di Berlin, Jerman pada 1837. Produk buatan pabrikan ini telah banyak digunakan oleh perusahaan kereta api Belanda saat itu. Borsig menyelesaikan lokomotif pertamanya pada 1841 dan berkembang menjadi salah satu produsen lokomotif terbesar di dunia pada abad ke-19.
Berdasarkan tulisan Tjahjono Rahardjo, Dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata di blogspot pribadinya, kedua lokomotif ini awalnya ditujukan untuk melayani jalur Kedungjati – Willem I (Ambarawa).
Ketika tiba di Hindia Belanda pada Kamis, 22 Juni 1865, kedua lokomotif tersebut utamanya digunakan untuk mempercepat proses konstruksi dan melatih personel, mengingat jalur kereta api masih dalam tahap pembangunan.
Tjahjono juga mengutip Liem Thian Joe dalam bukunya Riwayat Semarang (1933), yang mencatat bahwa saat moda transportasi ini pertama kali hadir di Hindia Belanda, masyarakat lokal menyambutnya dengan rasa kagum sekaligus takut.
“Baik masyarakat pribumi maupun Tionghoa percaya bahwa lokomotif itu digerakkan oleh kekuatan…… setan,” tulis Thian Joe, mengutip Tjahjono.
Spesifikasi Dasar NIS 1 dan NIS 2
Dokumentasi mengenai kedua lokomotif generasi pertama ini terbilang sangat terbatas. Berdasarkan catatan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), kereta api generasi awal yang beroperasi di Indonesia umumnya bertenaga uap dengan memanfaatkan pembakaran kayu jati di dalam tungku lokomotif karena baranya yang tahan lama.Merujuk pada buku De Stoomtractie op Java en Sumatra (1982) karya J.J.G. Oegema, NIS 1 dan NIS 2 merupakan jenis lokomotif uap tangki dengan susunan roda 0-4-2T berdasarkan sistem Whyte.
Angka “0” menandakan lokomotif tidak memiliki roda pengarah di bagian depan, angka “4” berarti terdapat empat roda penggerak pada dua gandar, sedangkan angka “2” menunjukkan dua roda penopang di bagian belakang. Huruf “T” mengindikasikan tank locomotive. Pasokan air untuk ketel serta bahan bakar ditampung dalam tangki yang menyatu dengan badan lokomotif, sehingga tidak memerlukan tender terpisah.
Disusul Lokomotif NIS 3 hingga NIS 6
Seiring perluasan jaringan rel, dua lokomotif Borsig tersebut tidak lagi menjadi armada tunggal NIS. Pada 1866, perusahaan mendatangkan empat unit lokomotif tambahan buatan Beyer, Peacock and Company dari Manchester, Inggris. Armada baru ini diberi nomor operasional NIS 3 hingga NIS 6.
Tidak seperti dua lokomotif pendahulu mereka, keempat lokomotif tersebut diberi nama resmi, yakni NIS 3 (J.P. de Bordes), NIS 4 (Merapi), NIS 5 (Merbaboe), dan NIS 6 (Lawoe). Setelahnya, NIS terus menambah berbagai armada lokomotif untuk melayani jaringan rel yang semakin membentang di Jawa.
Berbeda dengan sejumlah lokomotif uap generasi berikutnya yang masih tersimpan di museum atau dioperasikan sebagai kereta wisata, tidak ada satu pun unit dari dua lokomotif generasi pertama tersebut yang selamat di masa kini.