Personel Koops TNI Habema mengevakuasi korban yang berada di dalam mobil yang terbakar di wilayah Danau Habema, Papua Pegunungan, Rabu (16/9/2026). ANTARA/Ho-Pen Koops Habema
13 Tahun Mengabdi di Tanah Papua, Perjalanan Aris Sanda Berakhir Tragis Dibakar KKB
Lina Herlina • 16 September 2026 20:58
Jayawijaya: Selama 13 tahun, Aris Sanda alias Bapak Tasya menjalani profesinya sebagai sopir di wilayah pegunungan tengah Papua. Pria asal Toraja Utara, Sulawesi Selatan, itu menghabiskan sebagian perjalanan hidupnya melintasi jalur berat untuk mengangkut penumpang, barang, hingga kebutuhan logistik masyarakat.
Sejak 2013 hingga 2026, Aris menjalani aktivitasnya di sejumlah jalur di Kabupaten Jayawijaya, Nduga, dan wilayah sekitarnya. Medan yang sulit tidak menghalanginya untuk tetap menjalankan pekerjaan sebagai pengemudi lintas wilayah.
Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan tengah Papua, Aris dikenal sebagai pengemudi yang telah lama melayani perjalanan di wilayah tersebut. Selama bertahun-tahun, ia melintasi jalur dengan kondisi medan dan cuaca yang menantang.
Perjalanan panjang itu berakhir tragis setelah Aris ditemukan meninggal dunia dalam kondisi terbakar bersama kendaraan angkutannya di kawasan Danau Habema, Gunung Boy, Distrik Trikora, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Aris lahir di Tawau, Kalimantan, pada 9 September 1985. Sejak 2013, ia mencari nafkah sebagai pengemudi travel atau lajur di sejumlah rute dengan medan berat.
"Kalau tidak salah dia sudah tinggal di sana bersama keluarganya. Belum ada info kapan jenazah dipulangkan, apakah tetap di Papua sana atau di Toraja," kata Jufri, kerabat korban, Rabu, 16 September 2026.
Selama menjalankan pekerjaannya, Aris menghadapi perjalanan dengan medan sulit, kondisi cuaca ekstrem, serta situasi keamanan di wilayah yang dilaluinya. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan masyarakat yang selama ini menggunakan jasa angkutannya.
Kendaraan Dihentikan Kelompok Bersenjata
Sebelum ditemukan meninggal dunia, kabar mengenai Aris sempat beredar melalui media sosial. Video penyanderaan dirinya beredar setelah diunggah kelompok bersenjata yang disebut dalam sumber sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya dari Kodap III Ndugama pada Selasa, 15 September 2026.
Sehari setelah video tersebut beredar, kabar mengenai kondisi Aris terungkap. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia bersama kendaraan yang terbakar di kawasan Danau Habema.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Wirya Arthadiguna menjelaskan peristiwa tersebut bermula ketika rombongan kendaraan yang membawa korban dihentikan kelompok bersenjata saat melayani perjalanan logistik dan penumpang dari Wamena menuju Mbua.
“Kelompok tersebut melakukan pemeriksaan terhadap penumpang dan pengemudi. Para penumpang kemudian dipersilakan kembali ke Wamena, sementara sang sopir dibawa menuju kawasan danau,” jelas Letkol Wirya.
Aris kemudian ditemukan meninggal dunia bersama kendaraan angkutannya di kawasan Danau Habema. Kematian Aris menambah duka keluarga besar masyarakat Toraja di Papua. Dalam sepekan terakhir, dua warga Toraja dilaporkan meninggal dunia dalam insiden yang melibatkan kelompok bersenjata.

Salah satu dari dua anggota KKB yang teridentifikasi dan merupakan anggota KKB Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya. ANTARA/HO-Satgas Operasi Damai Cartenz
Selain Aris, terdapat Aprida Rapi, aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, yang meninggal dunia setelah ditembak saat menjalankan tugas kedinasan. Aprida saat itu sedang menjalankan kegiatan penyaluran bantuan pertanian berupa bibit ternak babi kepada masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya Hendri Tetelepta mengatakan Aprida sebelumnya menghadap dirinya untuk menyampaikan rencana penyaluran bantuan tersebut.
Pada Rabu, 9 September 2026, sekitar pukul 10.30 WIT, Aprida menyampaikan rencana pembagian bantuan. Sekitar pukul 13.30 WIT, informasi mengenai penembakan di Distrik Muliama mulai diterima.
Jenazah Aprida selanjutnya dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Jenazah tiba pada Sabtu, 12 September 2026, pagi.