Tiongkok Tegaskan Komitmen Perkuat Kemitraan Strategis dengan Indonesia

Kuasa Usaha Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, Zhou Kan. Foto: Metrotvnews.com

Tiongkok Tegaskan Komitmen Perkuat Kemitraan Strategis dengan Indonesia

Harianty • 23 September 2026 12:16

Jakarta: Kuasa Usaha Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia, Zhou Kan menegaskan komitmen negaranya untuk terus memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif dengan Indonesia di berbagai bidang.

Hal itu disampaikan Zhou dalam sambutannya pada perayaan Hari Nasional ke-77 Republik Rakyat Tiongkok di Jakarta, Selasa 22 September 2026 malam.

Zhou mengatakan hubungan Tiongkok dan Indonesia terus berkembang dalam satu tahun terakhir, ditandai dengan kemajuan kerja sama di bidang politik, ekonomi, maritim, keamanan, hingga pertukaran antarmasyarakat.

"Tiongkok dan Indonesia merupakan negara tetangga dan mitra yang baik dengan masa depan bersama," ujar Zhou.

Di bidang politik, menurut dia, Mekanisme Dialog Strategis Komprehensif Tiongkok-Indonesia telah resmi diluncurkan di Jakarta. Kedua negara juga telah menggelar pertemuan tingkat menteri dalam format dialog "2+2".

Zhou mengatakan, peningkatan interaksi tingkat tinggi antara kedua negara turut memperkuat kepercayaan dan mendorong kerja sama di berbagai bidang prioritas.

"Tiongkok siap bekerja sama dengan Indonesia untuk melaksanakan kesepahaman strategis yang telah dicapai oleh kedua Presiden, memperdalam kepercayaan politik, serta memperluas kerja sama praktis," kata Zhou.

Tiongkok, kata Zhou, juga mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk berkunjung ke Tiongkok pada November mendatang guna menghadiri Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC.

Dalam bidang ekonomi, Zhou mengatakan Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia dan salah satu sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia.

Ia menyoroti penerbitan panda bonds oleh Indonesia di Tiongkok untuk pertama kalinya sebagai terobosan baru dalam kerja sama keuangan kedua negara.

"Indonesia untuk pertama kalinya menerbitkan panda bonds di Tiongkok, yang menandai terobosan baru dalam kerja sama keuangan," ujar Zhou.

Selain itu, Indonesia telah bergabung sebagai anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization yang diinisiasi Tiongkok.

Dalam bidang pertukaran antarmasyarakat, Zhou menyebut lebih dari 1,11 juta warga negara Tiongkok mengunjungi Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026.

"Tiongkok kini menjadi sumber wisatawan internasional terbesar kedua bagi Indonesia," katanya.

Jumlah penerbangan langsung antara Tiongkok dan Indonesia juga telah meningkat menjadi 264 penerbangan per minggu. Sementara itu, Institut Konfusius ke-10 di Indonesia resmi dibuka di Universitas Negeri Padang (UNP).

Untuk kerja sama maritim, Zhou mengatakan kedua negara terus mendorong kerja sama pengembangan maritim. Kerja sama perikanan bilateral juga akan diluncurkan di Provinsi Maluku dalam waktu dekat.

Di bidang keamanan, kerja sama pertahanan dan penegakan hukum kedua negara juga terus diperdalam.

Zhou menyebut Menteri Pertahanan Indonesia Sjafrie Sjamsoeddin menghadiri Forum Xiangshan Beijing pekan lalu dan kedua pihak mencapai sejumlah kesepahaman mengenai kerja sama.

"Kedua angkatan bersenjata telah mencapai hasil baru dalam latihan bersama, pelatihan personel, dan kunjungan timbal balik kapal angkatan laut," katanya.

Zhou juga menyebut kapal perang Tiongkok dan Indonesia telah melaksanakan latihan navigasi bersama di perairan sebelah timur Pulau Taiwan pada bulan lalu.

Ke depan, Zhou mengatakan Tiongkok siap mendorong hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi.

"Tiongkok siap memajukan Kemitraan Strategis Komprehensif Tiongkok-Indonesia ke taraf yang lebih tinggi lagi serta bekerja sama mewujudkan komunitas Tiongkok-Indonesia dengan masa depan bersama," kata dia.

Sementara itu, dari sisi ekonomi global, Zhou mengatakan perekonomian Tiongkok pada paruh pertama 2026 tumbuh 4,7 persen secara tahunan.

Menurutnya, pertumbuhan tersebut menjadi awal yang baik bagi pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok.

"Tiongkok terus memberikan kontribusi lebih dari 30 persen terhadap pertumbuhan ekonomi global dan telah menjadi salah satu penopang penting perekonomian dunia," ujar Zhou.

Ia mengatakan kontribusi tersebut tetap diberikan di tengah berbagai tantangan global, termasuk konflik, gejolak ekonomi, kekurangan energi, dan inflasi di sejumlah negara.

(Fajar Nugraha)