Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Stella Christie. Foto: Metrotvnews.com
Sains dan Teknologi Jadi Pilar Baru Kemitraan Strategis Indonesia-Tiongkok
Fajar Nugraha • 24 June 2026 11:30
Jakarta: Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Stella Christie , mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk membawa hubungan kerja sama dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ke arah yang lebih tinggi, dengan fokus pada pengembangan industri berbasis sains dan teknologi.
Dalam pidatonya pada Rabu 24 Juni 2026 di acara Tiongkok-Indonesia Think Tank and Media Forum, Wamen Stella menyebutkan Langkah strategis ini diambil bertepatan dengan tahun terakhir implementasi Rencana Aksi Penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif (2022-2026) kedua negara.
Wamen Stella menguraikan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan modal manusia, khususnya di bidang sains dan teknologi. Visi masa depan ini sejalan dengan rekam jejak Tiongkok yang dinilai sukses mentransformasi ekonominya lewat inovasi teknologi.
"Dari perspektif kami, saya pikir salah satu strategi masa depan yang sangat penting adalah kolaborasi skala besar antara akademisi dan industri demi pertumbuhan ekonomi Indonesia-Tiongkok yang saling menguntungkan," ujar Wamen Stella dalam forum tersebut.
Ia menambahkan bahwa fokus hubungan bilateral kini tidak lagi sekadar tentang perdagangan komoditas biasa, melainkan diarahkan pada pengembangan ekonomi, industri, dan manufaktur di dalam negeri yang berbasis pada penguasaan sains.
Dalam pidatonya, Wamen Stella memaparkan data mengenai bagaimana klaster inovasi dan teknologi di Tiongkok mampu berkontribusi hingga 13,4 persen terhadap total PDB negara tersebut, meskipun hanya menggunakan 2,5 persen dari total lahan konstruksi nasional. Menurutnya, efisiensi berbasis sains seperti inilah yang menjadi cetak biru bagi arah kemitraan baru Indonesia ke depan.
Sebagai bagian dari implementasi draf kerja sama tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus memperluas dua program utama yang telah berjalan.
Program pertama berfokus pada kurikulum pendidikan vokasi yang diselaraskan langsung dengan kebutuhan industri dan investasi infrastruktur dari perusahaan-perusahaan Tiongkok di Indonesia. Melalui skema ini, salah satu provinsi di Tiongkok bahkan tercatat telah menampung hingga 12.000 mahasiswa asal Indonesia.
Program kedua adalah pengembangan talenta terbaik melalui proyek prioritas presiden, yakni Sekolah Garuda. Wamen Stella mengungkapkan bahwa universitas-universitas terbaik di Tiongkok telah memberikan kuota khusus sebanyak 50 kursi untuk melatih siswa-siswa terbaik Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Saat ini, tercatat ada 1.146 dokumen kerja sama aktif yang terjalin antara Indonesia dengan berbagai mitra universitas di Tiongkok.
Di akhir pemaparannya, Wamen Stella menegaskan bahwa esensi dari kemitraan strategis komprehensif pada akhirnya bertumpu pada hubungan antarmasyarakat. Ia menyebutkan bahwa rekan-rekan akademisi maupun pelaku industri di Indonesia sangat mengapresiasi pola kerja sama dengan pihak Tiongkok.
"Mereka sangat mengapresiasi kolaborasi dengan Tiongkok, karena kolaborasi dengan Tiongkok selalu berarti tindakan yang konkret," pungkas Wamen Stella menutup pidatonya.
(Kelvin Yurcel)