Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Paus Leo Harap Perang Benar-Benar Berakhir

Paus Leo XIV sambut baik kesepakatan gencatan senjata baru AS-Iran. Foto: Anadolu

Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran, Paus Leo Harap Perang Benar-Benar Berakhir

Fajar Nugraha • 17 June 2026 08:45

Kota Vatikan: Paus Leo XIV menyampaikan harapan baik yang disertai sikap berhati-hati pada Selasa, 16 Juni, terkait kesepakatan gencatan senjata baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pemimpin Gereja Katolik Dunia tersebut menilai kesepakatan ini dapat membantu mengakhiri perseteruan, serta mendesak kedua belah pihak untuk terus mengedepankan dialog ketimbang kembali menyulut konflik bersenjata.

Berdasarkan laporan resmi Vatican News, Paus menyambut baik kemajuan diplomasi yang dicapai baru-baru ini dengan menyampaikan rasa syukurnya atas keberadaan nota kesepahaman yang dijadwalkan akan ditandatangani secara resmi pada hari Jumat mendatang.

"Puji Tuhan, setidaknya ada Memorandum ini yang akan mereka tanda tangani secara resmi pada hari Jumat," ujar Paus Leo, seperti dikutip Anadolu, pada Rabu, 17 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa meskipun masih ada beberapa poin yang harus ditetapkan dan diselesaikan, menempuh jalur perundingan jauh lebih baik daripada kembali ke medan perang.

"Masih akan ada beberapa poin yang harus ditetapkan, tetapi selalu lebih baik melakukannya melalui dialog, melalui negosiasi, daripada kembali ke medan perang," tambah Paus Leo.

Paus Leo menyatakan harapan besarnya agar kesepakatan damai ini mampu menjadi titik balik yang krusial untuk menyudahi konflik berkepanjangan tersebut. Ia berharap nota kesepahaman tersebut dapat menjadi solusi nyata demi mengakhiri perang secara total, sehingga semua pihak dapat bergerak maju demi kebaikan bersama dengan menghapus senjata nuklir serta menyelesaikan krisis ekonomi dan sosial.

"Benar-benar menjadi solusi bagi perang, agar perang benar-benar berakhir dan kita dapat bergerak maju demi kebaikan semua orang. Menghapuskan senjata nuklir, ya, mencari kebaikan bagi semua bangsa, mencari cara menyelesaikan masalah di tingkat ekonomi dan sosial yang telah tercipta selama masa ini," tutur Paus Leo.

Dalam kesempatan yang sama, Paus Leo juga turut memberikan komentar mengenai isu migrasi global dengan menegaskan kembali seruannya untuk selalu menghormati martabat manusia serta menerapkan pendekatan yang lebih berbelas kasih terhadap para pengungsi. Ia mengkritik keras sikap sejumlah pihak yang enggan memahami alasan mendasar di balik keputusan para pengungsi meninggalkan tanah air mereka, seperti akibat faktor kekerasan, perang, dan konflik horizontal.

"Sering kali kita tidak mengenali alasan mengapa orang-orang ini harus meninggalkan negara mereka. Begitu banyak alasan: kekerasan, perang, konflik. Dan hanya dengan mengatakan, 'Mari kita usir mereka, agar kita bisa lepas tangan dari masalah ini' menurut saya bukan respons yang paling Kristen. Kita harus benar-benar menghormati orang—lihat kasusnya, dan terutama perlakukan orang sebagai manusia dengan rasa hormat," tegasnya.

Paus mengaitkan isu pengungsi tersebut dengan perdebatan yang lebih luas di Benua Eropa pasca-perkembangan kebijakan migrasi terbaru, seraya mendesak jajaran pemerintah negara-negara Eropa untuk fokus pada solusi kemanusiaan yang berakar pada dialog dan solidaritas antarbangsa.

Sebelumnya pada pekan ini, Amerika Serikat dan Iran mengumumkan telah mencapai nota kesepahaman untuk mengakhiri perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Poin kesepakatan tersebut juga mewajibkan penarikan mundur seluruh pasukan militer Israel dari wilayah kedaulatan Lebanon.

Di saat Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perjanjian tersebut sebenarnya telah ditandatangani dan Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya pada hari Jumat, pihak Teheran hanya mengonfirmasi bahwa penandatanganan nota kesepahaman itu baru dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss, pada hari Jumat mendatang.

Berdasarkan data statistik resmi terbaru dari otoritas Lebanon, militer Israel telah menggulirkan operasi militer secara masif di Lebanon sejak 2 Maret lalu, yang mengakibatkan ribuan orang tewas dan luka-luka serta memaksa lebih dari satu juta warga setempat mengungsi.

Hingga saat ini, Israel tercatat masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, di mana beberapa area telah dikuasai selama beberapa dekade dan sebagian lainnya diduduki sejak perang periode 2023–2024, dengan penetrasi militer yang maju lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon pada konflik kali ini.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)