8 Rekomendasi Tempat Wisata Sejarah untuk Rayakan HUT ke-81 RI

Rumah Proklamasi lengkap dengan Tugu Proklamasi sekitar tahun 1950-1960 di Jalan Pegangsaan Timur. Kedua bangunan tersebut telah dihancurkan dan menjadi bagian dari kompleks Tugu Proklamasi saat ini. (Dok. Kementerian Penerangan/Wikimedia Commons)

8 Rekomendasi Tempat Wisata Sejarah untuk Rayakan HUT ke-81 RI

Riza Aslam Khaeron • 7 August 2026 19:29

Jakarta: Indonesia akan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.

Pada tahun ini, pemerintah mengusung tema besar “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” untuk menyemarakkan peringatan hari bersejarah tersebut.

Momentum 17 Agustus tak hanya sebatas dirayakan lewat upacara bendera maupun semarak perlombaan. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan bangsa menuju dan mempertahankan kemerdekaan bisa menjadi pilihan menarik untuk mengisi waktu libur.

Sejumlah destinasi di tanah air hingga kini masih menyimpan rekam jejak peristiwa penting pada tahun 1945 maupun era pergerakan sebelumnya. Mulai dari lokasi pembacaan Proklamasi, rumah singgah Soekarno-Hatta sebelum kemerdekaan diumumkan, hingga medan pertempuran dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.

Berikut delapan rekomendasi tempat wisata sejarah yang patut Anda kunjungi dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI:
 

1. Taman Proklamasi, Jakarta


Tugu Proklamasi. (Gunawan Kartapranata/Wikimedia Commons)

Taman Proklamasi merupakan salah satu lokasi yang paling lekat dengan momen kelahiran Republik Indonesia. Area yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat ini dulunya merupakan kediaman Bung Karno yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.

Di lokasi inilah Soekarno, dengan didampingi Mohammad Hatta, membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Kini, para pengunjung dapat menyaksikan langsung sejumlah monumen megah yang didirikan untuk memperingati peristiwa bersejarah tersebut, seperti Tugu Proklamasi dan Monumen Proklamator. Destinasi ini sangat cocok dijadikan lokasi napak tilas untuk merasakan kembali atmosfer lahirnya tanah air sebagai negara merdeka.
 

2. Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jakarta


Sumber: Wikimedia Commons

Sebelum disuarakan di Pegangsaan Timur, naskah Proklamasi terlebih dahulu dirumuskan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda, yang kini difungsikan sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Bangunan bersejarah di Jalan Imam Bonjol Nomor 1 ini menjadi saksi saat Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo berkumpul merumuskan poin-poin Proklamasi, tak lama setelah mereka tiba kembali dari Rengasdengklok pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945.

Sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, ketiganya menuntaskan draf naskah tersebut. Soekarno menuliskan konsep naskah secara manual, sementara Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan ide pemikiran secara lisan. Naskah yang telah disepakati bersama itu kemudian diketik rapi oleh Sayuti Melik.
 

3. Rumah Sejarah Rengasdengklok, Karawang


Rumah Sejarah Rengasdengklok

Kawasan Rengasdengklok memegang peranan penting dalam rangkaian peristiwa menuju 17 Agustus 1945.

Di wilayah ini berdiri Rumah Sejarah Djiaw Kie Siong, tempat dilarikannya Soekarno dan Mohammad Hatta oleh deretan tokoh pemuda. Aksi pengamanan ini dipicu oleh perbedaan pandangan yang tajam antara golongan muda dan golongan tua mengenai waktu mengeksekusi Proklamasi.

Golongan muda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa perlu menunggu persetujuan atau sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Setelah Ahmad Soebardjo tiba dan memberikan jaminan penuh bahwa Proklamasi akan dilaksanakan keesokan harinya, Soekarno dan Hatta akhirnya diizinkan kembali ke Jakarta.

Selain mengunjungi Rumah Sejarah, wisatawan juga dapat melipir ke Tugu Kebulatan Tekad yang lokasinya tak jauh dari kawasan Rengasdengklok.
 

4. Hotel Majapahit, Surabaya


Sumber: Wikimedia Commons

Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya ini, tak hanya memikat karena arsitektur kolonialnya yang anggun. Tempat yang sempat berganti nama dari Hotel Oranje menjadi Hotel Yamato ini merupakan panggung utama salah satu aksi heroik paling tersohor pasca-kemerdekaan.

Pada 19 September 1945, gejolak perlawanan meletus ketika para pemuda Surabaya nekat memanjat menara hotel untuk merobek warna biru pada bendera Belanda. Aksi tersebut menyisakan warna merah dan putih yang berkibar gagah di udara.

Insiden itu dipicu oleh pengibaran bendera Belanda secara sepihak oleh pihak Sekutu/NICA di hotel tersebut.

Bangunan hotel ini masih berdiri kokoh hingga hari ini di Jalan Tunjungan, menjadikannya destinasi bernilai tinggi untuk mengenang keberanian rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
 

5. Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember, Surabaya


Tugu Pahlawan. (Wikimedia Commons)

Masih di Kota Pahlawan, agenda wisata sejarah dapat dilanjutkan ke kompleks Tugu Pahlawan dan Museum Sepuluh Nopember.

Tugu Pahlawan dibangun sebagai penghormatan setinggi-tingginya atas pengorbanan rakyat Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945, saat mereka membendung gempuran pasukan Sekutu beberapa bulan usai Indonesia merdeka.

Sementara itu, Museum Sepuluh Nopember yang berada di kawasan bawah tanah kompleks ini menyajikan alur cerita pertempuran secara runtut dan kronologis.

Koleksinya sangat kaya, mulai dari artefak peninggalan perang, diorama interaktif, dokumentasi sejarah, hingga materi audiovisual seputar perjuangan arek-arek Suroboyo.
 

6. Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta


Sumber: Kementerian Kebudayaan.

Museum Benteng Vredeburg menjadi salah satu tujuan utama bagi siapa saja yang ingin mendalami liku-liku masa Revolusi Fisik Indonesia.

Benteng yang berdiri anggun di pusat Kota Yogyakarta ini memamerkan deretan diorama detail mengenai sejarah perjuangan nasional.

Salah satu yang paling menonjol adalah Diorama II, yang menggambarkan linimasa peristiwa sejak detik-detik Proklamasi Kemerdekaan 1945 hingga meletusnya Agresi Militer Belanda I pada 1947.

Di museum ini, pengunjung dapat mempelajari cikal bakal pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), konsolidasi kekuatan militer Republik, hingga intrik politik dan pertempuran pada masa-masa awal mempertahankan kemerdekaan.
 

7. Gedung Agung, Yogyakarta


Sumber: Wikimedia Commons

Yogyakarta memegang peranan vital dalam menyelamatkan kedaulatan Republik Indonesia. Ketika situasi keamanan di Jakarta memburuk akibat intimidasi sekutu, ibu kota Indonesia secara resmi dipindahkan ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.

Gedung Agung pun difungsikan sebagai Istana Negara sekaligus pusat pemerintahan dan kediaman resmi Presiden Soekarno.

Bangunan ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting selama masa revolusi. Salah satunya adalah momen bersejarah saat Jenderal Sudirman dilantik sebagai Panglima Besar TNI pada tahun 1947. Gedung ini juga menjadi saksi penangkapan Soekarno dan Hatta sewaktu Belanda melancarkan Agresi Militer II.

Bendera Pusaka Merah Putih bahkan sempat diboyong dari Jakarta ke Yogyakarta pada 1946 dan dikibarkan di halaman Gedung Agung.
   

8. Rumah Pengasingan Bung Karno, Bengkulu


Sumber: Wikimedia Commons

Jejak panjang perjuangan kemerdekaan juga dapat ditelusuri jauh sebelum momen 17 Agustus 1945, salah satunya melalui Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu.

Bung Karno pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bengkulu pada kurun waktu 1938 hingga 1942. Rumah sederhana ini menjadi pusat aktivitas beliau selama pengasingan, mulai dari kegiatan politik, pembinaan organisasi, hingga karya kesenian.

Mengunjungi rumah ini menyajikan perspektif mengenai perjuangan Soekarno sebagai tokoh pergerakan nasional, sebelum akhirnya bersama Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

(Riza Aslam Khaeron)