Zulhas: Pirolisis Didorong Jadi Pelengkap PSEL Olah Sampah Jadi Energi

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Foto: MI/Naufal Zuhdi.

Zulhas: Pirolisis Didorong Jadi Pelengkap PSEL Olah Sampah Jadi Energi

Husen Miftahudin • 9 August 2026 10:31

Jakarta: Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis sebagai pelengkap Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk mempercepat penanganan sampah nasional.

Menurut Zulhas, sapaan akrabnya, kapasitas PSEL yang tengah dikembangkan belum mampu menangani seluruh timbulan sampah. Pemerintah pun mendorong pemanfaatan teknologi lain yang dapat mengolah sampah menjadi sumber energi.

"Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara biasa. Kita membutuhkan percepatan melalui intervensi teknologi. Karena itu, selain pembangunan PSEL, pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi pirolisis agar semakin banyak sampah yang dapat diolah menjadi energi," kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta seperti dikutip dari Antara, Minggu, 9 Agustus 2026.

Zulhas mengatakan implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 turut mempercepat pembangunan PSEL di sejumlah daerah. Menurut dia, Indonesia nantinya memiliki 13 lokasi PSEL. Salah satunya berada di Kota Palembang dan ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026.

Namun, kapasitas seluruh PSEL tersebut diperkirakan baru mampu menangani sekitar 22 persen timbulan sampah nasional. Kondisi ini membuat pemerintah membutuhkan teknologi pengolahan tambahan.
 

 

Pirolisis olah sampah jadi bahan bakar


Salah satu teknologi yang didorong pemerintah ialah pirolisis. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengolah sampah yang telah menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA) menjadi bahan bakar terbarukan setara solar.

Pemerintah memperkirakan pemanfaatan teknologi pirolisis secara lebih luas berpotensi membantu menangani sekitar 20 persen persoalan sampah nasional.

Pengembangan pirolisis dilakukan melalui kolaborasi dengan TNI Angkatan Darat dan pemerintah daerah. Pemerintah juga mengembangkan proyek percontohan teknologi tersebut di lima wilayah.

Kelima wilayah itu meliputi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Semarang, Kota Bekasi, dan DKI Jakarta. Kolaborasi tersebut turut diarahkan untuk mendukung percepatan Proyek Strategis Nasional PSEL Bogor Raya 1 sekaligus memperluas penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi.


(Ilustrasi tumpukan sampah yang siap diolah menjadi energi listrik. Foto: dok Metrotvnews.com)
 

Pemda mesti dukung pengolahan sampah


Zulhas menilai keberhasilan pembangunan fasilitas pengolahan sampah membutuhkan dukungan pemerintah daerah. Dukungan tersebut mencakup penyediaan lahan, percepatan perizinan, serta kepastian pasokan sampah untuk fasilitas pengolahan.

Percepatan pengolahan sampah juga dinilai diperlukan untuk mengurangi penumpukan sampah di TPA dan mengantisipasi peningkatan risiko kebakaran saat musim kering.

Pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi beban TPA sekaligus meningkatkan nilai guna sampah.

"Kita ingin persoalan sampah tidak hanya selesai, tetapi juga mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan energi bagi masyarakat. Dengan gotong royong dan kerja cepat, target itu dapat kita capai," ucap Zulhas.

(Husen Miftahudin)