100 Armada Khusus Disiapkan Jelang Operasional TPPAS Legok Nangka

Armada pengangkut sampah berspesifikasi khusus disiapkan untuk mendukung perpindahan layanan dari TPA Sarimukti ke TPPAS Legok Nangka. (Metrotvnews.com. Roni Kurniawan)

100 Armada Khusus Disiapkan Jelang Operasional TPPAS Legok Nangka

Roni Kurniawan • 4 August 2026 13:37

Bandung: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai mempersiapkan sistem pengangkutan sampah menuju Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka yang ditargetkan beroperasi pada akhir 2029. Sedikitnya 80 hingga 100 armada pengangkut sampah berspesifikasi khusus disiapkan untuk mendukung perpindahan layanan dari TPA Sarimukti.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Salman Faruq mengatakan, kebutuhan armada menjadi salah satu fokus utama karena Kota Bandung berkomitmen mengirimkan 800-1.000 ton sampah per hari ke TPPAS Legok Nangka sesuai perjanjian yang ditandatangani pada 2021.

"Komitmen Kota Bandung sesuai yang sudah ditandatangani pada 2021 adalah mengirimkan sampah minimal 800 sampai 1.000 ton per hari ke Legok Nangka. Karena itu, kami harus menyiapkan seluruh sarana pendukung, terutama armada pengangkut dan sistem pengelolaan sampah yang sesuai dengan persyaratan di sana," kata Salman di Bandung, Selasa, 4 Agustus 2026.
 


Armada yang disiapkan berbeda dari kendaraan pengangkut sampah ke TPA Sarimukti. Medan menuju Legok Nangka yang didominasi tanjakan mengharuskan penggunaan truk berperforma tinggi dengan sistem tertutup (compactor) agar pengangkutan lebih aman dan mencegah air lindi mencemari lingkungan.

"Armadanya harus benar-benar fit karena akses menuju Legok Nangka cukup menanjak. Selain itu, seluruh armada diharapkan menggunakan sistem tertutup atau compactor sehingga pengangkutan lebih aman, tidak mengganggu lingkungan, dan air lindi dapat tertampung dengan baik," ujar Salman.

Saat ini, sebagian armada telah dimiliki Pemkot Bandung. Namun, jumlah tersebut akan terus ditambah dalam dua hingga tiga tahun mendatang hingga mencapai sekitar 80-100 unit.

Salman mengaku, penambahan armada tidak hanya melalui pengadaan daerah. Tetapi, berpeluang mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui kerja sama dengan Pemerintah Belanda.

"Kami sudah memiliki sebagian armada. Ke depan akan terus ditambah. Bahkan ada rencana bantuan armada tertutup melalui Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Pemerintah Belanda," beber Salman.

Selain menyiapkan armada, DLH juga memperkuat sistem pengelolaan sampah dari hulu. Sampah yang dikirim ke Legok Nangka ditargetkan sampah residu hasil pemilahan sehingga memenuhi standar operasional fasilitas tersebut.

"Kami terus menyiapkan sistem pemilahan. Harapannya, sampah yang masuk ke Legok Nangka benar-benar residu sehingga sesuai dengan ketentuan operasional yang ditetapkan," tegas Salman.


Ilustrasi. Medcom.id


Selama masa transisi menuju operasional Legok Nangka, Pemkot Bandung tetap mengoptimalkan pengurangan sampah sejak dari sumber. Berbagai program dijalankan mulai dari edukasi pengurangan sampah rumah tangga dan kawasan komersial, pengolahan sampah organik, hingga penerapan teknologi pengolahan sampah.

"Selama masa transisi ini, kami terus memaksimalkan pengurangan sampah di tingkat hulu, kemudian pengolahan di tingkat tengah maupun hilir. Tujuannya agar Kota Bandung semakin mandiri dalam mengelola sampah meskipun kuota ke Sarimukti masih dibatasi," ungkap Salman.

Salmam menegaskan, keberadaan Legok Nangka menjadi krusial mengingat kapasitas TPA Sarimukti semakin terbatas. Ketika TPPAS Legok Nangka mulai beroperasi pada 2029, seluruh layanan pembuangan akhir akan dialihkan dan TPA Sarimukti direncanakan ditutup oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

"Kalau Legok Nangka sudah beroperasi, Sarimukti akan ditutup. Memang kondisinya sekarang sudah overload dan usia zona perluasannya juga sangat terbatas. Nantinya seluruh pengiriman sampah akan dialihkan ke Legok Nangka," ungkap Salman.

(Silvana Febiari)