Menlu Sugiono Respons Kritik Dino, Sebut Indonesia Harus Aktif Berdiplomasi

Menteri Luar Negeri Sugiono saat ditemui awak media di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026. (Metrotvnews.com)

Menlu Sugiono Respons Kritik Dino, Sebut Indonesia Harus Aktif Berdiplomasi

Muhammad Reyhansyah • 3 June 2026 21:33

Jakarta: Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan kritik dan saran terhadap kebijakan pemerintah, termasuk terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto, merupakan hal yang baik sebagai bagian dari upaya perbaikan.

Pernyataan itu disampaikan Menlu Sugiono saat merespons saran dan kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

“Saya kira semua saran, semua kritik dalam langkah perbaikan itu bagus, baik. Tentu saja harus konstruktif. Tentu saja juga harus berdasarkan fakta-fakta dan data-data yang saya kira akurat,” ujar Sugiono saat ditemui awak media di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.

Meski demikian, Menlu Sugiono menjelaskan kehadiran Presiden dalam berbagai forum internasional merupakan bagian dari pelaksanaan politik luar negeri Indonesia sebagai negara yang aktif dalam pergaulan global.

Menurut dia, konstitusi menegaskan bahwa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat internasional sehingga memiliki tanggung jawab untuk terlibat dalam berbagai isu global.

“Secara konstitusi tersurat bahwa Indonesia merupakan bagian dari pergaulan internasional, bagian dari masyarakat dunia. Ini menuntut suatu kehadiran di dunia internasional,” katanya.

Prinsip Politik Luar Negeri

Menlu Sugiono menambahkan aktivitas diplomasi Presiden juga sejalan dengan prinsip politik luar negeri yang selama ini disampaikan Prabowo. Menurut dia, Presiden Prabowo berulang kali menegaskan pentingnya membangun persahabatan seluas mungkin dengan negara-negara lain.

“Beliau selalu mengatakan seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ujarnya.

Menlu Sugiono mengatakan prinsip tersebut memiliki konsekuensi bahwa Indonesia harus aktif menjalin komunikasi dan hubungan dengan berbagai negara serta hadir dalam berbagai forum internasional.

“Implementasinya atau konsekuensinya dari ini adalah ya itu tadi, kita harus hadir di banyak tempat. Kita harus berkawan dengan semuanya. Istilahnya kan kita harus gaul,” katanya.

Ia menegaskan seluruh agenda kunjungan luar negeri Presiden direncanakan secara matang dan didahului berbagai pembahasan diplomatik mengenai isu serta prioritas yang perlu diperjuangkan Indonesia.

Keterlibatan Diplomatik yang Aktif 

Menurut Menlu Sugiono, kondisi global saat ini juga menuntut keterlibatan diplomatik yang lebih aktif dibandingkan situasi normal.

Ia menyinggung sejumlah konflik dan ketegangan internasional, termasuk perang di Timur Tengah, yang memerlukan respons serta kehadiran negara-negara seperti Indonesia dalam berbagai upaya penyelesaian.

“Terkait juga dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi saat ini, yang tidak bisa mengikuti jalur-jalur konvensional karena situasinya juga tidak biasa. Timur Tengah perang, banyak juga beberapa titik di dunia ini yang panas,” ujarnya.

Menlu Sugiono mengatakan Indonesia berupaya mengambil peran yang lebih aktif dalam mendorong perdamaian dan ketertiban dunia.

Menurut dia, Indonesia ingin terus menawarkan diri sebagai jembatan dialog di tengah berbagai konflik dan ketegangan internasional yang terjadi saat ini.

“Indonesia ingin terlibat dalam upaya perdamaian dan ketertiban dunia, secara proaktif menawarkan dirinya, menawarkan Indonesia ini untuk jadi jembatan,” tuturnya.

Sebelumnya, Dino mengunggah video pada 30 Mei 2026 yang berisi sejumlah saran terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. 

Dalam video tersebut, Ia mengimbau agar frekuensi perjalanan luar negeri presiden dikurangi dan meminta pemerintah memperhatikan aspirasi publik terkait isu tersebut.

Baca juga:  Menlu Sugiono Pastikan Penyerahan Kredensial Dubes Asing Digelar Pekan Ini

(Willy Haryono)