Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, saat menghadiri film Teman Tegar Maira: Whisper From Papua di NasDem Tower. Foto: Istimewa.
Rerie: Film Jadi Medium Efektif Tanamkan Nilai Kebangsaan
Anggi Tondi Martaon • 5 June 2026 15:15
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie) menilai film menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan kebangsaan, sekaligus membangun kesadaran lingkungan. Hal itu disampaikan Rerie audiensi dan silaturahmi tim film 'Teman Tegar Maira: Whisper From Papua'.
"Hari ini adalah satu kesempatan khusus bagi kami berjumpa dengan teman-teman yang luar biasa, yang melahirkan film Maira. Banyak sekali pesan-pesan yang terkandung di dalam film tersebut," ujar Rerie melalui keterangannya, Jumat, 5 Juni 2026.
Turut hadir dalam silaturahmi tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai NasDem, Siti Nurbaya, Ketua Bidang Migran DPP Partai NasDem, Eva Sundari, dan Ketua Bidang Pariwisata dan Industri Kreatif, Nafa Urbach. Kemudian, anggota Fraksi NasDem DPR RI, Cheroline Chrisye Makalew, serta para pemain, produser, dan sutradara film Maira.
Anggota Komisi X DPR itu mengatakan film menjadi pendekatan yang lebih relevan untuk menjangkau generasi muda yang akrab dengan budaya visual dan naratif. Menurut dia, banyak pesan dalam film Maira yang sejalan dengan semangat Empat Pilar MPR RI, mulai dari nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hingga Bhinneka Tunggal Ika.
Lestari menambahkan, film Maira juga menjadi bagian dari upaya Partai NasDem membangun komunikasi publik melalui pendekatan kebudayaan dan ekonomi kreatif yang dinilai lebih dekat dengan generasi muda.
"Film merupakan sebuah karya yang di dalamnya terdapat pesan, visualisasi, dan narasi yang jauh lebih mudah diterima. Karena itu, film menjadi media yang efektif ketika kita ingin menyampaikan gagasan-gagasan besar dan nilai-nilai yang penting kepada masyarakat," ungkap Rerie.
Sementara itu, sutradara film Maira, Anggi Frisca, mengatakan film tersebut berupaya mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan alam melalui perspektif masyarakat adat Papua yang hidup berdampingan dengan hutan.
"Pesan penting yang ingin kami sampaikan adalah bagaimana Papua mewakili kita semua untuk menjaga hutan. Karena kalau kita menjaga hutan, maka hutan juga akan menjaga kita," ujar Anggi.
Film Maira merupakan kelanjutan dari film Tegar yang sebelumnya mengangkat isu inklusivitas dan hak anak penyandang disabilitas. Kali ini, tim produksi mengangkat isu krisis iklim melalui kehidupan masyarakat adat Papua yang menjadikan hutan sebagai sumber kehidupan sekaligus identitas budaya.
Untuk membangun cerita yang autentik, proses riset dan produksi dilakukan selama lebih dari dua tahun dengan melibatkan masyarakat lokal Papua secara langsung.
Produser film Maira, Chandra Sembiring, berharap film tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami isu krisis iklim secara lebih dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
"Kami ingin anak-anak muda memahami bahwa krisis iklim bukan hanya soal sampah atau plastik. Ini tentang hubungan manusia dengan alam dan bagaimana isu tersebut perlu menjadi bagian dari percakapan di keluarga, sekolah, kampus, hingga ruang publik," kata Chandra.
Sebelumnya, film Tegar yang diproduksi rumah produksi yang sama telah diputar di 24 negara dan menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Melalui film Maira, pesan tentang kebangsaan, keberagaman, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat menjangkau generasi muda dengan cara yang lebih dekat, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari menjaga masa depan Indonesia.