Indeks S&P 500 menunjukkan ketangguhan luar biasa dan berada di atas USD7.000. (Foto: Dok.)
Pasar Saham 2026: S&P 500 Tetap Bullish di Tengah Ketidakpastian Global
Patrick Pinaria • 23 January 2026 17:15
Jakarta: Dunia investasi ekuitas di ambang tahun 2026 menyajikan anomali yang menarik. Di satu sisi, kita menyaksikan reli historis yang membawa indeks saham ke level tertinggi sepanjang masa. Di sisi lain, kekhawatiran akan volatilitas akibat kebijakan tarif, inflasi yang persisten, dan potensi "bubble" teknologi terus membayangi langkah para pemodal.
Dalam menghadapi dinamika ini, akses terhadap diversifikasi aset menjadi krusial. Platform investasi seperti Pluang hadir untuk menjembatani investor Indonesia ke pasar global, memungkinkan mereka untuk melakukan diversifikasi secara instan ke berbagai kelas aset, mulai dari indeks saham AS, saham AS fraksional, hingga aset aman seperti emas, guna menyeimbangkan portofolio di tengah ketidakpastian ini.
Performa S&P 500: mendekati level psikologis USD7.000
Setelah mencapai titik terendah pada Oktober 2022, Indeks S&P 500 menunjukkan ketangguhan luar biasa dan berada di atas USD7.000. Tren bullish awal 2026 membawanya ke level intraday tertinggi 6.986, bahkan kontrak futures sempat melampaui USD7.000. Setelah koreksi tipis, indeks ditutup pada 6.940,01 per 16 Januari 2026.Kenaikan hampir 2 persen di awal tahun memberi sinyal positif. Analis memproyeksikan pertumbuhan laba S&P 500 mencapai 14,9 persen pada 2026, didukung sektor teknologi dan material, serta dukungan moneter Fed dan insentif pajak bisnis senilai hampir USD270 miliar.
Dominasi obligasi dan kebangkitan saham AS di akhir tahun
Tahun 2025 merupakan "tahun emas" bagi instrumen pendapatan tetap. Dana obligasi kena pajak (taxable-bond funds) mencatatkan rekor aliran masuk tahunan terbesar dalam sejarah, mencapai USD540 miliar atau menyumbang 70 persen dari total aliran dana jangka panjang.Namun, hal yang paling menarik bagi investor saham terjadi pada bulan Desember 2025:
- Desember Boom: Aliran masuk bulan Desember mencapai USD149 miliar, rekor tertinggi bulanan sepanjang 2025.
- Ekuitas AS Bangkit: Dana saham AS mengalami pemulihan yang sangat kuat di akhir tahun, mencatatkan aliran masuk paling signifikan di bulan Desember setelah sempat mengalami tekanan di bulan-bulan sebelumnya.
Fenomena 'Bears Among Bulls': siapa yang sebenarnya membeli?
Indeks S&P 500 terus membuktikan ketangguhannya sebagai barometer utama ekonomi dunia. Sejak titik terendahnya pada Oktober 2022, indeks ini telah melonjak 78,3 persen dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ini didukung oleh aliran dana yang sangat masif di tahun 2025:- Inflow Tertinggi: Dana jangka panjang AS menarik aliran masuk bersih sebesar USD765 miliar pada tahun 2025, angka tertinggi sejak rekor tahun 2021.
- Dominasi ETF Pasif: Tren migrasi dari pengelolaan aktif ke pasif terus berlanjut. Hingga akhir 2025, dana kelolaan pasif kini menguasai lebih dari 55 persen total aset bersih di pasar AS. Raksasa industri seperti iShares (BlackRock) dan Vanguard terus memperlebar jarak, dengan iShares mencatat rekor arus masuk tahunan terbesar dalam sejarah perusahaan sebesar USD366 miliar.
- Di sisi lain, ETF aktif juga tumbuh secara eksponensial dengan aset yang melonjak 64 persen hanya dalam satu tahun, mencapai hampir USD1,5 triliun. Investor tampaknya menyukai kombinasi strategi aktif dengan efisiensi pajak dan biaya rendah yang ditawarkan oleh struktur ETF.
AI: mesin utama sekaligus risiko terbesar bagi S&P 500
Tidak dapat dipungkiri, kecerdasan buatan (AI) adalah bahan bakar utama reli saat ini. Saham-saham teknologi, khususnya yang tergabung dalam "Magnificent 7" (Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Microsoft, NVIDIA, dan Tesla), berkontribusi besar pada pertumbuhan indeks. Sebagai ilustrasi, S&P 500 naik 16.39 persen (price return) dari selama tahun 2025. Jika "Magnificent 7" dikeluarkan, kenaikan tersebut hanya tersisa kurang dari 10.4 persen.Namun, kesuksesan ini membawa pertanyaan besar: Apakah ini bubble seperti era dot-com?. Valuasi yang sangat tinggi memicu kekhawatiran bahwa jika minat investor terhadap AI mendingin, seluruh reli pasar ekuitas bisa berbalik arah. Meski demikian, ada potensi rotasi modal ke sektor dengan valuasi lebih rendah seperti perbankan dan energi yang mungkin diuntungkan oleh lingkungan regulasi federal yang lebih longgar.
Baca Juga :
Strategi 'The Golden Ecosystem': Mengelola Portofolio saat Harga Emas Mencetak Rekor Tertinggi
Pergeseran preferensi sektor: menuju defensif
Meskipun risiko resesi telah mereda, investor mulai meragukan potensi pertumbuhan laba di masa depan. Hal ini memicu pergeseran preferensi ke sektor-sektor yang lebih defensif:- Healthcare & Financials: Menjadi sektor yang paling disukai oleh investor saat ini.
- Real Estate: Sentimen negatif mulai berkurang seiring ekspektasi penurunan suku bunga.
- Teknologi: Masih diminati, namun minatnya mulai menyusut ke level terendah sejak April karena kekhawatiran harga yang sudah terlalu mahal.
- Consumer Discretionary: Mengalami penurunan preferensi akibat kekhawatiran pada pengeluaran rumah tangga dan melemahnya pasar kerja.
Selain itu, terdapat opsi diversifikasi ke aset aman (safe haven), dana fokus komoditas, terutama emas yang mengalami tahun yang luar biasa. Aliran masuk ke dana komoditas mencapai lebih dari USD54 miliar di 2025, melampaui rekor sebelumnya pada tahun 2020. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga emas yang memberikan imbal hasil luar biasa, seperti VanEck Gold Miners ETF (GDX) yang mencatatkan return sebesar 155.57 persen di tahun 2025.
Kebijakan suku bunga dan proyeksi 2026
Awal 2026, The Fed menggeser kebijakan menjadi lebih konservatif, fokus pada normalisasi terbatas. Suku bunga acuan saat ini 3,50-3,75 persen. Berdasarkan Dot Plot, The Fed hanya memproyeksikan satu kali penurunan 25 bps di 2026, dengan target akhir 3,25-3,50 persen. Sikap hati-hati ini karena inflasi PCE masih di 2,4 persen, sedikit di atas target 2 persen.Sikap "wait and see" didasarkan pada ketahanan ekonomi AS (pertumbuhan 2,3 persen, pasar kerja stabil), sehingga The Fed tidak terdesak untuk pemangkasan suku bunga agresif. Meskipun ada spekulasi dua kali penurunan, narasi utama 2026 adalah higher for longer. Bagi investor, ini berarti era uang murah berakhir; pertumbuhan pasar akan bergantung pada laba bersih perusahaan, bukan lagi pada dukungan moneter.
Kabar baik dari dividen dan pemulihan IPO
Bagi pemburu pendapatan pasif dan peluang baru, tahun 2026 menawarkan optimisme yang terkendali:1. Pertumbuhan dividen global
Pembayaran dividen global diprediksi meningkat 3,4 persen (YoY) pada 2026 berdasarkan analisis terhadap lebih dari USD7.000 saham global.- Amerika Utara: Diproyeksikan memimpin dengan tambahan pembayaran USD47 miliar, naik 5 persen secara tahunan.
- Sektor Unggulan: Sektor semikonduktor diperkirakan mencatat pertumbuhan dividen tertinggi sebesar 11 persen berkat permintaan AI dan kendaraan listrik.
2. Kebangkitan IPO
Memasuki tahun 2026, Motley Fool melihat peluang terjadinya "tahun masif" bagi pasar saham. Pendorong utamanya adalah kebijakan suku bunga The Fed yang lebih stabil dan mulai menurun, yang secara historis selalu menjadi bahan bakar bagi aktivitas IPO. Ada tiga kandidat raksasa yang diperkirakan akan mengubah peta pasar modal di tahun 2026:- OpenAI: Perusahaan di balik ChatGPT ini menjadi pusat perhatian utama. Spekulasi menyebutkan OpenAI bisa melantai di bursa dengan valuasi mendekati USD1 triliun, menjadikannya salah satu IPO terbesar sepanjang sejarah.
- SpaceX: Perusahaan antariksa milik Elon Musk ini juga masuk dalam radar kuat untuk tahun 2026. Dengan valuasi privat terakhir di kisaran USD180 miliar hingga USD200 miliar, keberhasilan Starlink dan kontrak NASA menjadi daya tarik utama bagi investor publik.
- Anthropic: Didukung oleh Amazon dan Google, pesaing utama OpenAI ini diprediksi akan menyusul ke lantai bursa. Valuasi yang diperkirakan mencapai USD30 miliar menunjukkan bahwa antusiasme terhadap sektor Kecerdasan Buatan (AI) belum memudar
Kesimpulan: strategi navigasi pasar 2026
Pasar ekuitas 2026 adalah panggung bagi mereka yang waspada namun tetap optimis. Reli memang masih berlangsung, namun didorong oleh faktor yang terkonsentrasi pada sektor teknologi dan investasi pasif.Bagi investor ritel, kunci navigasi tahun ini adalah diversifikasi dan pemanfaatan teknologi. Kehadiran aplikasi investasi seperti Pluang memberikan kemudahan bagi investor untuk mendiversifikasi portofolio mereka, mulai dari indeks S&P 500, saham AS, hingga emas, dalam satu aplikasi. Dengan data yang tepat dan akses pasar yang luas, Anda bisa menavigasi volatilitas 2026 dengan lebih percaya diri.