Ilustrasi emas. Foto: Pixabay
Investor Siap-siap! Harga Emas Berpeluang Rebound
Eko Nordiansyah • 19 May 2026 14:20
Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan berpotensi mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai, pergerakan XAU/USD pada timeframe H4 masih menunjukkan peluang rebound atau kenaikan sementara setelah tekanan bearish yang terjadi sebelumnya mulai mereda.
Secara teknikal, harga emas saat ini masih berada dalam fase pembentukan secondary trend dengan arah pergerakan naik menuju area dynamic resistance yang berada di sekitar Moving Average (MA) 21 dan 50. Area tersebut menjadi titik penting yang akan menentukan apakah kenaikan harga mampu berlanjut atau justru kembali mengalami tekanan jual.
Menurut Geraldo, hingga saat ini belum terlihat adanya sinyal pembalikan arah yang cukup kuat untuk melanjutkan tren penurunan. Kondisi tersebut membuat peluang kenaikan jangka pendek masih terbuka, terutama selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat.
"Pada perdagangan pagi ini, fokus pasar masih cenderung mendukung kenaikan sementara pada harga emas. Dalam proyeksi jangka pendek, XAU/USD diperkirakan berpotensi bergerak menuju resistance terdekat di level 4.590. Jika momentum beli masih berlanjut, maka target resistance berikutnya berada di area 4.629," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 19 Mei 2026.
Indikator penguatan harga emas
Sinyal penguatan tersebut juga didukung oleh indikator stochastic yang saat ini masih bergerak di area overbought dan belum menunjukkan penurunan signifikan. Kondisi ini mengindikasikan momentum bullish jangka pendek masih relatif terjaga meskipun belum cukup kuat untuk mengubah tren utama secara keseluruhan.Meski begitu, Geraldo mengingatkan pergerakan naik yang terjadi saat ini masih berpotensi bersifat sementara. Pasar masih berada dalam fase wait and see sambil menunggu sentimen baru yang dapat memicu volatilitas lebih besar pada harga emas.
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Dari sisi fundamental, pergerakan harga emas saat ini juga dipengaruhi oleh sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter global, khususnya dari Federal Reserve Amerika Serikat. Investor cenderung menahan posisi besar sambil menunggu rilis data ekonomi penting yang dapat memengaruhi arah dolar AS dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
"Selain itu, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global juga masih menjadi faktor yang menjaga minat investor terhadap aset safe haven seperti emas. Kondisi tersebut membantu menopang harga emas setelah sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam," ujar dia.
Kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed
Pasar juga mulai memperhatikan kemungkinan perubahan sikap Federal Reserve terhadap kebijakan suku bunga. Jika data inflasi dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan perlambatan, maka peluang The Fed mengambil sikap lebih dovish akan semakin besar.Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung rebound harga emas dalam jangka pendek. Ketika pasar mulai memperkirakan adanya peluang penurunan suku bunga atau penghentian kebijakan pengetatan moneter, emas biasanya mendapatkan sentimen positif karena menjadi lebih menarik dibandingkan aset berbasis yield.
Namun demikian, ruang kenaikan harga emas masih dinilai cukup terbatas selama dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS tetap berada di level tinggi. Kuatnya dolar masih menjadi tantangan utama bagi pergerakan emas karena membuat harga logam mulia tersebut lebih mahal bagi investor global.
"Selain itu, tingginya yield obligasi AS juga meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau return tetap," kata dia.
Secara keseluruhan, ia mengatakan, harga emas saat ini diperkirakan masih berpotensi bergerak naik dalam jangka pendek sebagai bagian dari fase koreksi atau rebound sementara. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting di sekitar MA 21 dan 50, tren bearish jangka menengah masih perlu diwaspadai.
"Karena itu, investor disarankan tetap memperhatikan perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS yang dapat memengaruhi volatilitas harga emas dalam beberapa waktu ke depan," ungkap dia.