Presiden Prabowo Subianto saat berpidato di WEF 2026, Davos. Foto: dok YouTube Setkab.
Konsep Prabowonomics Menunjukan Arah Pengembangan Ekonomi Indonesia
Eko Nordiansyah • 8 February 2026 12:10
Jakarta: Ketua Dewan Pakar Asprindo dan Guru besar IPB Bogor Didin S Damanhuri mengapresiasi paparan Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) 2026. Forum ini menunjukan arah pengembangan ekonomi Indonesia di hadapan kepala negara dan CEO perusahaan internasional.
"Ini tentunya membanggakan kita semua sebagai rakyat negara dan bangsa Indonesia," kata Didin dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menyatakan, inti pidato Presiden Prabowo adalah cermin bagaimana platform pembangunan ekonomi Indonesia tidak cukup hanya dengan stabilitas nasional dan persamaan antar warga negara. Namun menurutnya, hal ini juga harus diikuti oleh kemajuan bangsa dalam perspektif pembangunan ekonomi.
Platform ekonomi yang dikenal dengan sebutan Prabowonomics itu berfokus pada ekonomi rakyat yang terdiri dari tiga program utama (trilogi) yang saling mendukung untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dengan tujuan tercapainya keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Trilogi pembangunan ekonomi
Trilogi tersebut adalah pertama, Danantara (Dana Anagata Nusantara) sebagai badan pengelola investasi nasional yang dirancang sebagai pengelola dana investasi integrasi yang seperti Temasek di Singapura, yang berfungsi sebagai Sovereign Wealth Fund untuk memaksimalkan investasi masa depan dan mengelola aset negara secara efisien.Kedua, hilirisasi industri strategis yang menekankan pentingnya pengolahan bahan mentah dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia, termasuk sektor nikel, tembaga, dan komoditas pertanian, perkebunan untuk menambah kesejahteraan rakyat.

(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
Ketiga, Makan Gizi Gratis (MBG) dan ekonomi rakyat, yang bukan sekadar bantuan sosial, tetapi juga penggerak ekonomi (stimulus) yang bertujuan meningkatkan konsumsi rumah tangga, memberdayakan UMKM dan menciptakan lapangan kerja langsung, terutama melalui peningkatan gizi anak-anak.
"Apa yang disampaikan Prabowo di Davos bercampur antara fakta dan yang dicita-citakan. Artinya, trilogi itu masih bermasalah di tingkat aplikasi dan faktanya," ujarnya.
Catatan pengembangan konsep ekonomi
Bertumpu kepada peran Danantara yang mengelola dana sebesar Rp16.000 triliun, ia mempertanyakan, apakah Danantara bisa menjadi seperti Temasek. Menurutnya, ini tentu masih jauh, mengingat Danantara baru berjalan setahun dibandingkan Temasek yang sudah puluhan tahun.Sementara untuk program MBG, Didin menyarakan agar bisa lebih melibatkan usaha rakyat seperti UMKM dan koperasi. Apalagi program itu telah memakan anggaran yang sangat besar sehingga memotong anggaran pendidikan, anggaran daerah, dana desa bahkan dana di bank Himbara.
Apalagi situasi geopolitik dan ekonomi internasional berupa konflik yang eskalasinya meningkat dan perang dagang telah memberikan dampak negatif. Untuk itu, ia menilai, problem yang dihadapi oleh Prabowonomics dengan triloginya mengalami masalah besar dalam kerangka implementasi.
"Ini tantangan besar bagi Presiden Prabowo untuk menunjukkan apa yang dia katakan itu bisa diwujudkan. Usul saya, harus dilakukan perbaikan secara nyata dalam Prabowonomics itu. Harus ada tim yang menyiapkan kerangka akademis sehingga bisa diimplementasikan," ungkap Didin.