Pedagang bendera di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Asa Pedagang Bendera Musiman di Tengah Gempuran Toko Online
Metro TV • 12 August 2026 21:47
Jakarta: Riuk pikuk Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mendadak memerah menjelang Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Di sepanjang trotoar, ornamen dan bendera Merah Putih berbagai ukuran berkibar diterpa angin, menanti derap langkah pembeli yang ingin merayakan bulan kemerdekaan. Namun di balik deretan kain yang berkibar anggun itu, tersimpan ganjalan cerita tentang omzet yang tak lagi sehangat dulu.
“Kalau Sabtu Minggu ramai, bisa delapan ratus (ribu) kadang satu juta,” kata Suhaedi, salah satu pedagang bendera musiman, saat ditemui Metrotvnews.com di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Nominal itu hanyalah pendapatan kotor. Setelah dikurangi modal dan biaya operasional, keuntungan bersih yang dibawa pulang pria paruh baya tersebut kini hanya menyisa berkisar Rp350.000 saban hari.
Bagi Suhaedi, yang telah menjajakan bendera musiman sejak 1998, momentum HUT ke-81 RI tahun ini mencatatkan angka penjualan paling redup sepanjang ingatannya. Bandingkan saja dengan tahun lalu, saat ia masih mengantongi untung bersih sedikitnya Rp500.000 per hari.
“Kalau usaha buat sehari-hari sekarang enggak cukup. Ibaratnya orang yang punya utang buat sehari-hari aja kadang enggak dapat (mencukupi),” ujar Suhaedi.
Meski himpitan ekonomi kian terasa, mengadu nasib ke Jakarta sebagai penjual bendera musiman masih menjadi lentera harapan baginya. Pasalnya, profesi utamanya sebagai penjual alat pertanian di kampung halamannya, Cirebon, menyajikan ketidakpastian penghasilan yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Menjamurnya toko daring (e-commerce) diyakini Suhaedi menjadi biang kerok terkikisnya pembeli bertatap muka. Keterbatasan literasi teknologi membuat ia dan banyak pedagang konvensional tak punya opsi lain kecuali setia menggelar lapak lapuknya di pinggir jalan.
.jpg)
Pedagang bendera di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Kondisi tersebut diamini oleh Komar, sesama pedagang bendera musiman yang mengadu peruntungan di sudut pasar yang sama. “Kalau kita bicara omzet ya (toko online) berpengaruh, berpengaruh banget,” ujar Komar.
Meski diterjang realitas persaingan digital yang tak berimbang, pria yang mengemban status sebagai bapak dua anak itu enggan menyerah pada keadaan. “Namanya juga rezeki, sudah diatur,” ujar Komar.
Di balik tawanya, Komar memendam asa sederhana agar pemerintah hadir merangkul para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lewat intervensi nyata. Mulai dari pelatihan digital hingga kemudahan akses modal.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar selembar kain merah putih yang berkibar saban Agustus, melainkan keberlanjutan dapur yang tetap mengepul di tengah perubahan zaman.
(Metro TV/Afifah Alfina)