Wapres AS Akui Tidak Tahu Kapan Perang Iran Akan Berakhir

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Foto: The New York Times

Wapres AS Akui Tidak Tahu Kapan Perang Iran Akan Berakhir

Fajar Nugraha • 4 September 2026 08:47

Washington: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengatakan kepada para wartawan pada Kamis bahwa ia tidak akan menyebut konflik militer dengan Iran sebagai "perang" untuk saat ini, namun mengakui bahwa ia tidak dapat memprediksi kapan konflik tersebut akan berakhir.

Vance menyampaikan pernyataan tersebut di podium ruang pengarahan Gedung Putih. Dia menjadi orang pertama yang memberikan pengarahan sejak Karoline Leavitt mundur sebagai sekretaris pers pekan lalu. Kemunculannya juga menandai pengarahan pertama yang dilakukan oleh pejabat pemerintah di lokasi tersebut dalam beberapa minggu terakhir.

Saat ditanya apakah menurutnya perang dengan Iran -,yang dimulai oleh Presiden Trump dan para pejabat Israel pada Februari,- akan berakhir sebelum pemilihan umum paruh waktu, Vance berkata, "Saya tidak akan menyebutnya sebagai perang saat ini."

Wakil presiden tersebut mengatakan bahwa tidak ada "aksi tembak-menembak aktif" dan menggambarkan serangan dari kedua belah pihak dalam beberapa hari terakhir sebagai lonjakan ketegangan sesaat.

Komentarnya muncul sehari setelah terjadinya aksi saling serang yang sangat intens. Iran menuduh Amerika Serikat menewaskan sejumlah orang di sebuah pesta pernikahan dalam serangkaian serangan, sementara Iran sendiri melancarkan serangan terhadap aset militer AS di seluruh Timur Tengah.

Trump sering kali menggunakan bahasa yang jauh lebih agresif dalam menggambarkan konflik dengan Iran, dan terdengar semakin bernada konfrontatif mengenai tindakan yang akan ia ambil terhadap negara Timur Tengah tersebut jika mereka terus menyerang kapal tanker di Selat Hormuz. Namun, Vance mengisyaratkan bahwa Iran-lah yang akan menentukan kapan tepatnya konflik tersebut berakhir.

"Menurut saya, kenyataannya adalah: saya tidak tahu jawaban atas pertanyaan itu. Anda harus bertanya kepada pihak Iran,” ujar Vance, seperti dikutip The New York Times, Jumat 4 September 2026.

Ia juga menyatakan "skeptis" terhadap laporan media pemerintah Iran yang menyebutkan bahwa serangan AS mengenai pesta pernikahan dan warga sipil dalam beberapa hari terakhir.

"Media pemerintah Iran tidak memberikan gambaran yang akurat mengenai apa yang terjadi dalam konflik ini sejauh ini. Jadi, saya sangat skeptis mengenai hal ini,” imbuh Vance.

Sebuah analisis visual oleh The New York Times, yang melibatkan seorang ahli persenjataan, menyimpulkan bahwa pesta pernikahan tersebut terkena bom yang digunakan oleh pasukan AS.

"Sayangnya, tentu saja, terkadang hal-hal seperti itu terjadi," ujar Vance, mengulangi komentar yang pernah disampaikan Trump sebelumnya.

Namun, ia mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki informasi yang pasti mengenai hal tersebut, dan menegaskan bahwa pemerintah tidak secara sengaja menargetkan warga sipil.

Vance juga menolak untuk menjauhkan diri dari mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson, seorang teman sang wakil presiden yang sangat kritis terhadap Trump terkait perang dengan Iran. Carlson bahkan telah menyerukan pemakzulan presiden.

"Semua orang tahu bahwa Tucker Carlson dan saya berteman, dan menurut saya sangat jelas bahwa Tucker pernah mengatakan hal-hal yang tidak saya setujui," ujar Vance.

"Dia mengatakan beberapa hal tentang presiden Amerika Serikat yang menurut saya keliru." Namun, ia menegaskan tidak akan "melakukan tindakan mengorbankan teman hanya karena adanya perbedaan pendapat politik dengan mereka. Menurut saya, itu adalah arah yang sangat buruk bagi Amerika Serikat."

Selanjutnya, Vance menyatakan dukungannya terhadap Menteri Pertahanan Pete Hegseth di tengah laporan bahwa Daniel P. Driscoll -,mantan Menteri Angkatan Darat yang baru saja mundur,- sempat mengungkapkan kekhawatiran mengenai kepemimpinan Hegseth serta tindakannya mencopot sejumlah jenderal. Driscoll meninggalkan jabatannya baru-baru ini.

Vance berbicara dengan hangat mengenai Driscoll, namun juga memuji Hegseth, sosok yang belakangan ini semakin banyak dikritik oleh anggota parlemen dari Partai Republik akibat gaya manajemennya di Pentagon yang dinilai kacau.

Dalam kesempatan terpisah, sang wakil presiden juga ditanya mengenai janda dari John A. Klinner—seorang penerbang asal Alabama yang akrab disapa Alex dan gugur dalam pertempuran melawan Iran. Sang istri, Libby Klinner, menulis di media sosial bahwa ia tidak mendapatkan sejumlah tunjangan dari militer karena Amerika Serikat tidak secara resmi menyatakan perang. Klinner meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil.

"Betapapun hancurnya hati kami, saya tidak mungkin bisa sepenuhnya memahami perasaan seorang janda muda dan bagaimana ia harus menghadapinya," kata Vance,

Vance menambahkan, "Kami sangat serius dalam komitmen kami untuk memastikan Anda mendapatkan hak-hak yang memang seharusnya Anda terima."

Ia juga mengungkapkan rencananya untuk hadir di lokasi World Trade Center di New York guna mewakili pemerintah dalam peringatan 25 tahun serangan teroris 11 September, yang menewaskan sekitar 3.000 orang di tiga lokasi berbeda. Ia mengenang kembali semangat kebersamaan dan tujuan yang sama yang sempat menyatukan seluruh Amerika Serikat tak lama setelah serangan tersebut terjadi.

Ia kemudian menambahkan dengan nada yang tampaknya sarkastis: "Seperti yang mungkin bisa kalian tebak, saya sangat menantikan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Joe Biden. Saya yakin kami akan terlibat dalam banyak sekali percakapan intelektual yang mendalam. Dan itu pasti akan menyenangkan. Kami akan menikmati waktu yang menyenangkan."

Joe Biden diperkirakan akan menghadiri acara tersebut bersama Jill Biden, sang mantan Ibu Negara.

(Fajar Nugraha)