Abu Vulkanik Masih Timbulkan Risiko hingga Tersapu Hujan

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dirasakan masyarakat di sebagian besar wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, cukup tebal terlihat di teras dan halaman rumah serta kendaraan, Jumat (6/9/2026).ANTARA/Ahmad Fikri. (Ahmad Fikri)

Abu Vulkanik Masih Timbulkan Risiko hingga Tersapu Hujan

Siti Yona Hukmana • 8 September 2026 11:46

Jakarta: Sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau disebut masih berisiko sampai benar-benar bersih tersapu hujan. Masyarakat diminta mewaspadai ketika berada di luar ruangan.

Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr. Sukamto Koesnoe mengatakan selama abu masih menumpuk di tanah, atap, dan jalan, partikelnya akan terangkat kembali ke udara oleh angin, lalu lintas kendaraan, dan aktivitas bersih-bersih. Debu itu sangat berisiko bagi kesehatan.

"Jadi risikonya berlanjut berhari-hari sampai berminggu-minggu, sampai abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan,” kata Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Sukamto Koesnoe dilansir Antara, Selasa, 8 September 2026.

Sukamto menjelaskan abu vulkanik bukan debu biasa, karena terdapat partikelnya tajam, bersudut, mengandung silika, dan sebagian berukuran sangat halus (PM10 dan PM2.5) sehingga bisa terhirup sampai ke saluran napas bawah bahkan alveolus.

“Gangguan pada saluran napas yang paling sering berupa iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk kering, sesak, serta dada terasa berat,” ujar Sukamto.

Partikel abu vulkanik, lanjut Sukamto, juga perlu diwaspadai pada penderita dengan penyakit kronik seperti asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), bronkitis kronik, rinitis alergi, lantaran jika terhirup, paparan ini kerap memicu serangan atau eksaserbasi. Selain itu, iritasi pada mukosa saluran napas dapat melemahkan pertahanan lokal saluran napas sehingga risiko infeksi saluran napas akut meningkat.

“Karena itu bagi pasien penyakit paru kronik dan lansia, status vaksinasi influenza dan pneumokokus sebaiknya diperbarui, ini bagian dari perlindungan yang sering terlupakan,” ungkap dosen tetap di Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen IPD Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu.

Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak hanya menyerang sistem pernapasan, tapi juga pada mata, seperti iritasi, mata merah, konjungtivitis, sampai lecet pada kornea karena partikel abu yang tajam.

“Pengguna lensa kontak paling berisiko dan sebaiknya beralih sementara ke kacamata,” kata Sukamto.

Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Foto: Dok. BNPB.

Pada kulit dampaknya bisa berisiko iritasi, gatal, dermatitis, terutama bila abu bersifat asam atau bercampur keringat. Risiko lain muncul ketika abu mencemari makanan dan air minum yang tidak terlindungi, sehingga dapat mengganggu saluran pencernaan.

Di sisi lain, partikel PM2.5 dari abu vulkanik dampak risiko pada jantung dan pembuluh darah, dapat memicu perburukan kondisi pada penderita penyakit jantung.

“Silikosis memang disebut-sebut, tetapi itu risiko jangka panjang dari paparan berulang bertahun-tahun; yang lebih relevan untuk masyarakat umum saat ini adalah dampak akut di atas,” kata Sukamto.

Lebih lanjut, Sukamto menyarankan penderita asma dan PPOK wajib memastikan obat pengontrol dan obat pelega selalu tersedia dan dibawa bepergian.

“Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak yang memberat atau mengi yang tidak mereda dengan inhaler, nyeri dada, demam dengan batuk berdahak yang menetap, atau nyeri mata dan penglihatan kabur,” ujar Dokter Pendidik Klinik Utama, Divisi Endokrinologi, Imunologi, dan Infeksi, Departemen Penyakit Dalam RSCM itu.

Dalam upaya menangkal paparan partikel abu vulkanik, Sukamto merekomendasikan penggunaan masker jenis N95, KN95, FFP2 menjadi pilihan terbaik, asalkan terpasang rapat tanpa celah di sisi hidung dan pipi. Pada penggunaan masker, kata dia, kuncinya bukan hanya bahan penyaring, tetapi kerapatan segel ke wajah.

(Siti Yona Hukmana)