Harga Minyak Naik, Dolar AS Perkasa terhadap Mata Uang Utama

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Harga Minyak Naik, Dolar AS Perkasa terhadap Mata Uang Utama

Ade Hapsari Lestarini • 18 May 2026 09:09

Hong Kong: Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada perdagangan Asia, Senin, 18 Mei 2026. Kenaikan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta aksi jual obligasi global menekan selera risiko investor.

Euro tercatat berada di USD1,1609 dan poundsterling di USD1,3305, masing-masing melemah lebih dari 0,1 persen.

Melansir Channel News Asia, dolar Australia yang sensitif terhadap sentimen risiko turun 0,4 persen menjadi USD0,7121. Sementara dolar Selandia Baru relatif stabil di level USD0,5827.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, menguat tipis ke level 99,393.
 

Harga minyak melonjak


Harga minyak dunia naik pada perdagangan Senin setelah pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab dilaporkan diserang. Situasi tersebut memperburuk kekhawatiran pasar karena upaya mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran dinilai mengalami kebuntuan.

Harga minyak mentah Brent berjangka naik lebih dari satu persen menjadi USD110 per barel.

"Tampaknya kondisi untuk risiko dan obligasi memburuk, dan kondisi untuk reli dolar berlanjut minggu ini sudah matang," tulis analis Barclays dalam catatannya.

Kekhawatiran terhadap terganggunya jalur distribusi energi di Selat Hormuz juga ikut menopang penguatan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam disebut berpotensi naik 0,5 persen hingga satu persen setiap kali harga minyak melonjak 10 persen.
 


Ilustrasi mata uang dolar AS. Foto: dok Magnific.
 

Pelemahan pasar obligasi


Di sisi lain, pelemahan pasar obligasi global turut membebani sentimen investor. Imbal hasil obligasi pemerintah tetap tinggi di tengah kekhawatiran lonjakan harga energi dapat memicu inflasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat di level 4,607 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di 4,085 persen. Keduanya mendekati posisi tertinggi dalam setahun terakhir.

"Dalam jangka pendek, USD mungkin akan tetap lebih diminati saat terjadi penurunan jika imbal hasil tetap tinggi dan pasar terus memperkirakan reaksi The Fed yang lebih agresif," kata ahli strategi FX OCBC, Christopher Wong.

Pasar juga menanti risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) dan data awal Indeks Manajer Pembelian (PMI) AS pekan ini untuk melihat arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di tengah tekanan inflasi.

Terhadap yen Jepang, dolar AS diperdagangkan di level 158,84 yen atau naik 0,04 persen dibandingkan posisi penutupan di AS. Pelemahan yen kembali memicu spekulasi pasar terkait potensi intervensi pemerintah Jepang. Sementara itu, yuan Tiongkok berada di level 6,8163 per dolar AS menjelang rilis data aktivitas ekonomi Tiongkok pada Senin sore.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)