Ilustrasi bank digital. Foto: Fotolia.
Digitalisasi Jadi Tantangan Bank Syariah 'Akrab' dengan Masyarakat
Husen Miftahudin • 12 February 2026 17:02
Jakarta: Kepala Divisi Syariah Bank Jateng Slamet Sulistiono menyebutkan tantangan terbesar dalam mengakselerasi inklusi dan literasi masyarakat terhadap perbankan syariah adalah keterbatasan delivery channel produk dan layanan.
Menurut Slamet, pengembangan delivery channel memudahkan nasabah yang berada di pelosok desa hingga daerah-daerah pegunungan yang remote area untuk mengakses produk dan layanan perbankan syariah.
"Dibandingkan dengan (perbankan) konvensional yang sudah lama, sudah lebih awal, mereka punya jaringan sampai ke desa-desa, di kecamatan-kecamatan. Sedangkan bank syariah masih berhenti pada level kota/kabupaten, bahkan (cuma ada) di tengah kota," ungkap Slamet dalam acara Metro TV Sharia Economic Forum 2026 di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Kamis, 12 Februari 2026.
.jpeg)
Metro TV Sharia Economic Forum 2026. Foto: Dok/Tangkapan Layar
Karena itu, digitalisasi menjadi jawaban. Diakui Slamet, digitalisasi merupakan jalan ninja bagi perbankan syariah untuk mendongkrak tingkat akseptasi masyarakat terhadap produk dan layanan mereka.
"Alur pengembangan melalui digitalisasi menjadi sebuah jawaban bagaimana penyediaan itu tidak hanya disediakan secara fisik, tetapi juga teknologi yang memudahkan mereka, bahkan bagi mereka yang ada di tempat-tempat remote area," papar dia.
"Itu yang saya pikir menjadi tantangan bagaimana menjangkau seluas-luasnya ke tingkatan yang paling pelosok sekalipun bahwa mereka yang ada di daerah remote area bisa mendapatkan fasilitas layanan perbankan syariah dengan lebih mudah," tambah Slamet.
Produk dan Layanan Perbankan Syariah Paling Diminati
Diakui Slamet, produk dan layanan perbankan syariah lebih diminati ketimbang produk-produk dan layanan perbankan konvensional."Setiap kali kita bertemu orang, kalau ada pilihan bank konvensional dan bank syariah, sepanjang bank syariah minimal menyamai apa yang diberikan oleh bank kovensional, mereka (nasabah) akan memilih syariah," tutur dia.
Di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta sendiri, ungkap Slamet, produk Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah menjadi pilihan utama masyarakat ketimbang KUR konvensional. Bahkan pertumbuhan KUR Syariah rata-rata mencapai hingga 25 persen setiap tahunnya, jauh lebih tinggi daripada KUR konvensional yang pertumbuhannya hanya 12 persen.
"Artinya produk ini, perbankan syariah ini, adalah seuatu yang ditunggu-tunggu. Tinggal bagaimana kita para penyedia jasa, penyedia produk di dalam ekosistem halal itu bisa membuat produk yang diminati dan dibutuhkan oleh masyarakat," kata Slamet. Namun, karena adanya keterbatasan secara industri dimana bank syariah relatif jauh lebih muda dibandingnkan bank konvensional, maka secara infrastruktur teknologi dan layanan masih jauh tertinggal.
"Tetapi kalau kami melihat optimisme bahwa masyarakat kita dengan jumlah populasi yang dominan muslim, sesungguhnya menjadi ruag terbuka buat tumbuh kembangnya perbankan syariah, ekonomi syariah. Sekarang tinggal bagaimana seluruh pelaku penggerak ekonomi syariah bisa memberikan satu layanan yang minimal sama dengan apa yang mereka dapatkan di konvensional. Kalau itu bisa kita lakukan, tentu hasilnya bagus," jelas dia.