Arsikarta mementaskan Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar di Galeri Indonesia Kaya. (Dok. Istimewa)
Arsikarta Pentaskan Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar di Galeri Indonesia Kaya
Duta Erlangga • 19 August 2026 16:56
Jakarta: Arsikarta menghadirkan pertunjukan monolog Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar pada 16 Agustus 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta. Karya yang ditulis oleh Iswadi Pratama ini menghadirkan kembali sosok Chairil Anwar melalui pendekatan teater kontemporer dan metafiksi. Pertunjukan diperankan oleh Haikal Mubarok dan membawa penonton memasuki ruang batin Chairil Anwar pada masa-masa terakhir hidupnya.
Dalam cerita, Chairil berhadapan dengan Mephistopeles, tokoh dari Faust karya Johann Wolfgang von Goethe. Sosok tersebut hadir sebagai bayangan yang menawarkan keabadian kepada sang penyair. Namun tawaran tersebut justru membuka pertarungan yang lebih dalam. Chairil harus berhadapan dengan hasrat untuk dikenang, keinginan untuk bebas, kecintaannya terhadap seni, serta tubuhnya yang semakin rapuh.
Umbra et Anima juga mempertemukan Chairil dengan sejumlah figur dari dunia sastra, antara lain Gregor Samsa dari Franz Kafka, César Vallejo, dan Charles Bukowski. Ketiga tokoh tersebut menjadi cermin dari pengalaman manusia yang berhadapan dengan keterasingan, penderitaan, dan dunia yang terus berubah.
Selain mengangkat persoalan eksistensial, pertunjukan ini juga membawa kritik terhadap kapitalisme dan bagaimana sistem dapat memengaruhi cara manusia memandang seni dan dirinya sendiri. Dalam naskah, Mephistopeles pada akhirnya tidak hanya digambarkan sebagai sosok iblis, tetapi sebagai simbol dari sistem yang mampu menjadikan karya, cinta, penderitaan, bahkan nama seorang seniman sebagai komoditas.
Pementasan menggunakan elemen cahaya, bayangan, musik, bunyi, serta permainan tubuh untuk membangun ruang psikologis Chairil. Hujan, kamar yang sempit, tumpukan kertas, dan cahaya pena menjadi sejumlah simbol penting yang membawa penonton mengikuti perjalanan batin sang penyair.
Melalui Umbra et Anima, Arsikarta mencoba menghadirkan Chairil Anwar bukan hanya sebagai nama besar dalam sejarah sastra Indonesia, tetapi sebagai manusia yang terus bergulat dengan pertanyaan tentang hidup, karya, kebebasan, dan makna menjadi manusia.
Pertunjukan ditutup dengan sebuah kesadaran bahwa keabadian tidak selalu berarti hidup selamanya. Dalam dunia yang terus berubah, menulis dan mempertahankan kemanusiaan dapat menjadi bentuk perlawanan terakhir. Umbra et Anima: Metafiksi Chairil Anwar merupakan karya Iswadi Pratama yang dipentaskan oleh Arsikarta pada 16 Agustus 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.