Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Empat Gempa Letusan Terekam

Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak, Senin pagi, 24 Agustus 2026. ANTARA/HO-Badan Geologi

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Empat Gempa Letusan Terekam

Whisnu Mardiansyah • 24 August 2026 20:24

Lampung Selatan: Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali terpantau. Dalam kurun enam jam terakhir, gunung api tersebut tercatat mengalami empat kali gempa letusan atau erupsi.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, mengatakan empat gempa letusan tersebut memiliki amplitudo 58-67 milimeter dengan durasi 30-54 detik.

“Sebanyak empat kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 58-67 mm, dan lama gempa 30-54 detik,” kata Suwarno di Lampung Selatan, seperti dilansir Antara, Senin, 24 Agustus 2026.

Selain gempa letusan, hasil pemantauan kegempaan juga mencatat sejumlah aktivitas vulkanik lainnya. Aktivitas tersebut meliputi gempa hembusan, harmonik, low frequency, hybrid atau fase banyak, serta tremor menerus.

“Terjadi 100 kali gempa hembusan dengan amplitudo 27-63 mm dan lama gempa 17-250 detik. 5 kali harmonik dengan amplitudo 47-61 mm, dan lama gempa 98-1054 detik. Selain itu, dua kali gempa low frequency dengan amplitudo 31-45 mm, dan lama gempa 16 detik. 25 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 20-56 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 8-25 detik, dan 1 kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 3-60 mm, dominan 20 mm,” katanya.
 

Aktivitas Gunung Dipantau Intensif


Suwarno mengatakan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau melalui pengamatan visual dan instrumental. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perubahan aktivitas gunung api tersebut.

Dari hasil pengamatan visual, kondisi Gunung Anak Krakatau terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah juga teramati dengan warna kelabu dan hitam serta intensitas tebal.

“Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Teramati asap kawah utama berwarna kelabu dan hitam dengan intensitas tebal tinggi sekitar 100-400 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga berawan, angin lemah ke arah utara, timur laut, barat dan barat laut,” ujar dia, Senin, 24 Agustus 2026.

Hasil pengamatan juga mencatat kondisi cuaca di sekitar gunung api cerah hingga berawan dengan arah angin lemah menuju utara, timur laut, barat, dan barat laut.

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sejak awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status gunung api tersebut dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Meski status meningkat, aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap dipantau melalui sistem pemantauan vulkanologi dan penerapan langkah mitigasi sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Warga Diminta Patuhi Radius Aman

Masyarakat, wisatawan, dan nelayan di sekitar Gunung Anak Krakatau diminta mematuhi radius aman yang telah ditetapkan otoritas vulkanologi. Imbauan tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko akibat aktivitas erupsi dan lontaran material vulkanik.

Nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Sunda juga diminta memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kondisi cuaca sebelum melaut.

Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau diimbau hanya mengacu pada keterangan resmi dari lembaga berwenang.

(Whisnu M)