Ilustrasi pendistribusian bantuan ke korban bencana gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dok. BNPB
BNPB Perkuat Etika Aparat dan Sinergi Distribusi Logistik untuk Percepat Penanganan Gempa Flores
Achmad Zulfikar Fazli • 23 August 2026 22:45
Maumere: Seluruh unsur pemerintahan dan aparat yang terlibat penanganan bencana diminta terus mengedepankan etika, kesabaran, profesionalisme, serta semangat kebersamaan dalam menjalankan tugas kemanusiaan di lapangan. Arahan ini disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Suharyanto saat meninjau Pos Pendukung Logistik Nasional di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyusul dinamika dalam proses koordinasi dan pendistribusian bantuan logistik di Kabupaten Manggarai Timur.
Suharyanto menyampaikan penanganan bencana merupakan kerja bersama yang membutuhkan komunikasi, koordinasi, dan saling pengertian antarpihak. Dalam situasi darurat yang penuh tekanan, setiap unsur yang terlibat diharapkan mampu menjaga tata krama kedinasan dan etika komunikasi, sehingga berbagai persoalan di lapangan dapat diselesaikan melalui dialog yang terbuka, sejuk, dan konstruktif.
Menurut Suharyanto, ASN, TNI, Polri, relawan, maupun seluruh unsur pelayanan publik memiliki tanggung jawab yang sama untuk memberikan rasa aman dan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah. Oleh karena itu, perbedaan pandangan atau kendala teknis yang muncul dalam proses penanganan hendaknya menjadi ruang memperkuat koordinasi, bukan menjadi hambatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Dalam situasi bencana, kita semua sedang bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari kita jaga etika, komunikasi, dan sikap saling menghormati. Kalau ada persoalan di lapangan, kita selesaikan bersama dengan komunikasi yang baik,” ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis, Minggu, 23 Agustus 2026.
Terkait distribusi logistik, BNPB memastikan dukungan pemerintah pusat terus bergerak bertahap dan disalurkan berdasarkan kebutuhan serta hasil pendataan di lapangan. Bantuan tersebut mencakup dukungan awal pemerintah pusat, termasuk bantuan yang telah diarahkan Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung percepatan penanganan dampak gempa di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Suharyanto menjelaskan distribusi bantuan dalam skala besar membutuhkan tahapan, mulai dari pengumpulan dan pengiriman dari pusat, penerimaan di pos pendukung, pemilahan sesuai kebutuhan, hingga penyaluran melalui pemerintah daerah kepada masyarakat terdampak. Mekanisme tersebut diperlukan agar bantuan dapat dikelola secara tertib, tepat sasaran, dan dapat menjangkau wilayah yang membutuhkan, termasuk daerah dengan akses lebih sulit.
“Bantuan terus berjalan. Distribusinya dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing wilayah. Yang terpenting adalah bagaimana seluruh pihak memahami alurnya dan bersama-sama memastikan bantuan sampai kepada masyarakat,” jelas Suharyanto.

Ilustrasi pendistribusian bantuan ke korban bencana gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dok. BNPB
BNPB juga menjadikan berbagai dinamika yang muncul selama proses distribusi sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPBD, serta seluruh unsur pendukung penanganan bencana. Penguatan komunikasi di tingkat lapangan dinilai penting agar informasi mengenai ketersediaan, kebutuhan, dan mekanisme distribusi dapat dipahami secara utuh oleh seluruh pihak.
Ke depan, BNPB terus mendampingi pemerintah daerah, sekaligus memperkuat pemahaman bersama mengenai tata kelola logistik kebencanaan. Dengan koordinasi yang semakin baik, proses distribusi diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, teratur, transparan, dan tetap mengedepankan pendekatan yang humanis.
Suharyanto menegaskan penanganan gempa Flores tidak dapat dilakukan satu pihak. Pemerintah pusat dan daerah, bersama TNI, Polri, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, serta masyarakat harus bergerak dalam satu semangat untuk mempercepat pemulihan.
“Bencana ini adalah ujian bagi kita semua untuk semakin memperkuat gotong royong. Mari kita fokus pada kebutuhan masyarakat, saling membantu, dan memperkuat koordinasi. Dengan sinergi yang baik, kita optimistis penanganan darurat dan proses pemulihan masyarakat terdampak dapat berjalan semakin cepat,” jelas Suharyanto.
Rekapitulasi Distribusi Logistik Manggarai Timur
Secara keseluruhan, rekapitulasi data bantuan untuk wilayah Kabupaten Manggarai Timur tercacat dengan total kumulatif barang masuk sebanyak 8.144 unit/paket, dengan total distribusi keluar mencapai 4.232 unit/paket, sehingga menyisakan stok logistik di posko sebanyak 5.106 unit/paket.
Rinciannya pada kelompok tenda dan shelter, penerimaan terdiri dari 545 set tenda keluarga 4x4 (terdistribusi 238 set, sisa 307 set), 32 set tenda pengungsi (terdistribusi dua set, sisa 30 set), 16 tenda dome, serta 109 lembar terpal (terdistribusi 20 lembar, sisa 89 lembar).
Selain itu, terdapat tiga tenda Dinsos dan BUMN yang telah disalurkan seluruhnya, serta 10 set tenda Benteng Raja yang sudah dikeluarkan meskipun data penerimaannya masih proses pembukuan.
Untuk sektor perlengkapan tidur dan pakaian, bantuan yang masuk meliputi 470 pcs kasur lipat dan 100 pcs kelambu yang masih utuh di posko, 25 pcs velbed yang tersalurkan seluruhnya, serta 410 pcs matras dan 728 lembar selimut yang seluruh stok masuknya telah didistribusikan habis.
Untuk pakaian dewasa dan anak (termasuk kaos, gamis, sarung, dan baju BNPB), dari total 3.415 pcs barang masuk, sebanyak 50 pcs telah disalurkan dan menyisakan stok 3.365 pcs.
Pada kategori logistik pangan dan sembako, dari total 840 paket sembako yang diterima, 140 paket telah disalurkan dan menyisakan 700 paket. Untuk pasokan beras (gabungan paket sembako, CPP BULOG, dan BPBD NTB), dari total 1.101 paket/kg yang masuk, sebanyak 801 paket/kg telah terdistribusi, meninggalkan sisa 300 paket.
Jenis barang permakanan dan komoditas lain seperti mie instan dan Pop Mie (705 dus), air mineral (250 dus), serta barang kebutuhan pokok harian seperti gula pasir, kopi, biskuit, roti, dan snack telah tersalurkan 100 persen ke lapangan. Pasokan telur dan minyak goreng juga telah didistribusikan penuh, meskipun terdapat catatan saldo minus pada rekap akibat penyesuaian pencatatan barang masuk yang masih perlu difinalisasi.
Pada kelompok sanitasi, kebersihan, peralatan, dan komunikasi, posko menerima 354 paket hygiene kit dan empat genset. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan operasional di lapangan, lima toilet portable dan dua perangkat Starlink telah disalurkan 100 persen bersamaan dengan perlengkapan kebersihan dan peralatan pendukung seperti sampo (143 renteng), handuk (68 pcs), pasta gigi (100 pcs), senter (50 buah), dan baterai (36 pcs) yang semuanya telah habis terdistribusi.