Taekwondo siswa sekolah rakyat. Foto: Bakom RI
Sekolah Rakyat Asah Bakat Siswa lewat Seni Tari dan Taekwondo
M Sholahadhin Azhar • 18 April 2026 15:57
Jakarta: Sekolah Rakyat tak sekadar mengasah kemampuan akademik siswa yang berasal dari kalangan kurang mampu. Ruang pengembangan minat dan bakat para siswa pun menjadi salah satu fokus dari Sekolah Rakyat.
Misalnya, melalui ekstrakurikuler Taekwondo Sekolah Rakyat SRMA 13 Bekasi. Dari kegiatan ini, para siswa mampu meraih prestasi, yakni meraih 2 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu dalam Bekasi Open III Taekwondo Championship 2026. Kejuaraan bergengsi yang diikuti ratusan atlet dari lima provinsi ini diselenggarakan pada 3–5 April 2026.
Medali tersebut menjadi capaian perdana bagi ekstrakurikuler Taekwondo di SRMA 13 Bekasi. Minat siswa di bidang seni bela diri pun didukung penuh oleh sekolah, mulai dari penyediaan seragam, pelatih, hingga pembiayaan kejuaraan.
Bagi Erin, Adestyawan, Halikinos, dan Fatan, kesempatan menyalurkan hobi di tengah pendidikan gratis menjadi pengalaman yang berharga.
“Terima kasih Pak Presiden (Prabowo Subianto) karena sudah mengadakan Sekolah Rakyat bagi kami. Kami bisa menyalurkan hobi dan melanjutkan sekolah di sini,” ujar mereka.
Menariknya, ekstrakurikuler pencak silat awalnya tidak tersedia. Program ini kemudian dihadirkan atas permintaan siswa dengan mendatangkan pelatih dari luar sekolah.
“Kami bersyukur bisa bersekolah di sini karena selalu difasilitasi dan mendapat dukungan yang sangat kuat,” kata Jumaroh.
Prestasi juga datang dari kelompok seni tari yang meraih juara 3 dalam Lomba Pentas Seni Budaya Nusantara (Pesbura) tingkat Kota Bekasi pada 30 November 2025.
“Aku senang hobi aku didukung banget sama Sekolah Rakyat. Semua difasilitasi, jadi tidak bayar sama sekali,” ujar salah satu siswa.
Di balik deretan prestasi tersebut, Kepala SRMA 13 Bekasi Lastri Fajarwati menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya menghadirkan akses pendidikan, tetapi juga membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang sebelumnya termarginalkan.
“Tujuan Sekolah Rakyat ini sangat mulia. Negara hadir untuk masyarakat yang tidak mampu melalui bantuan jangka panjang. Anak-anak yang tadinya tidak punya peluang, kini memiliki kesempatan untuk sekolah seperti pada umumnya,” ujarnya.
Namun, proses tersebut bukan tanpa tantangan. Banyak siswa datang dari latar belakang kehidupan yang keras—terbiasa bekerja membantu orang tua hingga memiliki pola hidup yang belum teratur. Karena itu, pembinaan kedisiplinan melalui kehidupan berasrama menjadi kunci.
“Tidak hanya guru, ada juga wali asuh dan wali asrama yang mendampingi. Mereka hadir sebagai pengganti orang tua,” tambahnya.
Peran ini dijalankan salah satunya oleh wali asuh Arya Endang Purnama. Ia menekankan bahwa pendidikan di Sekolah Rakyat tidak berhenti pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter melalui pendampingan sehari-hari.
“Melalui mentoring, kami mengajarkan etika, perilaku, dan pembiasaan hidup, terutama dalam kehidupan berasrama dan berteman,” jelasnya.
Arya mengingat satu momen yang membekas, ketika seorang siswa mempertanyakan masa depannya.
“Ini pertama kalinya saya bertemu anak yang bertanya, ‘Emang saya boleh punya mimpi ya, Pak?’” ujarnya.
Seni tari siswa Sekolah Rakyat. Foto: Bakom RI
Menurutnya, perubahan terbesar yang terjadi bukan hanya pada prestasi, tetapi pada keberanian siswa untuk bermimpi dan tampil percaya diri.
“Saya berharap program Sekolah Rakyat ini dapat terus berlanjut dan semakin memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata dia.