Trump Sebut Reunifikasi Irlandia Akan Jadi 'Hal Fantastis'

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Sebut Reunifikasi Irlandia Akan Jadi 'Hal Fantastis'

Willy Haryono • 13 September 2026 08:28

Dublin: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka menyatakan dukungan terhadap reunifikasi Irlandia saat melakukan kunjungan ke Dublin, Sabtu, 12 September 2026.

Trump menyampaikan pandangan tersebut saat duduk berdampingan dengan Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin. Ia mengatakan dirinya ingin melihat Irlandia bersatu, meski mengakui Inggris memiliki kepentingan dalam persoalan tersebut.

“Saya ingin melihatnya bersatu,” kata Trump kepada wartawan.

“Hal itu pada akhirnya akan terjadi. Saya pikir itu akan menjadi hal yang fantastis,” lanjutnya, dikutip dari Al Jazeera.

Trump kemudian mengakui bahwa Inggris akan memiliki pandangan sendiri mengenai masa depan Irlandia Utara. “Sekarang Inggris akan memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai hal itu. Namun, saya pikir itu akan menjadi hal yang hebat,” ucapnya.

Martin tidak memberikan tanggapan ketika wartawan meminta komentarnya mengenai pernyataan Trump.

Inggris Tegaskan Referendum Belum Diperlukan

Pernyataan Trump muncul beberapa pekan setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengatakan referendum mengenai kemungkinan Irlandia Utara meninggalkan Inggris belum menjadi agenda.

Saat menjawab pertanyaan anggota parlemen pada Rabu lalu, Burnham mengatakan dirinya tidak melihat adanya dukungan mayoritas masyarakat Irlandia Utara untuk referendum baru.

“Saya tidak mengetahui adanya dukungan publik mayoritas untuk referendum lain, dan sampai hal itu berubah, tidak akan ada referendum,” kata Burnham.

Seorang juru bicara Burnham kemudian mengatakan posisi pemerintah Inggris mengenai reunifikasi Irlandia tidak berubah setelah pernyataan Trump.

Berdasarkan Good Friday Agreement atau Belfast Agreement 1998, referendum mengenai status Irlandia Utara dapat digelar atas keputusan pemerintah Inggris.

Kesepakatan tersebut mengakhiri konflik sektarian selama sekitar tiga dekade yang dikenal sebagai The Troubles. Konflik melibatkan kelompok nasionalis yang mayoritas Katolik dan menginginkan Irlandia bersatu, kelompok unionis yang mayoritas Protestan dan ingin tetap menjadi bagian dari Inggris, serta pasukan Inggris.

DUP Tolak Campur Tangan Trump

Gavin Robinson, pemimpin Democratic Unionist Party (DUP), partai unionis utama di Irlandia Utara, menegaskan bahwa masa depan konstitusional wilayah tersebut merupakan hak masyarakat Irlandia Utara.

“Presiden Trump tahu lebih baik daripada kebanyakan orang bahwa pemilu itu penting. Masa depan konstitusional Irlandia Utara akan ditentukan oleh rakyat Irlandia Utara, bukan oleh komentar di London, Dublin atau Washington,” kata Robinson.

Sejumlah jajak pendapat masih menunjukkan mayoritas warga Irlandia Utara lebih memilih tetap menjadi bagian dari Inggris. Namun, jarak dukungan tersebut dilaporkan sedikit menyempit sejak Inggris keluar dari Uni Eropa dan isu reunifikasi kembali mendapat perhatian lebih besar.

Demonstrasi Anti-Trump

Kunjungan Trump ke Irlandia juga diwarnai demonstrasi anti-Trump dan aksi protes terhadap kebijakan perang AS.

Aksi digelar di Dublin dan sejumlah demonstrasi lainnya direncanakan berlangsung di wilayah barat Irlandia, termasuk di sekitar lapangan golf milik Trump di Doonbeg.

Para demonstran mengkritik keputusan pemerintah Irlandia yang tetap menerima Trump dengan sambutan resmi. Mereka menuding kebijakan Trump berkontribusi terhadap ketidakstabilan global, termasuk melalui dukungan AS terhadap Israel dalam konflik Gaza.

Sejumlah warga juga mempersoalkan biaya pengamanan kunjungan Trump yang dinilai dapat dialihkan untuk kebutuhan domestik seperti layanan kesehatan dan persoalan sosial.

Dalam kunjungan tersebut, Trump juga bertemu Presiden Irlandia Catherine Connolly. Connolly sebelumnya dikenal sebagai politikus dengan pandangan kebijakan luar negeri yang kritis terhadap sejumlah kebijakan militer AS.

Baca juga: Trump Tiba di Irlandia, Diplomasi hingga Turnamen Golf Jadi Agenda

(Willy Haryono)