Kebakaran Hutan akibat Gelombang Panas Meluas di Belanda, 100 Hektare Lahan Hangus

Kebakaran hutan di Belanda meluas hingga 100 hektare di Provinsi Limburg, dengan ratusan petugas dan helikopter dikerahkan. (Anadolu Agency)

Kebakaran Hutan akibat Gelombang Panas Meluas di Belanda, 100 Hektare Lahan Hangus

Willy Haryono • 4 August 2026 14:19

Amsterdam: Ratusan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan kebakaran hutan di wilayah tenggara Belanda yang telah menghanguskan sekitar 100 hektare lahan hingga Selasa, 4 Agustus 2026.

Dilansir dari Euronews, otoritas setempat menyatakan kebakaran yang terjadi di kawasan cagar alam dekat Desa Oostrum, Provinsi Limburg, hingga kini masih belum berhasil dikendalikan.

Kebakaran bermula pada Senin sore dan terus meluas sepanjang malam. Menurut pemerintah Provinsi Limburg, perubahan arah angin yang terjadi secara terus-menerus mempercepat penyebaran api.

Juru bicara badan keselamatan regional kepada kantor berita ANP mengatakan kondisi angin menjadi tantangan utama dalam upaya pemadaman.

Sekitar 300 personel layanan darurat terlibat dalam operasi pemadaman sepanjang malam.

Helikopter pemadam kebakaran juga dijadwalkan kembali melakukan penyiraman dari udara pada Selasa pagi untuk membantu mengendalikan kobaran api.

Akibat kebakaran tersebut, sebuah area perkemahan di sekitar lokasi dievakuasi, sementara layanan kereta api yang melintasi kawasan terdampak dihentikan sementara.

Kekeringan Perparah Risiko Kebakaran

Pemerintah Provinsi Limburg menyatakan kondisi kekeringan membuat api lebih mudah menyebar di kawasan hutan dan cagar alam. "Karena kekeringan, api dapat menyebar dengan cepat di kawasan konservasi," ujar pernyataan otoritas setempat.

Penyebab kebakaran hingga kini masih dalam penyelidikan.

Belanda menjadi salah satu negara di Eropa Barat yang terdampak gelombang panas dan kekeringan dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah negara di kawasan itu menghadapi penurunan debit sungai, pembatasan penggunaan air, serta meningkatnya kebakaran hutan setelah gelombang panas ekstrem yang terjadi pada Juni lalu.

Para ilmuwan dari World Weather Attribution sebelumnya memperingatkan bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia telah mempercepat hilangnya kelembapan dari tanah, danau, serta sungai, sehingga meningkatkan risiko kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan.

Baca juga:  Kebakaran Hutan di Washington Hancurkan 700 Rumah, 65.000 Warga Dievakuasi

(Willy Haryono)