Pemantauan hilal di Jepara. Foto: Metrotvnews.com/Rhobi Sani
BMKG Prediksi Hilal Belum Terlihat Sore Ini, Begini Penjelasannya
Arga Sumantri • 17 February 2026 14:11
Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ikut melakukan pemantauan hilal penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi pada Selasa, 17 Februari 2026. BMKG telah menyiapkan tim di 37 lokasi seluruh Indonesia.
Berdasarkan data hisab, posisi hilal pada 17 Februari masih berada di bawah ufuk (minus). BMKG memprediksi hilal baru akan memenuhi kriteria MABIMS (tinggi minimal 3° dan elongasi 6,4°) pada 18 Februari dengan ketinggian mencapai 7,62° hingga 10,03°.
"Meskipun begitu, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang Isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama pada 17 Februari 2026," tuli BMKG dalam keterangan resminya, Selasa, 17 Februari 2026.
BMKG menyatakan masyarakat bisa ikut menyaksikan proses pengamatan hilal secara langsung melalui live streaming di laman resmi https://hilal.bmkg.go.id/.
"Mari kita siapkan diri dengan hati yang bersih untuk menyambut bulan penuh keberkahan ini. Semoga persiapan ibadah kita semua diberikan kelancaran," tulis BMKG.

Data BMKG terkait posisi hilal 1 Ramadan 1447H/2026M. Dok BMKG
Kementerian Agama pantau hilal di 96 titik
Kementerian Agama (Kemenag) memantau hilal di 96 titik lokasi strategis. Hasil pemantauan hilal akan dibahas dalam sidang Isbat penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi yang terpusat di Hotel Borobudur, Jakarta, sore ini.Penentuan terlihat atau tidaknya hilal mengacu kriteria kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang digunakan Indonesia bersama negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan kriteria tersebut menetapkan:
- Ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam.
- Elongasi (jarak sudut bulan–matahari) minimal 6,4 derajat.
Sebelumnya, digunakan kriteria 2 derajat. Namun berdasarkan riset, hilal pada ketinggian tersebut hampir mustahil terlihat, sehingga dinaikkan menjadi 3 derajat untuk kepastian yang lebih tinggi. Sementara elongasi 6,4 derajat merujuk pada batas fisis (Danjon Limit) yang memungkinkan hilal dapat diamati.
"Kalau kita lihat perhitungan teknologi saat ini, wujud hilal (saat terbenam matahari di Indonesia) masih dalam posisi minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat," jelas Nasaruddin dikutip dari laman Kemenag, Selasa, 17 Februari 2026.
Selain faktor ketinggian dan elongasi, kondisi cuaca seperti mendung juga menjadi tantangan. "Jadi memang berlapis-lapis tantangannya. Bisa saja hari ini mendung, atau ketinggian hilal dan sudut elongasinya rendah. Semua itu kita pertimbangkan secara cermat," kata Nasaruddin.