Ilustrasi. (medcom.id)
Warga Yogyakarta Diminta Terapkan Hidup Bersih untuk Cegah Super Flu
Ahmad Mustaqim • 11 January 2026 16:22
Yogyakarta: Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menyatakan masa peralihan musim (pancaroba) hingga musim hujan berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kekhawatiran masyarakat terhadap super flu juga berkaitan dengan meningkatnya kasus ISPA sehingga kekebalan tubuh menjadi kunci utama pencegahan.
"Secara umum, flu merupakan penyakit akibat virus yang bersifat self limiting disease. Artinya, bisa sembuh dengan sendirinya apabila daya tahan tubuh kita baik," kata Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data serta Sistem Informasi Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, Minggu, 11 Januari 20026.
Masyarakat diimbau untuk meningkatkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) guna menjaga daya tahan tubuh. Langkah ini juga penting untuk mencegah penularan berbagai penyakit, termasuk super flu.
Baca Juga :
Lana menyebut super flu yang secara medis dikenal sebagai Influenza A (H3N2) subclade K memiliki gejala yang relatif lebih berat dan durasi sakit yang lebih panjang dibandingkan flu biasa. Jika flu umumnya sembuh dalam waktu dua hingga tiga hari, super flu dapat berlangsung hingga lebih dari satu minggu.
"Gejalanya meliputi demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, lemas yang lebih ekstrem, sakit kepala berat, serta batuk yang menetap cukup lama," ujarnya.
Lana mengungkapkan super flu berbeda dengan Covid-19. Virus ini menyerang saluran pernapasan bagian atas dan jarang menimbulkan gangguan berat hingga ke paru-paru, sebagaimana yang terjadi pada Covid-19. Super flu juga tidak menyebabkan kondisi berat seperti Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang membutuhkan ventilator, meskipun harus tetap diwaspadai.
Selain penyakit menular, tren peningkatan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga kasus gagal ginjal yang memerlukan cuci darah turut disorot. Menurut Lana, kondisi tersebut banyak dipengaruhi oleh pola hidup yang tidak sehat.
"Pola makan yang tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, dan kebiasaan hidup tidak sehat menjadi faktor utama meningkatnya penyakit-penyakit tersebut," ungkap Lana.
.jpg)
Ilustrasi pencegahan penyakit menular. Foto: Istimewa.
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta berharap masyarakat tetap tenang namun waspada, disiplin menerapkan PHBS, menjaga asupan gizi seimbang, istirahat cukup, dan berolahraga secara teratur. Bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penderita penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi, diimbau untuk lebih berhati-hati dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala.
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu mengatakan lembaganya telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi dari sisi tata laksana pelayanan kesehatan dan kesiapan logistik.
Endang menyatakan upaya pencegahan yang dilakukan pada prinsipnya seperti saat pandemi Covid-19, yakni menggunakan masker saat sakit atau berada di kerumunan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta membatasi interaksi sosial bagi warga yang sedang sakit.
"Kami menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, serta logistik sesuai dengan gejala yang mungkin muncul, seperti demam dan batuk pilek," ucap Endang.