Dari Rugi Jadi Untung, Transformasi BUMN Mulai Terlihat di Era Danantara

Ilustrasi Gedung Wisma Danantara. Foto: dok Danantara.

Dari Rugi Jadi Untung, Transformasi BUMN Mulai Terlihat di Era Danantara

Ade Hapsari Lestarini • 1 July 2026 22:03

Jakarta: Setahun setelah Danantara Indonesia mulai menjalankan perannya sebagai pengelola aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sejumlah perusahaan pelat merah mencatatkan perbaikan kinerja keuangan. Peningkatan laba terjadi di berbagai sektor, mulai dari perbankan, energi, pupuk, manufaktur, hingga logistik.

 
CEO Danantara Indonesia sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan kekuatan BUMN tidak hanya diukur dari besarnya aset maupun laba, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pembangunan nasional.
 
Menurut Rosan, kapitalisasi pasar gabungan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kini mencapai sekitar Rp1.100 triliun atau sekitar 10 persen dari total kapitalisasi pasar perusahaan di Indonesia.
 
"Bank Himbara itu kurang lebih nilainya sekitar Rp1.100 triliun, yang mencerminkan 10 persen dari nilai seluruh capital market atau seluruh nilai perusahaan Indonesia. Perbankan juga semata-mata tidak hanya mengejar dari segi laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya ke masyarakat, ke rakyat dalam bentuk pemberian persamaan kesempatan dari segala lapisan, dari UMKM, komersial maupun korporasi," ujar Rosan, dikutip Rabu, 1 Juli 2026.
 
Sepanjang periode April 2025 hingga April 2026, sejumlah BUMN membukukan pertumbuhan laba. PT Pupuk Indonesia meningkatkan laba konsolidasi dari Rp1,59 triliun menjadi Rp4,82 triliun.
 
PT Pertamina (Persero) juga mencatat kenaikan laba konsolidasi dari Rp13,9 triliun menjadi Rp24,97 triliun. Perbaikan kinerja turut terjadi pada sejumlah perusahaan di sektor lain.

 

Sejumlah BUMN berbalik untung

 
Transformasi juga terlihat pada beberapa BUMN yang sebelumnya membukukan kerugian.
 
PT Krakatau Steel membalikkan kerugian Rp981 miliar menjadi laba Rp635 miliar, seiring penurunan utang dari sekitar USD1,7 miliar menjadi USD1,1 miliar.
 
PT Danareksa mencatat perbaikan dari rugi Rp72 miliar menjadi laba Rp43 miliar. Sementara itu, PT Kimia Farma membukukan laba Rp108 miliar setelah sebelumnya merugi Rp160 miliar.
 
Perbaikan juga terjadi pada PT Len Industri yang beralih dari rugi Rp228 miliar menjadi laba Rp314 miliar, serta PT Semen Indonesia yang mencatatkan kenaikan dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar.
 
COO Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan perbaikan kinerja tersebut perlu diikuti dengan peningkatan pembiayaan ke sektor-sektor produktif.
 
"Perbankan BUMN memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Dukungan pembiayaan harus terus diarahkan kepada sektor-sektor produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujar Dony.
 
Menurut dia, pembiayaan untuk sektor manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, hingga UMKM perlu terus diperkuat dengan tetap mengedepankan tata kelola perusahaan dan manajemen risiko.
 
Pandangan serupa disampaikan Anggota Komisi VI DPR Asep Wahyuwijaya. Menurut dia, daya saing BUMN harus dibangun melalui profesionalisme, kualitas layanan, dan tata kelola perusahaan yang baik.
 
"Kita tentu ingin BUMN terus tumbuh dan mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Tetapi pertumbuhan itu harus dibangun melalui kemampuan sendiri, kualitas layanan, dan kinerja yang unggul, bukan dengan budaya meminta perlakuan khusus," kata Asep.

(Ade Hapsari Lestarini)