Presiden Belarus Jadi Kepala Negara Pertama Menginap di Istana Negara saat Kunjungan

Menteri Luar Negeri Sugiono jelaskan Presiden Belarus Alexander Lukashenko menginap di Istana Negara. Foto: Kemlu.go.id

Presiden Belarus Jadi Kepala Negara Pertama Menginap di Istana Negara saat Kunjungan

Muhammad Reyhansyah • 2 July 2026 16:14

Jakarta: Presiden Belarus Alexander Lukashenko menjadi kepala negara pertama yang menginap di Istana Negara selama melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Keputusan tersebut diambil Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk penghormatan kepada tamu negara.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan semula Lukashenko direncanakan menginap di Wisma Negara. Namun, Presiden Prabowo memutuskan Istana Negara lebih representatif untuk menerima Presiden Belarus.

"Presiden yang pertama menginap di Istana Negara," kata Menlu Sugiono di Istana Negara, Kamis, 2 Juli 2026.

Menlu Sugiono menjelaskan, pada umumnya tamu negara yang melakukan kunjungan kenegaraan memilih menginap di hotel. Sementara itu, rencana awal bagi Lukashenko adalah bermalam di Wisma Negara sebelum akhirnya dipindahkan ke Istana Negara.

"Awalnya di Wisma Negara, tetapi Pak Presiden menilai yang lebih representatif adalah di Istana. Biasanya juga kalau kunjungan kenegaraan, presiden-presiden lain memilih menginap di hotel, tetapi kali ini beliau berkehendak untuk tinggal di Istana," ujarnya.

Menurut Menlu Sugiono, tamu negara terakhir yang menginap di Wisma Negara adalah mantan Perdana Menteri Kamboja Hun Sen.

Hubungan RI-Belarus Memasuki Babak Baru

Menlu Sugiono mengatakan kunjungan Lukashenko merupakan kunjungan balasan setelah Presiden Prabowo Subianto melakukan lawatan ke Belarus pada Juli 2025.

Ia menilai hubungan bilateral Indonesia dan Belarus kini memasuki fase baru yang lebih erat, ditandai dengan semakin intensifnya kerja sama di berbagai bidang, termasuk setelah penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU-CEPA) yang telah diratifikasi Belarus.

"Ini menunjukkan bahwa hubungan bilateral kita memasuki, kalau saya boleh katakan, tahap yang baru yang lebih intensif," kata Sugiono.

Dalam kunjungan tersebut, kedua negara meluncurkan peta jalan (roadmap) kerja sama bilateral yang mencakup berbagai sektor strategis. Fokus kerja sama diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan ketahanan energi, termasuk pengembangan sektor pertanian serta penyediaan bahan baku pupuk dari Belarus.

Selain itu, Menlu Sugiono mengungkapkan forum bisnis Indonesia-Belarus yang digelar menjelang kunjungan kenegaraan menghasilkan potensi kerja sama senilai sekitar USD500 juta.

"Kalau saya tidak salah, laporannya itu 500 juta dolar. Dan saya kira kedua presiden sepakat bahwa angka-angka yang ada, baik di bidang perdagangan maupun investasi, merupakan angka-angka yang perlu terus ditingkatkan untuk kemajuan kedua negara," pungkas Menlu Sugiono.

(Fajar Nugraha)