Ilustrasi: gelombang di laut Sulawesi Tenggara. ANTARA/La Ode Muh Deden Saputra
Gelombang Tinggi 2,5 Meter Ancam Perairan Sultra hingga 9 Juli
Lukman Diah Sari • 6 July 2026 15:31
Kendari: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para nelayan di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) untuk meningkatkan kewaspadaan terkait potensi gelombang tinggi yang diprakirakan dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter di wilayah tersebut. Berdasarkan data peringatan dini, potensi gelombang tinggi tersebut berlaku mulai 6 Juli 2026 pukul 08.00 Wita hingga 9 Juli 2026, pukul 08.00 Wita.
"Pola angin umumnya bertiup dari arah timur hingga Selatan dengan kecepatan berkisar antara 2 sampai 15 knot," kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari Zaenuddin saat dihubungi di Kendari, Senin, 6 Juli 2026, melansir Antara.
Pihaknya memberikan catatan khusus mengenai saran keselamatan pelayaran, terutama bagi para nelayan tradisional dan operator kapal yang menggunakan armada berukuran kecil hingga sedang. Kondisi yang dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan tersebut meliputi perahu nelayan yang berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran apabila kecepatan angin di laut mencapai 15 knot dan tinggi gelombang menyentuh 1,25 meter.
"Kemudian juga kapal tongkang yang berisiko tinggi apabila tetap beroperasi ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dengan tinggi gelombang naik hingga 1,5 meter," ujar dia.

Ilustrasi gelombang tinggi. Foto: dok. Media Indonesia.
BMKG memetakan tiga titik perairan utama di wilayah Bumi Anoa dan sekitarnya yang berpeluang mengalami kenaikan gelombang mulai dari 1,25 hingga 2,5 meter selama tiga hari ke depan, antara lain Teluk Bone Barat Kabaena, Perairan Baubau, dan Perairan Wakatobi bagian barat. Selain itu BMKG meminta kewaspadaan ekstra di beberapa titik perairan sekitarnya seperti Perairan Wakatobi bagian timur dan Laut Banda timur Wakatobi.
"Masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi diimbau agar selalu waspada dan terus memantau pembaruan informasi cuaca langsung melalui kanal resmi BMKG," jelas dia.