Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam. (Anadolu Agency)
Lebanon Tegaskan Tak Mau Negosiasinya dalam Konflik Diwakilkan Iran
Willy Haryono • 11 April 2026 18:10
Beirut: Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima pihak lain, termasuk Iran, untuk bernegosiasi atas nama Lebanon terkait penyelesaian konflik Timur Tengah.
Dikutip dari Asharq al-Awsat, Sabtu, 11 April 2026, pernyataan ini disampaikan di saat Lebanon dilaporkan tidak terlibat langsung dalam proses negosiasi yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, meski sebelumnya sempat disebut akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut.
Menjelang pengumuman gencatan senjata, kelompok Hizbullah asal Lebanon telah lebih dulu menghentikan operasi militernya. Sementara itu, otoritas Lebanon berupaya menghubungi pihak-pihak terkait untuk memperoleh kejelasan mengenai posisi negara tersebut dalam kesepakatan.
Sementara itu, Presiden Joseph Aoun menyambut baik pengumuman gencatan senjata selama 15 hari antara AS dan Iran. Ia mengapresiasi peran sejumlah negara, termasuk Pakistan, Mesir, dan Turki, dalam mendorong tercapainya kesepakatan tersebut.
Aoun berharap gencatan senjata ini menjadi langkah awal menuju penyelesaian konflik yang lebih komprehensif di kawasan, dengan tetap menghormati kedaulatan setiap negara.
Ia juga menekankan bahwa kekerasan bukan solusi dalam penyelesaian konflik, serta menegaskan bahwa hak untuk mengambil keputusan terkait perang dan perdamaian sepenuhnya berada di tangan negara.
Lebanon, lanjut Aoun, akan terus berupaya memastikan stabilitas kawasan dapat meluas ke wilayahnya secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menyatakan bahwa Lebanon sebenarnya termasuk dalam cakupan kesepakatan gencatan senjata tersebut. Namun, ia menuding Israel belum mematuhi kesepakatan di wilayah Lebanon.
Berri mengatakan pihaknya telah menghubungi Pakistan untuk menyampaikan pelanggaran tersebut dan meminta agar Amerika Serikat memberikan tekanan kepada Israel.
Ia juga menyebut telah menerima sejumlah jaminan bahwa Lebanon merupakan bagian dari kesepakatan, meski tidak menutup kemungkinan adanya upaya untuk melemahkan implementasinya.
Baca juga: Iran Tegaskan Tak Mau Bernegosiasi dengan AS jika Serangan di Lebanon Berlanjut