Hujan Meteor di langit Filipina. (ARMAN ALCORDO JR./Pexels)
Daftar 14 Fenomena Astronomi Bulan Juni 2026, Cek Tanggal dan Cara Mengamatinya
Riza Aslam Khaeron • 4 June 2026 20:35
Jakarta: Juni 2026 menjadi bulan yang sangat istimewa bagi para pengamat langit. Sepanjang bulan ini, langit malam dan bahkan siang akan diramaikan oleh beragam fenomena astronomi menarik yang sayang untuk dilewatkan: mulai dari hujan meteor, konjungsi planet, solstis, hingga purnama penuh indah yang dikenal dengan nama Strawberry Moon.
Dengan berbekal kalender astronomi ini, siapa pun dapat mempersiapkan diri untuk menyaksikannya. Tidak harus menggunakan teleskop, tapi juga bisa dengan hanya mata telanjang.
Berikut adalah jadwal 14 fenomena langit pada bulan Juni yang tidak boleh dilewatkan oleh para pencinta astronomi:
1. Hujan Meteor Arietid (7–10 Juni 2026)
Salah satu fenomena pembuka pada Juni 2026 adalah hujan meteor Arietid. Mengutip Layanan Atmosfer, Geofisika, dan Astronomi Filipina (PAGASA), puncak fenomena ini terjadi pada 7 Juni 2026 dengan Zenithal Hourly Rate (ZHR) mencapai sekitar 50 meteor per jam dalam kondisi langit ideal. Arietid juga masih berpeluang diamati menjelang fajar sekitar tanggal 10 Juni 2026.Arietid dikenal sebagai salah satu hujan meteor siang hari yang paling aktif sepanjang tahun. Karena sebagian besar aktivitasnya berlangsung setelah Matahari terbit, waktu terbaik untuk mencoba mengamatinya adalah sesaat sebelum fajar dari lokasi yang minim polusi cahaya, dengan mengarahkan pandangan ke arah timur.
2. Bulan Perbani Akhir (8 Juni 2026)
Fase Bulan perbani akhir akan terjadi pada 8 Juni 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Pada fase ini, separuh permukaan Bulan akan tampak terang jika dilihat dari Bumi. Bulan biasanya baru terbit sekitar tengah malam dan masih dapat terlihat dengan jelas hingga pagi hari.Fase perbani akhir ini juga menjadi penanda berkurangnya cahaya Bulan menuju fase Bulan baru. Artinya, langit malam akan berangsur lebih gelap dan menjadi sangat kondusif untuk mengamati benda-benda langit yang redup.
3. Konjungsi Venus dan Jupiter (8–10 Juni 2026)
Venus dan Jupiter akan menyajikan salah satu pemandangan langit paling memukau pada Juni 2026. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan bahwa kedua planet paling terang ini akan tampak berdekatan setelah Matahari terbenam, dengan puncak konjungsi terjadi sekitar 9 Juni 2026.Jarak sudut keduanya berkisar 1,7 derajat pada 8 Juni dan 1,6 derajat pada 9 Juni. Sementara itu, PAGASA mencatat bahwa papasan dekat (close approach) antara Venus dan Jupiter akan terjadi pada 10 Juni 2026 sekitar pukul 02.48 WIB.
Pasangan Venus-Jupiter ini tetap dapat diamati di posisi rendah pada langit barat setelah Matahari terbenam sepanjang periode 8–10 Juni.
4. Konjungsi Bulan dan Saturnus (10 Juni 2026)
Masih pada tanggal yang sama, yaitu 10 Juni 2026, Bulan sabit tua akan tampak berdekatan dengan Saturnus. PAGASA mencatat konjungsi ini terjadi sekitar pukul 18.41 WIB.Momen presisi keduanya tidak selalu mudah diamati dari semua lokasi. Meski begitu, pasangan Bulan dan Saturnus ini tetap menjadi pemandangan menarik di langit pagi sekitar pukul 04.45, sebelum akhirnya memudar akibat pendar cahaya Matahari.
5. Konjungsi Bulan dan Mars (13 Juni 2026)
Bulan akan tampak mendekati Mars pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 04.15 WIB. Pada momen tersebut, Bulan akan melintas sekitar 5 derajat di sebelah utara Mars.Fenomena ini paling menarik jika diamati menjelang fajar. Menurut PAGASA, pasangan Bulan dan Mars ini mulai dapat terlihat sejak pukul 04.00 di arah timur, meskipun pengamatan pada momen puncaknya mungkin akan sedikit terganggu oleh cahaya fajar yang mulai menyingsing di cakrawala.
6. Bulan Baru (15 Juni 2026)
Fase Bulan baru akan terjadi pada 15 Juni 2026 sekitar pukul 09.54 WIB. Pada fase ini, sisi Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapatkan cahaya Matahari secara langsung, sehingga Bulan sama sekali tidak tampak di langit malam.Momen Bulan baru merupakan waktu terbaik sepanjang bulan untuk mengamati benda-benda langit yang redup seperti bintang, gugus bintang, nebula, hingga lengan galaksi Bima Sakti. Minimnya cahaya Bulan membuat langit menjadi jauh lebih gelap, terutama jika diamati dari lokasi yang bebas dari polusi cahaya kota.
7. Bulan di Titik Perigee (15 Juni 2026)
Pada hari yang sama, Bulan juga akan mencapai titik perigee, yaitu posisi terdekatnya dengan Bumi dalam siklus orbit bulanan. PAGASA mencatat Bulan berada di perigee pada pukul 06.20 WIB dengan jarak sekitar 357.305 kilometer dari Bumi.Karena bertepatan dengan fase Bulan baru, fenomena ini memang tidak akan terlihat sebagai purnama yang besar. Namun secara astronomis, momen ini tetap penting karena menandakan posisi Bulan yang sedang berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi sepanjang bulan Juni.
| Baca Juga: Ledakan Guncang Fasilitas Hanwha Aerospace di Korea Selatan |
8. Elongasi Timur Maksimum Merkurius (16 Juni 2026)
Merkurius akan mencapai elongasi timur maksimum pada 16 Juni 2026 sekitar pukul 03.00 WIB, dengan jarak sudut dari Matahari mencapai sekitar 24,5 derajat. Ini merupakan salah satu waktu terbaik untuk mengamati planet terdekat dari Matahari tersebut sepanjang tahun.Merkurius biasanya sangat sulit dideteksi karena posisinya yang selalu dekat dengan Matahari di langit. Namun, selama periode elongasi maksimum ini, planet terkecil di tata surya kita akan tampak lebih jauh dari silau Matahari dan dapat dicari di posisi rendah pada langit barat sesaat setelah Matahari terbenam.
9. Konjungsi Bulan dan Venus (18 Juni 2026)
Konjungsi antara Bulan dan Venus akan terjadi pada 18 Juni 2026 sekitar pukul 03.21 WIB. Disusul oleh momen close approach sekitar pukul 03.30 WIB.NASA menyebutkan bahwa sehari sebelumnya, yakni pada 17 Juni, Bulan akan tampak sangat dekat dengan Venus. di beberapa wilayah seperti sebagian Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan Venezuela, bahkan sempat terjadi fenomena okultasi (Bulan menghalangi Venus)
Para pengamat di Indonesia juga bisa menyaksikannya. Konfigurasi estetis antara Bulan sabit muda dan Venus ini terjadi di langit barat setelah Matahari terbenam.
.jpg)
Pemandangan langit malam yang menakjubkan di Graz, Austria, menampilkan hujan meteor dan Galaksi Bima Sakti. (Ahmet Yuksek/Pexels)
10. Solstis Juni (21 Juni 2026)
Solstis Juni akan terjadi pada 21 Juni 2026 sekitar pukul 15.24 WIB. Pada momen ini, Matahari berada di posisi paling utara dalam gerak semu tahunannya di langit.Fenomena ini menandai dimulainya musim panas astronomis di belahan bumi utara sekaligus awal musim dingin astronomis di belahan bumi selatan. Bagi wilayah di sebelah utara garis ekuator, solstis Juni identik dengan hari dengan siang terpanjang dan malam terpendek sepanjang tahun.
11. Bulan Perbani Awal (22 Juni 2026)
Fase Bulan perbani awal akan terjadi pada 22 Juni 2026 sekitar pukul 04.55 WIB. Separuh permukaan Bulan akan kembali tampak terang dari Bumi, menandai perjalanan Bulan menuju fase purnama penuh.Bulan perbani awal biasanya dapat terlihat jelas sejak sore hingga malam hari. Fase ini sangat menarik bagi pengamat yang menggunakan teleskop, karena bayangan di sepanjang garis pembatas siang-malam (terminator) membuat kawah dan pegunungan Bulan tampak lebih kontras dan detail.
12. Hujan Meteor June Bootid (27 Juni 2026)
Hujan meteor June Bootid diprediksi mencapai puncaknya pada 27 Juni 2026. PAGASA mencatat bahwa fenomena ini memiliki ZHR yang bervariasi, sehingga jumlah meteor yang melintas bisa berbeda secara signifikan dari tahun ke tahun.Menurut data dari In-The-Sky.org, June Bootid aktif mulai tanggal 22 Juni hingga 2 Juli 2026, dengan titik radian yang berada di konstelasi Boötes. Meteor-meteor ini berasal dari sisa debu Komet 7P/Pons-Winnecke.
Sayangnya, pengamatan pada tahun 2026 berpotensi sedikit terganggu oleh cahaya Bulan. Waktu puncaknya hanya berjarak dua hari dari fase Bulan purnama.
13. Bulan di Titik Apogee (28 Juni 2026)
Bulan akan berada di titik apogee atau posisi terjauhnya dari Bumi pada 28 Juni 2026 sekitar pukul 14.11 WIB. Jaraknya sekitar 406.224 kilometer dari Bumi.Berbeda dengan perigee, fenomena apogee memang tidak mudah dibedakan secara visual dengan mata telanjang. Namun bagi pengamat amatir maupun profesional, catatan ini penting karena menandai siklus perubahan jarak dinamis Bulan dari Bumi—bergerak dari titik terdekat pada 15 Juni menuju titik terjauh hanya dalam waktu 13 hari kemudian.
14. Bulan Purnama/Strawberry Moon (30 Juni 2026)
Menutup akhir Juni 2026, terdapat fenomena indah yang paling mudah dinikmati oleh siapa saja, yaitu Bulan purnama. Purnama Juni akan mencapai puncaknya pada 30 Juni 2026 sekitar pukul 06.57 WIB, dan dikenal dengan nama tradisional Strawberry Moon.Nama Strawberry Moon sendiri bukan berarti Bulan akan berubah warna menjadi merah muda seperti buah stroberi. Penamaan ini berakar dari tradisi suku asli di Amerika Utara untuk menandai musim panen stroberi liar yang jatuh pada bulan Juni. Bagi pengamat langit di mana pun berada, purnama akhir Juni ini akan menjadi penutup yang anggun bagi rangkaian fenomena astronomi sepanjang bulan.
Dari hujan meteor Arietid di awal bulan hingga Strawberry Moon sebagai penutup. Bulan Juni menawarkan setidaknya 14 fenomena astronomi yang layak untuk disaksikan.
Tidak semua fenomena tersebut membutuhkan teleskop atau peralatan khusus. Sebagian besar bisa dinikmati cukup dengan mata telanjang, langit yang cerah, dan sedikit kesabaran menunggu waktu yang tepat. Tandai kalendermu, dan jangan lewatkan satu pun keindahan di atas sana.