Paus Leo XIV dalam pemulihan pascaoperasi. Foto: Vatican News
Pascaoperasi, Paus Leo XIV Bisa Berjalan Kembali
Fajar Nugraha • 15 October 2026 08:19
Vatikan City: Pemulihan Paus Leo XIV pascaoperasi berjalan sesuai harapan dan Paus pun sudah mulai berjalan di dalam kamar rumah sakit serta makan secara normal.
Pernyataan Takhta Suci Vatikan pada Rabu 14 Oktober 2026 mengatakan, dokter mengumumkan bahwa Paus berusia 71 tahun itu sedang menjalani perawatan untuk kanker paru-paru.
Para pemimpin dunia, umat Katolik di seluruh dunia, dan para kardinal senior di Vatikan telah memanjatkan doa bagi Paus Leo setelah sebagian paru-paru kanannya diangkat dalam sebuah operasi pada Selasa 13 Oktober 2026.
“Tes darah dan rontgen dada yang dilakukan pada Rabu menunjukkan hasil pascaoperasi yang normal,” ujar Vatikan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis 15 Oktober 2026.
Diagnosis kanker terhadap seorang Paus yang dikenal relatif muda dan energik -,serta baru terpilih pada Mei 2025,- menimbulkan keterkejutan dan memunculkan pertanyaan mengenai masa depan masa kepausannya saat beliau berjuang melawan penyakit tersebut.
Paus Leo biasanya menjalani jadwal yang sangat padat. Beliau dijadwalkan melakukan kunjungan ke Uruguay, Argentina, dan Peru dari 6 hingga 17 November, dan kantor pers Vatikan menyatakan pada hari Rabu bahwa "tidak ada perubahan" terkait rencana perjalanan tersebut.
Namun, Presiden Peru Keiko Fujimori mengatakan pada hari Rabu bahwa tanggal kunjungan tersebut bisa berubah mengingat waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan beliau.
Paus merupakan otoritas tertinggi di dunia bagi 1,4 miliar umat Katolik dan tidak memiliki wakil yang dapat mengambil alih tugas saat beliau sakit. Ketika seorang Paus berhalangan menjalankan tugas, roda birokrasi Vatikan yang luas tetap berjalan seperti biasa, namun menunda keputusan apa pun yang memerlukan persetujuan Paus.
Doa untuk Paus Leo
Sebuah doa dipanjatkan agar Paus Leo menjalani masa pemulihan yang baik dan sembuh total dalam Misa terbuka di Lapangan Santo Petrus pada hari Rabu, menyusul operasi yang telah dijalaninya.Paus didiagnosis menderita adenokarsinoma paru, jenis kanker paru yang paling umum. Dalam operasi yang berlangsung pada hari Selasa, dokter mengangkat lobus bawah paru-paru kanannya sebagai upaya untuk menyingkirkan seluruh jaringan kanker.
Paru-paru manusia terdiri dari lima lobus, tiga di paru-paru kanan dan dua di paru-paru kiri.
Operasi tersebut berlangsung selama sekitar 90 menit dan berjalan tanpa komplikasi, ungkap kepala ahli bedah Paus, Profesor Stefano Margaritora, serta dokter pribadinya, Dr. Luigi Carbone, pada Selasa malam.
Pihak Vatikan belum mengungkapkan ukuran tumor tersebut ataupun apakah penyakit itu telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya—faktor-faktor kunci dalam menentukan prognosis.
Dr. Serena Ricciardi, seorang spesialis kanker paru di Rumah Sakit San Camillo Forlanini, Roma, mengatakan bahwa jika kanker tersebut belum menyebar ke kelenjar getah bening Paus Leo, maka operasi tersebut mungkin sudah cukup sebagai pengobatan.
"Jika tidak ada masalah lebih lanjut atau keterlibatan kelenjar getah bening, kita bisa menganggap operasi ini bersifat kuratif (menyembuhkan)," ujar Ricciardi.
"Penyakit tersebut telah diangkat sepenuhnya,” kat Ricciardi.
Paus Leo tergolong relatif muda untuk ukuran seorang pemimpin Gereja. Beliau gemar berolahraga, termasuk tenis, dan tidak diketahui sebagai perokok ataupun memiliki masalah kesehatan dalam waktu dekat ini.
Agenda kegiatan dibatalkan
Vatikan menyatakan minggu ini bahwa Paus diperkirakan akan tetap berada di rumah sakit selama sekitar satu minggu, dan seluruh agenda kegiatan publik beliau telah dibatalkan hingga 20 Oktober.Misa pada Rabu merupakan penutup dari pertemuan para uskup yang diselenggarakan oleh Paus Leo untuk membahas ajaran Gereja mengenai kehidupan keluarga—pertemuan pemimpin Gereja terbesar sejauh ini selama masa kepausannya.
Kardinal asal Filipina, Luis Tagle, memimpin ibadah tersebut menggantikan Paus Leo. Pekan lalu, Paus menunjuk Tagle sebagai dekan Kolegium Kardinal Gereja, yang menjadikannya rohaniwan Asia pertama yang terpilih untuk menduduki posisi elit tersebut.
Para pemimpin politik turut menyampaikan pesan dukungan.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa ia dan istrinya, Jeanette, mendoakan Paus—seorang warga Amerika yang lahir di Chicago.
"Semoga Tuhan memberinya kekuatan dan Roh Kudus membimbing para tenaga medis yang merawat Bapa Suci," ujarnya di X. Rubio bertemu dengan Paus di Vatikan pada bulan Mei.
Belum ada tanggapan segera di media sosial dari Presiden AS Donald Trump ,-yang pernah mengkritik Paus,- maupun dari Wakil Presiden JD Vance, yang merupakan seorang penganut Katolik.