Sejarah Perempuan Harus Jadi Bahan Ajar Generasi Muda

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa.

Sejarah Perempuan Harus Jadi Bahan Ajar Generasi Muda

Gabriella Thesa Widiari • 24 October 2026 00:14

Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan sejarah perempuan Indonesia merupakan bagian utama dari sejarah nasional dan bukan sekadar catatan pinggir. Dokumen perjuangan perempuan dinilai harus dijadikan bahan ajar yang membentuk pemahaman generasi muda.

"Perempuan itu ikut menulis kemerdekaan. Para pendahulu kita menuliskannya melalui pendidikan, organisasi, dan perjuangan sosial," kata Lestari saat peluncuran buku Wanita Syarikat Islam: Peran Historis dalam Dinamika Kebangsaan Indonesia di Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2026.

Lestari yang akrab disapa Rerie menilai rekam jejak historis tersebut memberi teladan serta warisan pemikiran bagi generasi penerus. Dokumentasi perjuangan perempuan diharapkan dapat menjadi rujukan literasi secara berkelanjutan.

"Buku ini harus menjadi rujukan, bukan hanya dipamerkan," tegas Rerie.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menyoroti rekam jejak perempuan Islam dalam berbagai momentum kunci kebangsaan sejak Kongres Perempuan Indonesia 1928 hingga keterlibatan Maria Ulfah dalam perumusan pasal kesetaraan hukum konstitusi 1945. Keterlibatan organisasi perempuan Islam juga tercatat dalam pengawalan pengesahan Undang-Undang Perkawinan pada 1974.

"Banyak hal yang memang harus kita perjuangkan bersama-sama tanpa lelah," ujar Rerie.


Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Foto: Istimewa. 

Rerie turut menyoroti keterwakilan perempuan di lembaga legislatif yang masih minim serta beban budaya kewajiban perawatan. Perempuan diharapkan mampu menembus batasan tersebut serta dapat mandiri secara ekonomi.

"Perempuan yang berpengetahuan dan berdaya, ekosistem yang mendukung perempuan dan keluarga, serta partisipasi dalam demokrasi dan pembangunan adalah tiga hal yang menjadi harapan kami," kata Rerie.

Rerie berharap gagasan dalam buku tersebut menjadi basis literasi perjalanan perempuan sekaligus jembatan antara warisan perjuangan pendahulu dan lahirnya generasi penerus. Peluncuran buku ini digelar dalam rangkaian Mukernas Wanita Syarikat Islam 2026.

"Sejarah bukan hanya tentang siapa yang diperhatikan, tetapi juga tentang perjuangan apa yang kita lakukan," pungkas Rerie.

(Gabriella Thesa Widiari)