Iustrasi industri tekstil. Foto: dok Kemenperin.
Revitalisasi Industri Tekstil Perlu Dorong Produktivitas dan Daya Saing
Ade Hapsari Lestarini • 27 September 2026 08:55
Jakarta: Revitalisasi industri tekstil nasional dinilai perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga modernisasi teknologi, produktivitas, kualitas produk, dan daya saing ekspor.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Sarlina Sari mengatakan penguatan industri tekstil perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi manufaktur nasional.
"Industri tekstil memiliki posisi penting dalam perjalanan industrialisasi Indonesia. Selain berkontribusi terhadap kegiatan produksi dan ekspor, sektor ini memiliki keterkaitan dengan penyerapan tenaga kerja, industri pendukung, serta aktivitas ekonomi di berbagai daerah," ujar Sarlina dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 27 September 2026.
Pemerintah saat ini tengah membahas penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk pembaruan mesin, dukungan pembiayaan, insentif investasi, serta pengembangan kawasan yang mengintegrasikan industri dari hulu hingga hilir.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengarahkan perbankan anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk kembali memberikan pembiayaan kepada industri TPT, terutama untuk pembaruan mesin produksi. Pemerintah juga membahas insentif investasi bagi sektor tersebut.
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Rosan Roeslani mengatakan Danantara juga menyiapkan rencana pengembangan kawasan khusus yang mengintegrasikan industri tekstil dari hulu hingga hilir. Pemerintah turut membuka opsi pengembangan entitas baru maupun penguatan perusahaan tekstil yang sudah ada.
Menurut Sarlina, investasi dalam revitalisasi industri tekstil perlu menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, inovasi teknologi, serta kemampuan industri menembus pasar global.
"Danantara memiliki posisi strategis dalam mendorong investasi jangka panjang yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Dukungan terhadap industri tekstil akan semakin berarti apabila diarahkan pada modernisasi teknologi, penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan pasar ekspor," kata dia.
Sarlina menilai ukuran keberhasilan revitalisasi tidak cukup dilihat dari besarnya investasi atau peningkatan kapasitas produksi. Dampak terhadap produktivitas, ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan penguatan industri pendukung juga perlu diperhatikan.
"Investasi pada industri tekstil harus menghasilkan nilai tambah yang nyata. Ukurannya bukan hanya besarnya dana yang masuk, tetapi juga peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas, ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan keberlanjutan industri," ujar dia.


Tantangan industri tekstil
Industri tekstil nasional menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari persaingan global, perubahan rantai pasok, tekanan biaya produksi, perubahan permintaan pasar, hingga kebutuhan modernisasi mesin dan teknologi.
Karena itu, Sarlina mengatakan revitalisasi membutuhkan transformasi yang mencakup teknologi, sumber daya manusia, tata kelola, pembiayaan, rantai pasok, inovasi, dan akses pasar.
"Industri tekstil Indonesia perlu bergerak menuju industri yang lebih produktif, berbasis teknologi, inovatif, efisien, dan memiliki daya saing global," jelasnya.
Selain investasi dan modernisasi, Sarlina menekankan pentingnya tata kelola dan akuntabilitas dalam investasi berskala besar. Menurutnya, setiap investasi perlu disertai indikator kinerja yang jelas agar dampaknya dapat diukur secara transparan.
Indikator tersebut antara lain peningkatan produktivitas industri, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, penguatan industri pendukung, peningkatan daya saing produk nasional, serta kontribusi terhadap perekonomian.
"Sinergi antara pemerintah, Danantara, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam memastikan agenda revitalisasi berjalan secara berkelanjutan," ucap Sarlina.
Menurut dia, revitalisasi industri tekstil dapat menjadi momentum untuk memperkuat kembali sektor manufaktur dengan pendekatan yang lebih modern dan sesuai dengan perkembangan teknologi.
"Tantangannya adalah memastikan kebijakan dan investasi yang dirancang dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas industri, daya saing, ekspor, serta manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," tuturnya.
Sarlina menilai industri tekstil perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem manufaktur yang dikembangkan melalui inovasi, teknologi, investasi, dan penguatan sumber daya manusia.