Sejumlah pengunjung melintasi zona aman dari fenomena Blue Fire di Taman Wisata Alam Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (27/9/2026). ANTARA/Feri Purnama
Fenomena Blue Fire, Bupati Garut Imbau TWA Gunung Papandayan Ditutup untuk Wisatawan
Lukman Diah Sari • 28 September 2026 19:47
Garut: Fenomena Blue Fire muncul di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengimbau agar kawasan tersebut ditutup sementara demi keselamatan wisatawan.
"Tentu saja saya mengimbau supaya ditutup, tapi tanya dulu koordinasi dengan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi)," kata Bupati kepada wartawan di Garut, Senin, 28 September 2026, melansir Antara.
Baca Juga :
"Ya, kan ada, yang saya tahu itu berpotensi racun," ujar dia.
Ia menegaskan, dengan adanya potensi bahaya dari fenomena alam di kawah tersebut, sebaiknya daerah itu tidak didekati pengunjung untuk menghindari risiko bahaya. Jika kawasan tersebut tidak dibatasi, kata dia, pemerintah daerah akan mendapatkan teguran karena mengabaikan keselamatan, sehingga sebaiknya dievaluasi dan ada peringatan dini sampai menunggu rekomendasinya aman.
"Itu bahaya, kalau ada apa-apa kita ditegur," kata dia.

Suasana kawasan kawah Gunung Papandayan yang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dan kemunculan api biru (blue fire) pada 24 September 2026. (ANTARA/HO-BBKSDA Jabar)
Sebelumnya, Manager Operasional TWA Gunung Papandayan Amin Kaban menyampaikan kawasan kawah yang memunculkan fenomena Blue Fire merupakan kawasan jalur pendakian. Sejak adanya fenomena pada 23 September 2026 itu, kata dia, kawasan jalur pendakian tersebut sudah ditutup untuk umum, khususnya wisatawan.
Namun wisatawan, kata Amin, masih bisa melihat keindahan alam Gunung Papandayan dari zona aman di kawasan parkir. Ia menyampaikan fenomena Blue Fire itu sudah tidak terlihat lagi secara kasat mata, berbeda dengan hari pertama kemunculannya yang cukup lebar, kemudian hari berikutnya mengecil sampai akhirnya tidak tampak lagi.
Meski fenomena tersebut sudah tidak terlihat lagi, kata dia, pihaknya tetap menunggu rekomendasi dari Badan Geologi terkait keamanan daerah tersebut sebelum kembali dibuka untuk dilintasi wisatawan.