Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Mojtaba Khamenei. Foto: Press TV
Mojtaba Khamenei Anggap Kebijakan AS Tak Akan Berubah usai Pemilu Sela
Fajar Nugraha • 5 November 2026 07:18
Teheran: Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa siapa pun yang mengharapkan perubahan kebijakan Amerika Serikat terhadap negaranya adalah pihak yang “sangat keliru”.
Pernyataan ini disampaikan beberapa jam setelah pemilihan paruh waktu memberikan pukulan telak bagi Presiden Donald Trump.
“Mereka yang masih menaruh harapan, sekecil apa pun, bahwa perilaku sistem hegemonik dapat berubah melalui pergeseran partisan atau faksi, atau mereka yang membayangkan bahwa memberikan konsesi kepada Amerika Serikat dapat menghentikan permusuhannya terhadap bangsa Iran, adalah pihak yang sangat keliru,” ujar Khamenei dalam pernyataan tertulis yang diterbitkan di situs webnya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis 5 November 2026.
Pemimpin Tertinggi Iran itu menyatakan bahwa kendali Iran atas Selat Hormuz telah mematahkan “mitos tentang ketangguhan Amerika yang tak terkalahkan”. Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan baru dari AS akan memicu respons yang jauh lebih luas.
Pernyataan Khamenei ini disampaikan bertepatan dengan peringatan peristiwa pendudukan kedutaan besar AS di Teheran pada tahun 1979, yang setiap tahun diperingati oleh Iran sebagai “Hari Nasional Perjuangan Melawan Arogansi Global”.
“Jika terjadi pelanggaran berulang, dampaknya akan meluas ke skala yang jauh lebih besar,” kata Mojtaba Khamenei, seraya memperingatkan bahwa serangan baru AS terhadap Iran dapat memicu konflik yang lebih luas.
Trump sendiri mengakui bahwa perang AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada bulan Februari kemungkinan memengaruhi kinerja buruk Partai Republik dalam pemilihan umum tersebut. Namun, ia berpendapat bahwa para pemilih bereaksi terhadap kenaikan harga bensin, bukan terhadap kampanye militer itu sendiri.
“Menurut saya bukan karena perang itu,” ujarnya kepada Fox News pada hari Selasa.
“Menurut saya karena harga bensin,” imbuh Trump.
“Masyarakat setuju dengan langkah yang saya ambil terhadap Iran, tetapi mungkin mereka tidak siap menanggung konsekuensi jangka pendek berupa harga bensin yang lebih mahal,” tegas Trump.
Trump juga membuka kemungkinan adanya serangan besar baru terhadap Iran. Dalam program Fox & Friends pada hari Selasa, ia menyebutkan bahwa ada pihak-pihak yang mendesak dilakukannya apa yang ia gambarkan sebagai “serangan telak”.
“Banyak orang ingin melakukan serangan telak tersebut. Banyak juga yang tidak,” katanya. ‘Rakyat Amerika mengatakan TIDAK PADA PERANG’
Komentar Khamenei muncul di saat seorang pejabat tinggi Iran lainnya menyampaikan nada yang lebih lunak pada hari Rabu, menyusul hasil pemilu AS yang mencatat kemenangan bersejarah bagi Partai Demokrat, yang kini menguasai kedua kamar di Kongres.
“Entah karena hati nurani atau beban biaya hidup, rakyat Amerika mengatakan TIDAK PADA PERANG, dan kami mendukung pesan ini,” ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, kepala negosiator Iran untuk urusan dengan Washington sekaligus Ketua Parlemen Iran.
“Jika pemerintah AS mengkhianati kehendak rakyatnya demi melayani pihak-pihak internasional yang mendanai atau melakukan pemerasan, mereka akan menyadari bahwa kata ‘TIDAK’ dari kami akan berujung pada mimpi buruk,” tambah Ghalibaf melalui platform X.
Mohammad Mokhber, penasihat sekaligus asisten Pemimpin Tertinggi Iran, menyatakan bahwa Trump telah “ditampar wajahnya oleh rakyatnya sendiri”.
“Pemenang sejati dalam arena ini adalah Iran, yang berhasil mengalihkan beban biaya perang ke Amerika Serikat,” tulisnya di X.
Balas dendam murni
Namun, Trita Parsi, wakil presiden eksekutif di Quincy Institute for Responsible Statecraft, memperingatkan bahwa kemenangan Partai Demokrat justru dapat meningkatkan risiko eskalasi oleh Trump dalam jangka pendek.“Ia menunjukkan pola perilaku di mana, saat menghadapi penghinaan dan kekalahan, ia justru menjadi semakin nekat,” ujar Parsi.
Ia menambahkan bahwa Trump mungkin merespons hasil pemilu ini dengan meningkatkan serangan terhadap Iran, semata-mata sebagai bentuk “balas dendam murni”.
Parsi memperingatkan bahwa periode dari sekarang hingga Januari—sebelum Partai Demokrat resmi memegang kendali atas Kongres—bisa menjadi masa yang sangat tidak stabil, mengingat Partai Demokrat mungkin akan memanfaatkan mayoritas kursi mereka yang baru untuk membatasi pendanaan bagi perang tersebut.
“Kombinasi antara waktu yang kian menipis baginya dan sikap yang semakin nekat akibat kekalahan menciptakan periode yang sangat berbahaya selama dua bulan ke depan,” kata Parsi.
AS telah memberi peringatan bahwa mereka mungkin akan melancarkan kampanye militer yang singkat namun intens terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu.
Hamidreza Moghadamfar, penasihat bagi panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran, menegaskan bahwa Iran akan menyasar target-target di luar pangkalan militer AS jika negara-negara Teluk mengizinkan Washington melancarkan serangan dari wilayah mereka. Saat berbicara dalam sebuah rapat umum di Bandar Abbas, ia menyebut Uni Emirat Arab dan Bahrain, seraya mengatakan bahwa Iran akan merespons dengan “doktrin baru dan teknologi baru”.
Trump menyatakan bahwa AS siap untuk bertindak, namun mengisyaratkan bahwa serangan lain mungkin tidak diperlukan selama harapan untuk mencapai solusi melalui perundingan masih ada.
“Saya siap, kami siap. Kami sudah bersiap sepenuhnya jika harus bertindak, tetapi mungkin tidak ada alasan untuk melakukan itu,” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.