Ratko Mladic "Penjagal Bosnia" meninggal dunia di tahanan. Foto: Anadolu
Ratko Mladic si “Penjagal Bosnia” Meninggal Dunia dalam Penjara PBB
Fajar Nugraha • 28 August 2026 09:32
Beograd: Ratko Mladic, yang dijuluki "Penjagal Bosnia" karena perannya dalam pembantaian Srebrenica, meninggal dunia dalam tahanan PBB pada usia 84 tahun.
Mladic divonis bersalah melakukan genosida karena mendalangi pembantaian sedikitnya 8.000 Muslim pada tahun 1995 di "zona aman" Bosnia yang ditetapkan PBB dan dianggap sebuah kekejaman terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.
Pembantaian di Srebrenica merupakan puncak mengerikan dari perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun, di mana sang jenderal setiap hari membombardir ibu kota Sarajevo yang terkepung menggunakan artileri, tank, mortir, dan senapan mesin berat milik pasukan nasionalis Serbia yang dipimpinnya, yang menewaskan 10.000 orang.
Jenazah para korban Srebrenica didorong menggunakan buldoser ke dalam kuburan massal selama empat hari pada Juli 1995, sebagian di antaranya kemudian digali kembali dan dipindahkan ke daerah pegunungan terpencil demi menyembunyikan bukti pembunuhan tersebut.
Tujuannya, sebagaimana ditetapkan oleh Pengadilan Pidana Internasional PBB untuk Bekas Yugoslavia (ICTY), adalah "pembersihan etnis"—yakni pengusiran paksa terhadap Muslim Bosnia, Kroasia, dan kelompok non-Serbia lainnya guna mengosongkan wilayah Bosnia demi mewujudkan "Serbia Raya"
Pengadilan tersebut menyatakan bahwa Mladic, bersama mendiang Presiden Serbia Slobodan Milosevic dan pemimpin politik Serbia-Bosnia Radovan Karadzic, merupakan bagian dari konspirasi kriminal untuk melaksanakan rencana tersebut.
"Saya tidak mengakui pengadilan ini," ujar Mladic, yang dijuluki Penjagal Bosnia oleh lawan-lawannya dalam sidang ICTY terkait kasusnya pada 2014.
Saat dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 2017, ia berteriak: "Ini semua bohong, kalian semua pembohong!"
“Mladic meninggal dunia dalam tahanan PBB pada hari Kamis,” ungkap pengacaranya, Dragan Ivetic, tanpa menyebutkan penyebab kematiannya, seperti dikutip dari Euronews, Jumat 28 Agustus 2026.
Ivetic menambahkan bahwa Mladic menghabiskan bulan-bulan terakhirnya di bangsal rumah sakit pusat penahanan PBB tempat ia ditahan, yang berlokasi di pinggiran kota Den Haag. Menurut putranya, dokumen mencantumkan tanggal lahir Mladic pada 12 Maret 1942, namun sebenarnya ia lahir pada 8 Maret 1943.
Jerman punya Hitler, Serbia punya Mladic
Karadzic,yang juga divonis bersalah atas genosida pada tahun 2016 dan Mladic menempati urutan teratas daftar buronan ICTY selama bertahun-tahun setelah kekuatan Barat mengakhiri perang. Namun, hingga Milosevic digulingkan oleh gerakan rakyat pada tahun 2000, Mladic hidup dengan aman -,meski secara diam-diam,- di Beograd.Milosevic meninggal dalam tahanan pada 11 Maret 2006, beberapa bulan sebelum putusan dijatuhkan dalam persidangan empat tahun yang mengadilinya atas tuduhan genosida dan kejahatan perang lainnya di Kroasia, Bosnia, dan Kosovo.
Pasukan yang dibentuk Mladic untuk bertempur di Bosnia merupakan perwujudan kekejaman, keberanian nekat, dan kebrutalan yang mencerminkan tradisi pejuang Serbia. Ini adalah sifat-sifat yang pernah dijunjung tinggi dalam perjuangan hidup-mati kaum partisan melawan pendudukan Nazi di Yugoslavia selama Perang Dunia II.
Dalam beberapa contoh yang paling mengerikan, para tahanan tewas karena sesak napas akibat hawa panas setelah dipaksa memakan garam dan tidak diberi air minum. Mereka dibuat kelaparan dan diperkosa di kamp-kamp tahanan, dipaksa melompat dari jembatan lalu ditembaki. Serta diberondong peluru pada malam hari dalam jumlah ratusan setelah dipaksa keluar dari tempat penahanan menggunakan gas kimia.
"Bagi saya, Mladic adalah simbol dari segala kejahatan mengerikan yang terjadi selama perang, gadis-gadis kami diperkosa dan anak-anak laki-laki dibunuh, semata-mata karena mereka Muslim," ujar Munira Subasic, yang putra dan suaminya tewas di tangan pasukan Serbia Bosnia setelah wilayah Srebrenica dikuasai.
"Jerman punya Hitler, Serbia punya Mladic. Tidak ada bedanya antara keduanya,” lanjut Subasic.
Mladic memerintahkan seorang juru kamera untuk merekam serangan kilat terhadap kantong wilayah Srebrenica yang sedang dikepung; rekaman itu memperlihatkan dirinya sedang memuji "pasukan"-nya dan memaki pasukan penjaga perdamaian PBB asal Belanda yang secara keliru memercayai janjinya bahwa keselamatan penduduk akan terjamin di bawah kendalinya.
Srebrenica saat itu berstatus sebagai "zona aman" yang dimaksudkan untuk melindungi warga sipil dari pembersihan etnis.
"Kami memberikan kota ini kepada rakyat Serbia sebagai hadiah," ujar Mladic di depan kamera, mengklaim kemenangan tersebut sebagai pembalasan terhadap orang-orang Turki Muslim, yang pernah menguasai wilayah itu sebagai bagian dari Kesultanan Utsmaniyah.
Keesokan harinya, pasukan Mladic terekam sedang membagikan permen kepada anak-anak dan menjanjikan jalan keluar yang aman bagi mereka. Sementara itu, ribuan pria dan anak laki-laki sedang dipersiapkan untuk dieksekusi.
Ketika NATO berupaya mengendalikan pasukannya pada 1995 melalui ancaman serangan udara terbatas, pasukannya justru dengan berani menyandera pasukan penjaga perdamaian PBB untuk dijadikan perisai manusia, dengan merantai mereka pada lokasi-lokasi yang kemungkinan menjadi sasaran serangan.
Pada November 1996, Mladic dan para jenderal senior akhirnya menyerah pada tekanan kuat Barat agar ia mundur dari jabatannya, sesuai perintah Presiden Serbia Bosnia Biljana Plavsic—yang menggantikan Karadzic dan belakangan dipenjara akibat perannya dalam kejahatan perang.
Putra tentara Perang Dunia II
Sebagai putra seorang pejuang partisan Perang Dunia II yang gugur pada tahun 1945, Mladic merupakan perwira di Tentara Rakyat Yugoslavia (JNA) yang beraliran komunis ketika disintegrasi Yugoslavia bermula pada 1991.Saat etnis Serbia Bosnia bangkit melawan upaya pemisahan diri Bosnia yang dipimpin oleh pihak Muslim pada tahun 1992, Mladic ditunjuk untuk memimpin tentara Serbia Bosnia yang baru dibentuk; pasukan ini dengan cepat menguasai 70 persen wilayah negara yang tidak memiliki akses laut tersebut.
Puluhan kota dikepung menggunakan persenjataan berat eks-JNA dan desa-desa dibakar habis, sementara 22.000 personel Pasukan Perlindungan PBB (UNPROFOR) hanya bisa menyaksikan tanpa daya -,atau dengan kemampuan yang sangat terbatas,- karena terikat perintah untuk tidak memihak.
Tekanan keras serta pasokan senjata dan pelatihan rahasia dari Amerika bagi pihak Kroasia dan Muslim secara bertahap membalikkan keadaan melawan pasukan Mladic. Serangan tegas NATO kemudian menuntaskan sisanya.
Sakit dan lemah
Meski ada desakan dari Barat, kelompok reformis yang memimpin Serbia setelah jatuhnya Milosevic tidak berani bertindak terhadap sosok yang dianggap pahlawan oleh kalangan nasionalis Serbia garis keras.Ia sempat terlihat sesekali di arena pacuan kuda atau pertandingan sepak bola di Beograd. Pada tahun 2004, NATO menyebut ia sempat bersulang dengan rekan-rekan lama yang gemar minum keras di bekas bungkernya di Han Pijesak, Bosnia.
Saat akhirnya ditangkap pada tahun 2011, ia tidak melakukan perlawanan. Lengan kanannya lumpuh, tampaknya akibat stroke yang tidak ditangani. Penampilannya jauh berbeda dari sosok jenderal bertubuh kekar berseragam loreng yang pernah mengacak-acak rambut seorang anak laki-laki di Srebrenica pada tahun 1995.
Ia mengalami serangan jantung pada tahun 2013 dan tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Menurut pengakuannya sendiri, ia merasa seperti pria tua yang lemah.
Dalam beberapa kali kemunculannya di pengadilan, sikapnya berubah-ubah antara mengasihani diri sendiri, menunjukkan sikap menantang sambil tersenyum, hingga tampak linglung.
"Saya orang yang sangat sakit," ujar Mladic memohon kepada pengadilan.
Pada 2019, Mladic mengatakan kepada para hakim bahwa kondisinya terlalu sakit untuk mengikuti kegiatan olahraga di luar ruangan dan meminta izin untuk mengunjungi makam anggota keluarganya di Serbia. Permintaan itu ditolak.
Bandingnya terhadap vonis bersalah ditolak pada tahun 2021, begitu pula dengan permintaan berulang kali agar ia dibebaskan atas dasar kemanusiaan.
Pada Agustus 2026, seorang dokter PBB menyatakan bahwa kematian Mladic "bisa terjadi kapan saja"—mungkin dalam hitungan minggu—namun permohonan pembebasannya kembali ditolak karena dianggap tidak sejalan dengan kepentingan keadilan.