Suasana posko logistik bantuan gempa Flores, NTT. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Kopi Manis Mengawali Misi Kemanusiaan di Flores
Anggi Tondi Martaon • 29 August 2026 19:26
Nagekeo: Menikmati kopi manis menjadi salah satu ritual wajib para relawan di salah satu posko pusat bantuan gempa di Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kopi yang dicampur gula itu jadi awal sumber energi bagi relawan, sebelum beraktivitas menyalurkan bantuan bagi korban gempa NTT.
Setidaknya, satu ceret kopi selalu tersedia di pagi hari. Satu per satu tangan silih berganti menuangkan kopi dalam gelas plastik atau kaca, yang dibawa sendiri dari dapur. Duduk melingkar mengitari meja, relawan berbincang ringan sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Mereka menyusun rencana pengantaran bantuan logistik gempa hari ini.
Setelah bersepakat soal rencana, kopi ditinggalkan dan mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yg mengangkat beras dari tempat penyimpanan ke bak mobil, ada yang bertugas menyusun bantuan di atas mobil, hingga mengepak beberapa jenis kebutuhan pokok dalam tas.
Beras, minyak, mi instan, dan gula yang diberikan salah satu perusahaan pelat merah untuk disalurkan pada warga penyintas gempa. Sedangkan barang-barang lain, seperti popok, kasur, bantal, dan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan korban.
Meluncur di bawah sinar matahari, mereka duduk di atas tumpukan barang bantuan menyusuri jalanan. Hamparan tanah Pulau Flores yang dihiasi tenda berwarna oranye maupun terpal menjadi pemandangan yang biasa dilihat relawan setiap hari. Sebab, pulau tersebut luluh lantak setelah diguncang gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Ada rumah yang masih berdiri dengan dinding retak dan bolong. Ada juga rumah yang menyisakan atap karena dinding rumah sudah rata dengan tanah. Sesekali, terlihat orang yang tengah sibuk membereskan puing bangunan.
Setelah beberapa saat, laju mobil mulai melambat dan memasuki sebuah lapangan yang sudah dipenuhi tenda. Kemudian, mobil terparkir dan relawan turun menghampiri para korban dan menjelaskan tujuan mereka.

Relawan tengah berdiskusi menentukan barang bantuan yang akan dibawa untuk diserahkan kepada pengungsi. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.
Setelah berbincang sesaat, relawan tersebut memberi kode kepada rekannya yang menunggu di mobil untuk menurunkan barang bantuan. Barang-barang tersebut ditumpuk di salah satu tenda yang menjadi posko utama pengungsian. Sejumlah warga ikut membantu menurunkan bantuan sehingga proses bongkar berlangsung lebih cepat.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara penutup bak mobil dipasang. Tandanya, proses bongkar barang bantuan diselesaikan. Salah satu relawan kemudian bersalaman dengan sejumlah warga dan pamit pulang. Relawan lain pun kembali naik dan berdiri di atas bak mobil sambil melambaikan tangan kepada masyarakat.
"Terimakasih bapak, hati-hati di jalan," seru masyarakat tersebut.
Perlahan, iringan seruan 'hati-hati di jalan' menghilang, digantikan suara mesin mobil dan tiupan angin. Relawan mulai duduk menyender di bak mobil sambil mencari posisi ternyaman. Sebab, mereka kembali menghabiskan waktu di perjalanan selama empat jam menuju posko.
Menyusuri jalan Pulau Flores dilakukan setiap hari dari pagi hingga sore, bahkan malam. Hal tersebut dilakukan relawan sejak gempa mengguncang. Mereka tetap semangat menjalani misi kemanusiaan tersebut selama ada segelas kopi dan senyum masyarakat.