Gedung Pemkot Tangsel. Foto: Istimewa.
Upaya Pemkot Tangsel Antisipasi Dampak Inflasi Global
Anggi Tondi Martaon • 1 April 2026 17:14
Tangsel: Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) berupaya membentengi stabilitas ekonomi daerah dari hantaman ketidakpastian global yang kian ekstrem. Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dunia, ditambah fase transisi ekonomi pasca-libur Idulfitri 2026, otoritas setempat mempercepat realisasi belanja dan intervensi pasar guna menjaga daya beli masyarakat.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), TB Asep Nurdin menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak ingin kecolongan dengan potensi transmisi inflasi global ke level domestik. Lebih lanjut Asep menyampaikan bahwa percepatan belanja daerah menjadi instrumen utama dalam memberikan stimulus pada perputaran ekonomi lokal di tengah ancaman geopolitical risk premium yang melambungkan harga minyak mentah.
“Pimpinan menyadari gejolak geopolitik global saat ini, terutama eskalasi konflik AS-Israel dengan Iran, memiliki risiko nyata terhadap kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok pangan dunia. Oleh sebab itu, pemerintah mengantisipasi dampak tersebut dengan mempercepat realisasi belanja daerah serta menggencarkan berbagai program intervensi ekonomi,” ujar Asep melalui keterangan tertulis, Rabu, 1 April 2026.
Langkah agresif ini diambil mengingat situasi geopolitik di Timur Tengah telah memicu volatilitas harga minyak dunia yang menembus level psikologis baru. Kenaikan harga BBM global dikhawatirkan berdampak pada membengkaknya biaya logistik nasional, yang pada gilirannya dapat mengerek harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional Tangsel.
Dengan likuiditas yang mengalir lebih cepat ke pasar melalui proyek-proyek pemerintah dan pengadaan barang jasa, diharapkan daya serap ekonomi masyarakat tetap terjaga meski tekanan inflasi dari sektor energi mengintai.
“Termasuk menggencarkan berbagai program intervensi untuk mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ancaman inflasi, terutama setelah Idulfitri 2026. Kami berusaha tetap menjaga konsumsi dalam negeri. Jadi, semua belanja pemda ini dikeluarkan secara tepat dan dalam waktu yang cepat agar manfaatnya langsung dirasakan,” ungkap Asep.

Gedung Pemkot Tangsel. Foto: Istimewa.
Selain fokus pada sisi fiskal daerah, Pemkot Tangsel memperkuat jaring pengaman sosial dan stabilisasi harga di tingkat akar rumput. Sejak memasuki Ramadan hingga pasca-Lebaran, rentetan program seperti bazar murah dan operasi pasar telah digelar secara masif di tujuh kecamatan.
Program ini bertujuan memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan pokok dengan harga yang terjangkau. Serta, mengantisipasi efek domino dari kenaikan biaya transportasi logistik akibat krisis global.
Tak hanya mengandalkan instrumen formal pemerintahan, Pemkot Tangsel juga mengintegrasikan kekuatan sosial-keagamaan dalam menjaga ketahanan ekonomi. Penyaluran zakat, infak, dan sedekah melalui jaringan masjid di bawah supervisi pemerintah daerah ikut digerakkan sebagai instrumen redistribusi kekayaan yang efektif bagi warga terdampak.
“Ini salah satu strategi kita secara ekonomi dan sosial untuk mempertahankan daya beli masyarakat. Kami terus mencermati ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berpotensi berdampak pada distribusi barang. Gejolak tersebut bisa berdampak pada kelangkaan minyak dan hambatan jalur logistik, sehingga berimbas pada inflasi di daerah,” sebut Asep.
Sebagai wilayah yang sangat bergantung pada kelancaran logistik, Tangsel cukup rentan terhadap fluktuasi harga energi global. Mantan Wakil Wali Kota Tangsel dua periode ini pun menyatakan bahwa pihaknya melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan monitoring harian terhadap harga-harga komoditas di pasar.
Langkah mitigasi ini diharapkan mampu meredam volatilitas harga yang dipicu oleh sentimen negatif pasar global terhadap konflik Iran-Israel. “Kami terus mencermati perkembangan dan dampaknya terhadap harga-harga kebutuhan pokok di Tangsel. Monitoring dilakukan secara ketat agar kita bisa segera mengambil tindakan jika terjadi anomali harga di lapangan akibat tekanan eksternal ini,” ujar Asep.