122 Prodi Ditutup, Ekonom Ingatkan Kebutuhan Industri Sangat Dinamis

Ilustrasi Pexels

122 Prodi Ditutup, Ekonom Ingatkan Kebutuhan Industri Sangat Dinamis

Muhamad Marup • 3 June 2026 21:29

Jakarta: Sebanyak 122 program studi (prodi) di perguruan tinggi ditutup selama 2026 ini. Ekonom dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wisnu Setiadi Nugroho, mengingatkan, kebijakan menutup prodi yang sepi peminat atau tidak relevan dengan industri jangan hanya berhenti pada aspek ekonomi.

Ia menilai, terdapat penyederhanaan yang berbahaya dari kebijakan menutup prodi yang sepi peminat atau tidak relevan dibungkus jargon link and match. Menurutnya, kebutuhan industri sullit diprediksi dan diikuti secara stabil sebab perubahan teknologi berlangsung jauh lebih cepat daripada siklus pendidikan.

"Apa yang hari ini dianggap relevan bisa dengan sangat cepat menjadi usang. Dalam kondisi seperti ini, memaksa kampus mengejar kebutuhan industri justru seperti berlari mengejar bayangan,” ujar Wisnu, mengutip situs resmi UGM, Rabu, 3 Juni 2026.

World Economic Forum (WEF) menunjukkan bahwa sekitar 44 persen keterampilan kerja diperkirakan akan berubah dalam lima tahun ke depan. Laporan McKinsey & Company memperkirakan hingga 30 persen aktivitas kerja global berpotensi diotomatisasi pada 2030.

Sebaliknya, kata Wisnu, keterampilan yang bertahan melintasi zaman justru bersifat mendasar seperti berpikir kritis, kemampuan analitis, komunikasi, dan pemahaman sosial. Data dari National Association of Colleges and Employers (NACE) secara konsisten menunjukkan bahwa kompetensi seperti problem solving, komunikasi, dan teamwork selalu berada di posisi teratas dalam kebutuhan pemberi kerja, melampaui keterampilan teknis spesifik. 

"Justru keterampilan fundamental inilah yang diasah secara sistematis dalam ilmu dasar, humaniora, dan ilmu sosial, bidang-bidang yang kerap diposisikan sebagai prodi tidak laku," jelasnya.

Belajar dari CEO

Wisnu menerangkan, narasi terkait bidang STEM (Sains, Teknologi, Engineering, Matematika) saja yang memiliki nilai ekonomi juga tidak ditopang oleh fakta. Studi terhadap pimpinan perusahaan besar menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan mereka sangat beragam.

Banyak pemimpin global tidak berasal dari jalur teknis semata. Susan Wojcicki, misalnya, memiliki latar belakang sejarah dan sastra sebelum memimpin YouTube, salah satu platform digital terbesar di dunia.

Howard Schultz (mantan CEO Starbucks) berasal dari ilmu komunikasi, sementara Ken Chenault (mantan CEO American Express) menempuh studi sejarah. Bahkan, berbagai analisis terhadap perusahaan Fortune 500 menunjukkan bahwa proporsi signifikan CEO memiliki latar belakang non teknis, termasuk humaniora dan ilmu sosial.

"Fakta tersebut menjadi krusial. Keberhasilan di puncak kepemimpinan organisasi tidak semata ditentukan oleh keterampilan teknis, melainkan oleh kemampuan membaca konteks, memahami kompleksitas manusia, dan mengambil keputusan strategis," katanya.

Prodi Tak Relevan Tidak Harus Ditutup, Kampus Bisa Lakukan Hal Ini

Ilustrasi Pexels


Wisnu menekankan, pendidikan yang terlalu sempit pada kebutuhan teknis justru berisiko mengabaikan fondasi kepemimpinan itu sendiri. Menurutnya, inovasi tidak lahir dari kepatuhan terhadap tren, melainkan dari kemampuan melampauinya berbasis interaksi lintas disiplin.

"Jika kampus direduksi sekadar menjadi penyedia tenaga kerja, ruang eksperimen intelektual yang melahirkan inovasi justru akan tergerus," ucapnya.

(Muhamad Marup)