Hussein al-Sheikh dipilih sebagai wakil pimpinan Fatah. Foto: Anadolu
Gerakan Fatah Palestina Pilih Hussein al-Sheikh sebagai Wakil Pemimpin Baru
Fajar Nugraha • 4 June 2026 09:59
Ramallah: Komite Sentral dari gerakan Palestina, Fatah resmi memilih Hussein al-Sheikh sebagai wakil pemimpin barunya.
Juru bicara gerakan tersebut, Iyad Abu Zneit, menyampaikan kepada Anadolu bahwa keputusan ini diambil dalam rapat perdana Komite Sentral yang baru terbentuk, menyusul pemilihan resmi anggotanya dalam Konferensi Umum Kedelapan Fatah bulan lalu.
Sebelumnya, tokoh senior Fatah, Mahmoud al-Aloul telah menjabat sebagai wakil ketua gerakan tersebut sejak tahun 2017 dan menjadi orang pertama yang menduduki posisi tersebut. Melalui keputusan terbaru ini, Hussein al-Sheikh resmi menjadi orang kedua yang mengemban jabatan wakil pemimpin dalam sejarah gerakan tersebut.
Pada 18 Mei lalu, Fatah mengumumkan keterpilihan 18 anggota Komite Sentral dan 80 anggota Dewan Revolusioner sebagai bagian dari rangkaian agenda konferensi kedelapan mereka.
Komite Sentral sendiri merupakan badan kepemimpinan tertinggi dalam gerakan Fatah yang dipimpin langsung oleh ketua umum, sementara Dewan Revolusioner berfungsi sebagai parlemen sekaligus badan pengawas yang bertugas memantau kinerja Komite Sentral serta mendiskusikan arah kebijakan gerakan.
Hasil resmi awal dari konferensi tersebut menunjukkan bahwa 18 anggota yang terpilih masuk ke dalam jajaran Komite Sentral termasuk Yasser Abbas, yang merupakan putra dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Pada hari pertama dari konferensi yang berlangsung selama tiga hari tersebut, Fatah juga secara aklamasi memperbarui masa jabatan Mahmoud Abbas sebagai presiden sekaligus komandan umum gerakan.
Fatah menyelenggarakan Konferensi Kedelapan mereka di Ramallah bulan lalu, yang menandai ketiga kalinya gerakan tersebut menggelar konferensi besar di dalam wilayah Palestina.
Sebelumnya, konferensi keenam sukses digelar pada tahun 2009 di Bethlehem, wilayah selatan Tepi Barat, diikuti oleh konferensi ketujuh pada tahun 2016 di Ramallah, wilayah tengah Tepi Barat.
(Kelvin Yurcel)