Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Foto: Kementrans.
Menteri Transmigrasi Minta Rekrutmen TEP 2026 Bebas Titipan
Fachri Audhia Hafiez • 2 June 2026 19:30
Jakarta: Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, memberikan arahan kepada seluruh perguruan tinggi mitra pelaksana rekrutmen Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Kepala Negara melalui kementeriannya meminta agar seluruh proses seleksi hingga pengumuman akhir peserta dijalankan secara transparan, objektif, profesional, serta akuntabel demi menjaga kepercayaan publik.
“Keberhasilan Program Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang diberangkatkan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga kepercayaan publik terhadap proses yang dijalankan,” ujar Iftitah di Jakarta, dikutip melalui keterangan tertulis, Selasa, 2 Juni 2026.
Baca Juga :
10 Ribu Peserta Daftar Ekspedisi Patriot 2026
Iftitah mengungkapkan, antusiasme generasi muda terhadap program TEP tahun ini melonjak sangat luar biasa. Hingga batas akhir penutupan pendaftaran, tercatat sebanyak 10.359 peserta dari hampir 1.992 perguruan tinggi di seluruh penjuru Indonesia yang mendaftarkan diri. Sementara itu, total kuota yang dialokasikan pemerintah sangat terbatas, yakni hanya mencakup sekitar 1.230 peserta dan 246 ketua tim.
Tingginya angka pendaftar ini dinilai sebagai sinyal positif bahwa semangat kepemimpinan, gotong royong, dan pengabdian masih tertanam kuat di sanubari anak muda bangsa. Untuk itu, kementerian memberikan mandat penuh kepada pihak kampus mitra agar melakukan penyaringan secara ketat sesuai standar akademik dan integritas tinggi tanpa adanya intervensi dari pihak mana pun.
Iftitah memastikan sama sekali tidak ada instruksi khusus, hak istimewa, maupun titipan nama dari pejabat tertentu untuk meloloskan peserta secara sepihak. Seluruh indikator penilaian wajib dibuka secara gamblang kepada publik.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Foto: Dok. Kementerian Transmigrasi.
“Tim Ekspedisi Patriot tidak mencari peserta yang memiliki akses atau kedekatan paling kuat, melainkan peserta yang memiliki kapasitas terbaik untuk mengabdi kepada Indonesia. Lebih baik kita kehilangan peserta yang memiliki kedekatan, daripada kehilangan peserta terbaik yang memiliki kapasitas,” tegas Iftitah.
Lebih lanjut, ia meminta jajarannya dan pihak universitas mengarsipkan seluruh dokumen penilaian dengan rapi sebagai instrumen akuntabilitas dan bahan evaluasi program di masa depan. Ia juga membesarkan hati para pendaftar yang nantinya belum beruntung lolos seleksi kuota. Menurutnya, hal tersebut murni karena keterbatasan daya tampung, bukan karena mereka tidak kompeten.
Sebagai langkah keberlanjutan, Kementerian Transmigrasi akan memfasilitasi seluruh pendaftar yang tidak lolos ke dalam wadah Komunitas Sahabat Patriot. Platform ini disiapkan sebagai ruang pembelajaran, pengembangan kapasitas diri, serta kolaborasi pengabdian bagi pemuda Indonesia.
“Seluruh pendaftar adalah aset bangsa. Yang membedakan hanyalah kesempatan dan waktu pengabdiannya,” ucap Iftitah.