Fortifikasi Beras Dinilai Jadi Solusi Efektif Atasi Kelaparan Tersembunyi di Indonesia

Ilustrasi beras. Foto: Medcom.id

Fortifikasi Beras Dinilai Jadi Solusi Efektif Atasi Kelaparan Tersembunyi di Indonesia

Husen Miftahudin • 25 June 2026 11:34

Jakarta: Indonesia tengah menghadapi kedaruratan senyap (silent emergency) berupa kelaparan tersembunyi (hidden hunger) yang dipicu defisiensi zat besi kronis. Kondisi tersebut mendorong peningkatan angka anemia di berbagai wilayah.

Pakar kesehatan publik menilai intervensi paling strategis untuk mengatasi persoalan itu dapat dilakukan melalui fortifikasi beras sebagai bahan pangan pokok utama masyarakat.

Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia Nina Sarjunani menilai intervensi melalui bahan pangan pokok menjadi langkah paling realistis untuk mengatasi kekurangan mikronutrien.

Nina menjelaskan, selama ini ada tiga pendekatan utama dalam mengurangi defisiensi mikronutrien. Pertama, diversifikasi pangan dengan mendorong konsumsi karbohidrat, sayuran, dan protein yang lebih beragam. Namun, pendekatan ini kerap terkendala daya beli masyarakat.

Kedua, suplementasi yang secara teknis lebih sederhana, tetapi tingkat kepatuhan konsumsi suplemen masih menjadi tantangan. "Yang paling cost-effective adalah fortifikasi," ujar Nina pada pertemuan bertajuk Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market yang diinisiasi Millers for Nutrition, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 25 Juni 2026.

Indonesia sendiri telah menerapkan berbagai program fortifikasi, seperti garam beryodium, tepung terigu yang diperkaya zat besi dan seng, serta minyak goreng dengan tambahan vitamin A. Meski fortifikasi tepung terigu dinilai efektif, Nina mengingatkan komoditas tersebut bukan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia.

Karena itu, fokus intervensi dinilai perlu dialihkan ke beras, mengingat sekitar 95 persen penduduk Indonesia mengonsumsinya setiap hari. Menurut Nina, fortifikasi beras menjadi intervensi dengan hambatan rendah (low-friction) karena tidak mengubah pola konsumsi masyarakat. Warga tetap memasak dan mengonsumsi nasi seperti biasa, tetapi memperoleh tambahan zat besi dan mikronutrien penting lainnya.

Ia menyebut, peningkatan nilai gizi dari skema tersebut cukup besar dengan tambahan biaya produksi sekitar Rp1.000 per kilogram.
 

Baca juga: Stok Beras RI Dipastikan Aman hingga Mei 2027


(Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia Nina Sarjunani. Foto: dok Istimewa)
 

Hadapi tantangan besar dari hulu hingga hilir


Anggota komite penasihat Millers for Nutrition Budianto Wijaya mengungkapkan perluasan skala fortifikasi beras di Indonesia masih menghadapi tantangan operasional. Menurut dia, sektor penggilingan padi di Indonesia sangat terfragmentasi, mulai dari industri besar hingga penggilingan kecil di pedesaan.

Kondisi tersebut membuat penyelarasan regulasi, standarisasi mutu, dan distribusi menjadi lebih kompleks. Saat ini, beras fortifikasi masih banyak dipasarkan sebagai produk premium dengan harga relatif lebih tinggi dan pangsa pasar terbatas.

Padahal, peluang terbesar justru berada pada penyaluran ke kelompok rentan melalui bantuan pangan pemerintah, program kesehatan ibu dan anak, serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Budianto menyebut, pihaknya telah membahas peluang integrasi beras fortifikasi dalam program MBG. Saat ini, garam dan minyak goreng yang digunakan dalam program tersebut sudah lebih dulu difortifikasi.

Selain tantangan logistik, pengembangan beras fortifikasi juga menghadapi hambatan dari sisi persepsi publik. Nina menilai tingkat kesadaran masyarakat masih rendah, sehingga pasar rentan terhadap disinformasi, termasuk isu hoaks terkait "beras plastik" yang sempat memengaruhi kepercayaan konsumen.

Di sisi lain, harga juga masih menjadi persoalan karena selama ini beras fortifikasi kerap masuk kategori beras khusus dengan bahan baku premium. Panel pelaku industri beras mengusulkan pembangunan industri Fortified Rice Kernels (FRK), penguatan sektor penggilingan, serta pembukaan jalur distribusi komersial sebagai langkah percepatan.

Forum tersebut mempertemukan pelaku penggilingan padi, ritel modern, dan pegiat fortifikasi gizi untuk membangun ekosistem yang lebih kuat. "Saya yakin dengan acara hari ini, permasalahan teknis maupun nonteknis bisa kita diskusikan bersama sehingga dapat diatasi," harap Nina.

(Husen Miftahudin)