Kebun Raya Bogor Hadirkan Wisata Edukasi Berbasis Pengalaman

Pengunjung mengikuti kelas edukasi di Kebun Raya, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin, 10 Agustus 2026. ANTARA/M Fikri Setiawan

Kebun Raya Bogor Hadirkan Wisata Edukasi Berbasis Pengalaman

Silvana Febiari • 10 August 2026 18:38

Bogor: Kebun Raya Bogor mengembangkan wisata edukasi berbasis pengalaman dengan mengajak pengunjung mengenal tumbuhan dan lingkungan. Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kelas dan praktik langsung.

General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya Zaenal Arifin mengatakan konsep tersebut dikembangkan untuk memperluas fungsi kebun raya sebagai ruang interaksi masyarakat dengan alam.

“Kebun Raya bukan hanya tempat untuk melihat dan menikmati koleksi tumbuhan. Di sini masyarakat juga dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan tumbuhan melalui berbagai aktivitas,” kata Zaenal, dilansir dari Antara, Senin, 10 Agustus 2026.
 


Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi tumbuhan.

Kebun Raya Bogor menyediakan sejumlah kelas edukasi, antara lain pembuatan kompos, propagasi tanaman buah atau mencangkok, tanaman buah dalam pot (tabulampot), kokedama, Nepenthes, terrarium, Platycerium, kultur jaringan, Oshibana, dan ecoprint.

Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi mengenai tumbuhan, tetapi juga melakukan praktik dengan pendampingan fasilitator. Pendekatan berbasis pengalaman membuat proses pembelajaran mengenai tumbuhan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pengunjung dapat mengetahui secara langsung proses memperbanyak dan merawat tumbuhan hingga memanfaatkannya menjadi produk kreatif.

“Ketika seseorang terlibat langsung dalam sebuah proses, pengalaman belajarnya akan berbeda. Karena itu, kelas-kelas ini kami rancang agar peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencoba dan menghasilkan sesuatu dari proses tersebut,” ujarnya.


Pengunjung berwisata di Kebun Raya, Kota Bogor, Jawa Barat. ANTARA/HO-PT MNR

Salah satu aktivitas yang dikembangkan adalah Oshibana, yakni seni membuat karya dari bunga dan dedaunan yang dikeringkan dengan teknik tekan atau press. Peserta mempelajari teknik dasarnya lalu langsung mempraktikkannya menggunakan material tumbuhan yang disediakan.

Nama Oshibana berasal dari bahasa Jepang, yaitu oshi yang berarti ditekan dan bana yang berarti bunga. Bunga dan daun yang telah dikeringkan kemudian disusun menjadi karya seni dengan tetap mempertahankan bentuk serta warna alaminya.

Aktivitas tersebut juga digunakan untuk melatih kreativitas, ketelitian, fokus, dan kesabaran peserta dalam menyusun material tumbuhan menjadi sebuah komposisi.

Program edukasi tersebut terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat. Mulai dari anak-anak, keluarga, pelajar, mahasiswa hingga komunitas.

Konsep serupa juga diterapkan di kebun raya lain yang dikelola PT Mitra Natura Raya sebagai mitra strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program disesuaikan dengan karakteristik serta koleksi tumbuhan masing-masing kebun raya.

Pengembangan kegiatan tersebut diharapkan membuat kunjungan masyarakat ke kebun raya tidak hanya menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga kesempatan mengenal keanekaragaman hayati dan memahami pentingnya konservasi.

“Pada akhirnya, kami ingin masyarakat pulang dari Kebun Raya tidak hanya membawa foto atau hasil karya, tetapi juga membawa pengetahuan dan pengalaman baru tentang tumbuhan,” ungkap Zaenal.

Salah seorang peserta kelas Oshibana, Aurora (15), mengaku mendapatkan pengalaman baru mengenai pengolahan bunga setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya juga suka hal-hal seni visual dan estetika bunga. Setelah mengikuti kelas edukasi ini, saya jadi tahu bagaimana proses menata dan mengawetkan bunga dengan teknik Oshibana,” katanya.

Peserta lainnya, Arsyad, menilai kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melatih kesabaran.

“Seni Oshibana ini unik dan berbeda dari kerajinan tangan pada umumnya. Setelah mengikuti kelas ini, saya jadi tahu cara membuat Oshibana. Selain itu, manfaat yang paling saya rasakan adalah melatih kesabaran,” ujarnya.

(Silvana Febiari)