Pakistan: AS-Iran Makin Dekat Kesepakatan Terkait Selat Hormuz

Ilustrasi negosiasi Amerika Serikat dan Iran. Foto: Anadolu

Pakistan: AS-Iran Makin Dekat Kesepakatan Terkait Selat Hormuz

Fajar Nugraha • 12 August 2026 05:55

Washington: Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan mengenai Selat Hormuz meskipun posisi mereka tetap keras terkait kebuntuan yang berlarut-larut.

Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif pada Selasa 11 Agusutus 2026 mengatakan kepada Bloomberg bahwa Washington dan Teheran "mendekati semacam kesepakatan" terkait selat yang aksesnya hampir tertutup tersebut, yang selama ini menjadi hambatan utama yang menghentikan perundingan antara kedua belah pihak yang berselisih.

Pernyataan tersebut disampaikan saat Menteri Dalam Negeri Pakistan, Mohsin Naqvi, sedang bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran sebagai bagian dari upaya baru Islamabad untuk menyelesaikan kebuntuan terkait Selat Hormuz dan melanjutkan kembali perundingan yang sempat terhenti.

Sumber pemerintah Pakistan mengatakan kepada Anadolu bahwa Naqvi akan menyampaikan "sejumlah usulan baru" kepada para pemimpin Iran untuk menyelesaikan kebuntuan tersebut, yang terus berdampak negatif terhadap ekonomi dan perdagangan global.

Namun, sumber tersebut tidak memberikan rincian mengenai usulan-usulan baru itu.

Naqvi, bersama dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir, telah terlibat aktif dalam proses mediasi.

Asif juga mengatakan bahwa "situasi mulai mengarah pada perdamaian," namun tidak memberikan rincian mengenai adanya terobosan tertentu.

"Sinyal-sinyal dalam dua atau tiga hari terakhir menunjukkan bahwa kita sudah dekat dengan semacam kesepakatan," tambah Asif, seperti dikutip dari Anadolu, Rabu 12 Agustus 2026.

Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pada Selasa bahwa perundingan antara Iran dan Oman mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur pelayaran tertentu telah mencapai "tahap lanjut."

AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni dan memulai negosiasi menuju kesepakatan akhir. Namun, perundingan tersebut kemudian terhenti akibat perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur paling strategis di dunia untuk pasokan energi dan perdagangan global.

Pada 8-24 Juli, AS dan Iran saling melancarkan serangan militer. Washington menyerang target-target di dalam wilayah Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang apa yang mereka sebut sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

(Fajar Nugraha)