Krisis Teluk Memanas saat UEA Putuskan Tarik Pasukan dari Yaman

Konflik di Yaman kembali memanas di pekan-pekan akhir Desember 2025. (Anadolu Agency)

Krisis Teluk Memanas saat UEA Putuskan Tarik Pasukan dari Yaman

Muhammad Reyhansyah • 31 December 2025 14:45

Abu Dhabi: Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa, 30 Desember 2025, menyatakan ajan menarik seluruh sisa pasukannya dari Yaman, setelah Arab Saudi mendukung seruan agar pasukan UEA meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam. Langkah tersebut memperdalam krisis antara dua negara Teluk yang selama ini menjadi produsen minyak utama dan pilar keamanan kawasan.

Beberapa jam sebelum pengumuman penarikan itu, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan udara ke pelabuhan Mukalla di selatan Yaman. Serangan yang menargetkan apa yang disebut Riyadh sebagai pengiriman senjata terkait UEA tersebut menjadi eskalasi paling signifikan sejauh ini dalam memburuknya hubungan kedua monarki Teluk.

Di Washington, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah berbicara dengan para menteri luar negeri Arab Saudi dan UEA mengenai ketegangan di Yaman serta berbagai isu lain yang memengaruhi keamanan Timur Tengah.

Sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait dan Bahrain, menyatakan dukungan terhadap upaya apa pun untuk memperkuat dialog dan mencapai solusi politik. Qatar juga menegaskan bahwa keamanan Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya merupakan “bagian yang tidak terpisahkan” dari keamanannya sendiri.

Perbedaan Kepentingan di Yaman

Dilansir dari AsiaOne, Rabu, 31 Desember 2025, Arab Saudi dan UEA yang sebelumnya menjadi dua pilar utama keamanan regional, dalam beberapa tahun terakhir kian menunjukkan perbedaan kepentingan, mulai dari kebijakan kuota minyak hingga pengaruh geopolitik.

Kementerian Pertahanan UEA menyatakan pihaknya secara sukarela mengakhiri misi unit kontra-terorisme di Yaman, yang merupakan satu-satunya pasukan UEA yang masih berada di sana setelah negara itu secara resmi mengakhiri kehadiran militernya pada 2019.

Kementerian tersebut menjelaskan bahwa misi yang tersisa hanya melibatkan “personel khusus dalam kerangka upaya kontra-terorisme, bekerja sama dengan mitra internasional terkait.” Dalam pernyataannya, yang dikutip kantor berita resmi WAM, disebutkan bahwa perkembangan terbaru mendorong dilakukannya penilaian menyeluruh.

Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi menuduh UEA menekan Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) Yaman untuk bergerak menuju wilayah perbatasan kerajaan, dan menyebut keamanan nasionalnya sebagai “garis merah.”

Bahasa keras tersebut menjadi yang paling tegas dalam perselisihan antara kedua negara bertetangga, yang sebelumnya bekerja sama dalam koalisi melawan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran, namun kini kepentingan mereka di Yaman semakin menjauh.

Penarikan sisa pasukan UEA diperkirakan dapat meredakan ketegangan dalam jangka pendek. Namun, masih muncul pertanyaan apakah Abu Dhabi akan tetap mendukung STC.

Tuduhan Saudi Picu Eskalasi

Arab Saudi, melalui koalisi yang dipimpinnya, terus mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Kabinet Saudi menyatakan harapannya agar UEA menghentikan seluruh bantuan militer maupun finansial kepada STC.

Koalisi tersebut mengebom apa yang disebut sebagai dermaga yang digunakan untuk menyediakan dukungan militer asing kepada kelompok separatis. Rashad al-Alimi, ketua Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi, memberikan tenggat 24 jam kepada pasukan UEA untuk meninggalkan wilayah Yaman.

UEA menyatakan terkejut atas serangan udara tersebut dan menegaskan bahwa pengiriman yang dipermasalahkan tidak berisi senjata serta ditujukan bagi pasukan UEA. Namun, UEA menambahkan bahwa pihaknya menginginkan solusi “yang mencegah eskalasi, berdasarkan fakta yang dapat dipercaya dan koordinasi yang telah ada.”

Koalisi pimpinan Saudi menyebut pengiriman dari UEA ke pelabuhan Mukalla membawa kontainer berisi senjata dan amunisi, serta mengklaim memiliki informasi bahwa persenjataan tersebut akan didistribusikan ke sejumlah lokasi di wilayah Hadramout.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Alimi mengatakan telah “dipastikan secara definitif bahwa Uni Emirat Arab menekan dan mengarahkan STC untuk merongrong dan memberontak terhadap otoritas negara melalui eskalasi militer,” sebagaimana dikutip kantor berita negara Yaman.

OPEC Tertekan Sengketa Teluk

Arab Saudi dan UEA sama-sama merupakan pemain kunci dalam kelompok pengekspor minyak OPEC. Ketidaksepakatan di antara keduanya berpotensi menghambat konsensus mengenai kebijakan produksi minyak.

Kedua negara, bersama enam anggota OPEC+ lainnya, dijadwalkan menggelar pertemuan daring pada Minggu. Para delegasi OPEC+ menyebut kebijakan mempertahankan produksi kuartal pertama tanpa perubahan kemungkinan akan diperpanjang.

Di pasar keuangan, indeks saham utama di kawasan Teluk tercatat mengalami penurunan.

Dinamika Koalisi Saudi-UEA

UEA merupakan anggota koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi sejak 2015. Pada 2019, UEA mulai menarik pasukannya, namun tetap menyatakan komitmen terhadap pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

STC kemudian memutuskan mengejar pemerintahan sendiri di wilayah selatan, dan bulan ini melancarkan ofensif terhadap pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi. Serangan tersebut memecah kebuntuan selama bertahun-tahun, dengan STC mengabaikan peringatan Saudi dan mengklaim kendali luas atas wilayah selatan, termasuk provinsi Hadramout.

Serangan udara pada Selasa itu menyusul kedatangan dua kapal dari pelabuhan Fujairah di UEA pada Sabtu dan Minggu tanpa otorisasi koalisi, menurut pernyataan koalisi. Kantor berita negara Arab Saudi merilis video kapal yang diidentifikasi sebagai “Greenland” dan menyebut adanya pembongkaran senjata serta kendaraan tempur. 

Pemilik dan operator terdaftar kapal tersebut adalah Salem Al Makrani Cargo Company yang berbasis di Dubai, dengan cabang di Fujairah, berdasarkan situs perusahaan. Reuters menyatakan belum dapat menghubungi perusahaan tersebut untuk dimintai komentar.

Koalisi menyebut serangan itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan tambahan. Dua sumber mengatakan kepada Reuters bahwa target serangan adalah dermaga tempat kargo dibongkar. Reuters juga menyebut belum dapat memverifikasi secara independen apa yang sebenarnya terkena serangan maupun asal dan jenis muatan tersebut.

Televisi pemerintah Yaman menayangkan gambar asap hitam membubung dari pelabuhan pada dini hari, disertai kendaraan yang terbakar. Alimi kemudian mengumumkan zona larangan terbang serta blokade laut dan darat di seluruh pelabuhan dan perlintasan selama 72 jam.

Sementara itu, Aidarous al-Zubaidi, ketua STC sekaligus wakil ketua Dewan Kepresidenan, dalam pernyataan bersama dengan tiga anggota dewan lainnya mengatakan UEA tetap menjadi mitra utama dalam perang melawan Houthi. Pernyataan tersebut menolak perintah Alimi dan menyebutnya tidak memiliki konsensus.

Baca juga:  Uni Emirat Arab Resmi Tarik Seluruh Pasukan Militer dari Yaman

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)