Sumpah dengan Al-Quran, Zohran Mamdani Resmi Dilantik sebagai Wali Kota New York

Zohran Mamdani resmi dilantik sebagai Wali Kota New York. Foto: The New York Times

Sumpah dengan Al-Quran, Zohran Mamdani Resmi Dilantik sebagai Wali Kota New York

Muhammad Reyhansyah • 1 January 2026 15:31

New York: Zohran Mamdani, politisi sosialis demokrat yang mengusung janji mengatasi krisis keterjangkauan hidup di salah satu kota termahal di Amerika Serikat (AS), resmi dilantik sebagai Wali Kota New York ke-112 pada Kamis, 1 Januari 2026.

Mamdani, imigran berusia 34 tahun asal Uganda, mencatatkan sejarah sebagai wali kota Muslim pertama, wali kota keturunan Asia Selatan pertama, sekaligus wali kota termuda yang memimpin New York dalam lebih dari satu abad terakhir.

“Ini benar-benar kehormatan dan privilese terbesar dalam hidup saya,” ujar Mamdani sesaat setelah mengucapkan sumpah jabatan.
 

Baca Juga :

Zohran Mamdani Akan Diambil Sumpah sebagai Wali Kota dengan Al-Quran

Mantan anggota majelis negara bagian dari Queens itu menarik perhatian dunia internasional setelah memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada musim panas lalu. 

Kemenangannya mengejutkan banyak kalangan di internal partai, terutama karena kampanyenya berfokus kuat pada isu keterjangkauan hidup. Ia berjanji membangun program penitipan anak universal, membekukan sewa bagi sekitar dua juta penyewa rumah dengan status sewa terkendali, serta menjadikan bus kota “cepat dan gratis”.

Pelantikan Mamdani berlangsung sesaat setelah tengah malam dalam sebuah upacara tertutup yang dihadiri istrinya, seniman Rama Duwaji. Kedua orang tuanya, sineas Mira Nair dan Mahmood Mamdani yang merupakan profesor di Universitas Columbia, turut hadir dalam acara tersebut.

Mengutip CNN, Kamis, 1 Desember 2025, Jaksa Agung Negara Bagian New York, Letitia James yang oleh Mamdani disebut sebagai “inspirasi politik” memimpin pengambilan sumpah jabatan. Lokasi pelantikan dipilih secara simbolik, yakni di peron bekas Stasiun Balai Kota lama yang berada di bawah City Hall Park, Manhattan. 

Stasiun bersejarah ini dikenal dengan langit-langit berubin melengkung, kaca patri berwarna, serta lampu gantung kuningan, dan telah ditutup sejak 1945.

Stasiun tersebut merupakan salah satu dari 28 stasiun kereta bawah tanah pertama New York yang dibuka pada 1904, menandai awal era pertumbuhan dan inovasi kota. Usai pelantikan, Mamdani menekankan makna lokasi tersebut dengan menyebutnya sebagai “bukti pentingnya transportasi publik bagi vitalitas, kesehatan, dan warisan kota ini”.

Dalam kesempatan yang sama, Mamdani mengumumkan penunjukan Michael Flynn, perencana kota berpengalaman, sebagai Komisaris Departemen Transportasi New York yang baru. Transportasi publik menjadi pilar utama agenda Mamdani. Selain rencana menggratiskan bus kota, ia juga berkomitmen memperluas jaringan jalur sepeda dan menata ulang jalan agar lebih ramah bagi pejalan kaki.

Upacara pelantikan terbuka untuk publik dijadwalkan berlangsung Kamis siang di City Hall Plaza dan diperkirakan dihadiri sedikitnya 4.000 orang. Anggota DPR AS Alexandria Ocasio-Cortez akan memperkenalkan Mamdani, sementara sumpah jabatan publik akan dipimpin oleh Senator independen Vermont, Bernie Sanders.

Selain itu, tim transisi Mamdani juga menggelar acara blok pesta bertajuk “Inauguration of a New Era” di sepanjang Broadway, dengan para pendukung berkumpul di sekitar Balai Kota.

Meski demikian, agenda ambisius Mamdani memunculkan sejumlah keraguan. Rencananya untuk mengenakan pajak lebih tinggi kepada kelompok kaya demi membiayai program-program sosial membutuhkan dukungan legislatif negara bagian serta gubernur. 

Mamdani juga mulai menjabat di tengah kondisi ekonomi kota yang relatif kuat, namun tekanan biaya hidup masih dirasakan berat oleh warga kelas pekerja.

Awal pemerintahan Mamdani berlangsung bersamaan dengan upaya Partai Demokrat di tingkat nasional untuk mendefinisikan ulang arah politiknya di tengah basis pemilih yang terbelah. Kemenangan Mamdani memicu perdebatan internal mengenai apakah partai perlu bergerak lebih ke kiri dan menjadikan isu keterjangkauan hidup sebagai fokus utama menjelang pemilu paruh waktu mendatang.

Sumpah di atas Al-Qur’an

Ketika diambil sumpahnya, Zohran Mamdani meletakan tangannya di atas  Al-Qur’an. Tonggak sejarah ini -,serta Al-Quran bersejarah yang digunakannya untuk upacara tersebut,- mencerminkan populasi Muslim yang telah lama ada dan dinamis di kota terpadat di negara ini, menurut seorang cendekiawan yang membantu istri Mamdani, Rama Duwaji, memilih salah satu kitab tersebut.

Sebagian besar pendahulu Mamdani dilantik dengan menggunakan Alkitab, meskipun sumpah untuk menegakkan konstitusi federal, negara bagian, dan kota tidak mengharuskan penggunaan teks keagamaan apa pun.

Meskipun ia sangat fokus pada isu keterjangkauan selama kampanyenya, Mamdani secara terbuka menyatakan keyakinannya sebagai seorang Muslim. Ia sering muncul di masjid-masjid di kelima wilayah kota New York saat ia membangun basis dukungan yang mencakup banyak pemilih Asia Selatan dan Muslim yang baru pertama kali memberikan suara.

Mamdani akan meletakkan tangannya di atas dua Al-Quran selama upacara di kereta bawah tanah, dan yang ketiga selama upacara selanjutnya di Balai Kota pada hari pertama tahun ini. Dua di antaranya milik kakek dan neneknya. Yang ketiga adalah manuskrip berukuran saku yang berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19 yang merupakan bagian dari koleksi Pusat Penelitian Budaya Kulit Hitam Schomburg di Perpustakaan Umum New York.

Al-Quran itu melambangkan keragaman dan jangkauan umat Muslim di kota itu, kata Hiba Abid, kurator Studi Timur Tengah dan Islam di Perpustakaan Umum New York.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)